Saving Memoir

No more update after 1 December 2011 | moved to maktubat.wordpress.com

Archive for the tag “Ramadhan”

Selamat Menyambut Ramadan 1432H

Ramadan oh Ramadan !

Daku amat merindui kedatanganmu!

Selamat Menyambut Ramadan kepada semua !

عن ‏ ‏أبي هريرة ‏ ‏رضي الله عنه ‏
‏أن رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏قال ‏ ‏من قام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه ‏

Dari Abu Hurairah (r.a) bahwa Rasulullah (S.A.W) bersabda: “Barangsiapa yang mendirikan Ramadan dengan penuh keimanan dan keazaman, telah diampunkan baginya dosa-dosa yang telah lalu” [riwayat Bukhari dalam Fathul Bari]

Kejarl tawaran-tawaran hebat dalam bulan Ramadan dan ingat beberapa code untuk mendapat puasa yang lebih sempurna…

Berinteraksi Dengan Al Quran di Bulan Ramadan

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

Bulan Ramadan yang padanya diturunkan Al-Quran, menjadi petunjuk bagi sekalian manusia, dan menjadi keterangan-keterangan yang menjelaskan petunjuk dan (menjelaskan) perbezaan antara yang benar dengan yang salah….[Al-Baqarah:185]

Ramadan bulan dimana wahyu pertama diturunkan, pada bulan Ramadan kita amat digalakkan untuk memperbanyak bacaan Al Qur’an, kitab yang memberi hidayah dan petunjuk. Kalau boleh, kita tidak hanya membaca Al Qur’an, bahkan cuba memahaminya, mengamalkannya serta menyebarkan ajaran yang terkandung didalamnya. Alhamdulillah, aku sudah berjaya memulakan langkahku untuk menghafal Al Qur’an disamping cuba untuk mentadabbur maknanya. Walaupun aku sudah 22 tahun, tapi bagi aku tiada istilah terlambat untuk memulakan sesuatu yang baik, mungkin bagi mereka yang sudah pun menghafal 30 juz Al Qur’an apalah sangat  yang gempak kalau setakat baru nak mula menghafal. Namun bagi aku, tiada perkataan yang mampu menggambarkan keni’matan menghafal ayat-ayat Allah.  Jika anda yang membaca artikel ini masih belum menghafal Al Qur’an atau belum ada keinginan untuk berbuat demikian, diharapkan perkongsian ini mampu memupuk minat ke arah yang lebih baik. Jadikan Ramadan kali ini sebagai titik permulaan ke arah kehidupan yang lebih bermakna sebagai hamba Allah dengan menghafal kalam-Nya.

Rebutlah peluang Ramadan kali ini dengan meningkatkan interaksi kita dengan Al Qur’an, artikel kali ini adalah tulisan sahabatku  Khalifah Muhammad Ali, dialah sahabat yang memberikan inspirasi dan motivasi kepada aku untuk menghafal Al Qur’an, hanya Allah yang mampu membalas budi-baik beliau. Artikel tulisan beliau aku edit sikit (dengan izin) supaya sesuai dengan gaya bahasa Malaysia. الحمدلله ثم الحمد لله

Bagaimana cara berinteraksi dengan Al Qur’an?

Sejarah membuktikan bahwa kejayaan Islam pada masa lalu disebabkan Ummat Islam memiliki interaksi yang baik dengan Al Qur’an. Sejarah juga membuktikan bahwa keruntuhan kejayaan Islam disebabkan jauhnya Ummat Islam dari Al Qur’an. Menjadikan Al Qur’an sebagai pedoman akan membawa kepada kemuliaan, sedangkan meninggalkannya akan mengakibatkan kehinaan. Saat ini, kondisi Ummat Islam sedang jauh dari Al Qur’an. Hanya sedikit orang Islam yang mampu membaca Al Qur’an dengan betul. Hanya sedikit orang Islam yang memahami Al Qur’an. Yang mengamalkannnya? Pasti jumlahnya jauh lebih sedikit lagi. Bahkan, telah banyak orang Islam yang meninggalkan Al Qur’an. Jangankan untuk menghafalkannya dan memahaminya, membacanya saja mereka sudah tidak berminat lagi. Benarlah keluhan Nabi saw kepada Allah swt yang termaktub dalam Al Qur’an

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَـٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا

Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, Sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan, ditinggalkan”. [Al Furqan: 30]

Jauhnya Ummat Islam dari Al Qur’an mengakibatkan Ummat Islam terjerumus ke dalam lumpur kehinaan. Lihat saja di Malaysia, tidak ramai ummat Islam yang boleh dikategorikan sebagai mereka yang berjaya dan cemerlang dalam pencapaian mereka baik dari sudut pendidikan, kemasyarakatan, apatah lagi dalam ekonomi. Begitu juga dengan saudara kita di Indonesia, sebagai negara muslim terbesar di dunia, orang Islam digambarkan dengan imej miskin dan tertinggal. Kerana itu, jika ingin bangkit, maka tidak ada pilihan lain kecuali kembali kepada Al Qur’an.

Kembali kepada Al Qur’an bererti kita harus memperbaiki interaksi kita dengan Al Qur’an. Jadi, bagaimana cara berinteraksi dengan Al Qur’an? Berinteraksi dengan Al Qur’an tidaklah sulit. Kerana pada dasarnya berinteraksi dengan Al Qur’an adalah mudah, sebagaimana yang telah Allah janjikan dalam surah Al Qamar: 17, 22, 32.

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ

Dan Demi sesungguhnya! Kami telah mudahkan Al-Quran untuk menjadi peringatan dan pengajaran, maka adakah sesiapa yang mahu mengambil peringatan dan pelajaran (daripadanya)?

Cukuplah 5 (lima) perkara yang perlu dilakukan untuk berinteraksi dengan Al Qur’an, yaitu: membacanya, memahaminya, mengamalkannya, menghafalkannya, dan mendakwahkannya.

1. Membaca Al Qur’an

Membaca Al Qur’an adalah kunci untuk memahami Al Qur’an. Tanpa kemampuan membaca Al Qur’an dengan baik, mustahil bagi seseorang untuk dapat memahami Al Qur’an dengan baik. Ketidakmampuan membaca Al Qur’an dengan baik akan menyebabkan kurang sempurnanya ibadah solat seseorang. Oleh sebab itu, hukum membaca Al Qur’an dengan betul adalah wajib. Selain itu, membaca Al Qur’an dengan betul dan lancar merupakan salah satu ciri baiknya keimanan sesesorang.

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ أُولَـٰئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ ۗ وَمَن يَكْفُرْ بِهِ فَأُولَـٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Orang-orang yang telah Kami berikan Al Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. Dan barang siapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. [Al Baqarah: 121]

Bagi yang masih belum mampu membaca Al Qur’an, maka segeralah belajar membacanya dan memperelokkan bacaannya. Jangan sampai kita diejek sebagai “Ummatu Iqra’ laa taqra”, yaitu ummat yang wahyu pertamanya “bacalah”, tapi tidak boleh membaca kitabnya sendiri. Bagi yang sudah mampu membaca Al Qur’an dengan betul dan elok, maka bacalah Al Qur’an minimal 1 juz setiap harinya. Berdasarkan hadis:

Abdullah bin Amr r.a. berkata: Nabi saw. bersabda: Bacalah (khatamkan bacaan) Al-Qur’an dalam masa sebulan. Jawabku: Aku merasa kuat, sehingga Nabi saw. bersabda: Bacalah (khatamkan) dalam tujuh hari jangan kurang dari itu. (Bukhari & Muslim)

2. Memahami Al Qur’an

Orang yang pandai membaca Al Qur’an tapi tidak memahaminya seperti burung kakak tua yang pandai berkata-kata tapi tidak faham apa yang diucapkan oleh mulutnya sendiri. Memahami Al Qur’an dapat dilakukan dengan mengikuti pengajian tafsir Al Qur’an ataupun membaca kitab-kitab tafsir yang sudah banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu. Namun demikian cara ideal untuk memahami Al Qur’an adalah dengan cara mempelajari bahasa Arab. Bahkan banyak ulama yang mewajibkan belajar bahasa Arab. Berdasarkan kaedah usul fiqh,

مَا لا يتمُّ الواجب الاَّ به فهو واجب

“Perkara yang tanpanya kewajiban menjadi tidak sempurna, maka perkara itu menjadi wajib”.

Kerana pemahaman Al Qur’an tidak akan sempurna tanpa bahasa Arab, maka hukum belajar bahasa Arab menjadi wajib. Saudaraku kaum muslimin, tidak ada istilah terlambat untuk belajar bahasa Arab. Bagi yang belum berkesempatan belajar bahasa Arab, berdoalah kepada Allah SWT, semoga diberikan kesempatan untuk mempelajarinya suatu saat nanti, insya Allah.

3. Mengamalkan Al Qur’an

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللَّـهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

Patutkah mereka (bersikap demikian), tidak mahu memikirkan isi Al-Quran? kalaulah Al-Quran itu (datangnya) bukan dari sisi Allah, nescaya mereka akan dapati perselisihan Yang banyak di dalamnya. [ An-Nisa’ : 82]

Membaca dan memahami Al Qur’an saja tidaklah bermanfaat tanpa mengamalkannya.

—————-

Namanya Bairuha’. Begitu indah dan memikat hati. Sejuk, rimbun, luas, menghadap ke masjid Nabawi di Madinah. Dan yang menjadikannya lebih istimewa lagi adalah kerana Rasulullah s.a.w yang mulia pernah memasukinya kemudian meminum airnya yang sejuk. Bairuha’ adalah nama sebuah kebun kurma yang sangat dicintai Abu Thalhah, pemiliknya. Tapi tiba-tiba kebun yang begitu berprestij, lokasinya strategik dan mempunyai nilai sejarah yang tinggi itu menjadi tak bernilai sama sekali di mata Abu Thalhah ketika turun ayat berikut: “ Kalian sekali-kali tidak akan mencapai kebaikan, sebelum kalian menafkahkan dari sesuatu yang kalian cintai ” (Q.S. Ali Imran: 92) Sebaik mendengar ayat di atas, Abu Thalhah segera bergegas menuju Rasulullah kemudian dengan serta merta menyerahkan Bairuha’ beserta segala isinya kepada Rasulullah untuk dipergunakan sebagaimana apa yang diperintahkan Allah kepadanya. Rasulullah yang bijak memuji tindakan Abu Thalhah ini tetapi menyarankan agar Bairuha’ dibagi saja kepada kerabat Abu Thalhah yang lebih memerlukan. Maka dibagikanlah kebun itu kepada kerabat dan sepupu-sepupu Abu Thalhah yang jumlahnya sekitar 70 orang. Masing-masing mendapatkan 200 pohon kurma! Kisah ini diriwayatkan oleh sahabat Anas ra dan dicantumkan oleh Imam Nawawi dalam Bab ke-37 Riyadhus Shalihin yang ditulisnya. Cerita dan lokasi Bairuha’ telah dihuraikan dalam entri Cinta Bersemi di Maninah Al-Munawwarah

——————————

Kisah di atas memberikan gambaran bagaimana patuhnya para sahabat terhadap perintah-perintah Allah yang terdapat dalam Al Qur’an. Mereka mendengar dan mereka taat (سمعنا واطعنا). Inilah salah satu ciri orang beriman seperti digambarkan didalam ayat 285, surah Al Baqarah :

Rasul telah beriman kepada Al Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeza-bezakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat”. (Mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali”.

Sebaliknya salah satu ciri dari orang kafir adalah ketika mendengar Al Qur’an lalu mereka ingkar ( سمعنا وعصينا) [Al Baqarah: 93]

dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkat bukit (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): “Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah!” mereka menjawab: “Kami mendengar tetapi tidak mentaati”. dan telah diresapkan ke dalam hati mereka itu (kecintaan menyembah) anak lembu kerana kekafirannya. Katakanlah: “Amat jahat perbuatan yang telah diperintahkan imanmu kepadamu jika betul kamu beriman (kepada Taurat).

Respon yang luar biasa terhadap Al Qur’an yang telah ditunjukkan oleh para sahabat merupakan bukti kebenaran iman. Kerana, iman tidak hanya dilafazkan dengan lisan, tapi juga diyakini oleh hati dan DIAMALKAN dalam perbuatan. Dan sesungguhnya, sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak mengamalkan ayat-ayat Allah SWT. Berdasarkan hadis:

“Sebaik-baik kamu adalah yang belajar Al Qur’an dan YANG MENGAMALKANNYA” (HR Bukhari)

Sesungguhnya Nabi Muhammad SAW telah menunjukkan contoh teladan yang mulia, sehingga beliau digambarkan oleh isterinya Aisyah r.a sebagai, “Kaana khuluquhul Qur’an” (Al Qur’an yang berjalan).

4. Menghafal Al Qur’an

Banyak hadis Rasulullah saw yang mendorong untuk menghafal Al Qur’an, sehingga hati seorang individu muslim tidak kosong dari sesuatu bagian dari kitab Allah swt. Seperti dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas (r.a),

“Orang yang tidak mempunyai hafalan Al Qur’an sedikit pun adalah seperti rumah buruk yang akan runtuh.” (HR. Tirmidzi)

Berikut adalah Fadhail Hifzhul Qur’an (Keutamaan menghafal Qur’an) yang dijelaskan Allah dan Rasul-Nya, agar kita lebih ghairah dan bermotivasi untuk menghafal Al Qur’an.

Fadhail Dunia

1. Hifzhul Qur’an merupakan nikmat rabbani yang datang dari Allah. Bahkan Allah membolehkan seseorang memiliki rasa iri hati terhadap para ahlul Qur’an, “Tidak boleh seseorang berkeinginan kecuali dalam dua perkara, menginginkan seseorang yang diajarkan oleh Allah kepadanya Al Qur’an kemudian ia membacanya sepanjang malam dan siang, sehingga tetangganya mendengar bacaannya, kemudian ia berkata, ‘Andaikan aku diberi sebagaimana si fulan diberi, sehingga aku dapat berbuat sebagaimana si fulan berbuat’” (HR. Bukhari).

Bahkan ni’mat mampu menghafal Al Qur’an sama dengan ni’mat kenabian, bezanya dia tidak mendapat wahyu, “Barangsiapa yang membaca (hafal) Al Qur’an, maka sungguh dirinya telah menaiki darjat kenabian, hanya saja tidak diwahyukan kepadanya.” (HR. Hakim)

2. Al Qur’an menjanjikan kebaikan, berkah, dan kenikmatan bagi penghafalnya “Yang terbaik dikalangan kamu adalah yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya” (HR. Bukhari dan Muslim)

3. Seorang hafizh Al Qur’an adalah orang yang mendapat tasyrif nabawi (penghargaan khusus dari Nabi SAW). Di antara penghargaan yang pernah diberikan Nabi SAW kepada para sahabat penghafal Al Qur’an adalah perhatian yang khusus kepada para syuhada Uhud yang hafizh Al Qur’an. Nabi saw mendahulukan pemakamannya. “Adalah nabi mengumpulkan di antara dua orang syuhada Uhud kemudian beliau bersabda, “Manakah di antara keduanya yang lebih banyak hafal Al Qur’an, ketika ditunjuk kepada salah satunya, maka beliau mendahulukan pemakamannya di liang lahad.” (HR. Bukhari).

Pada kesempatan lain, Nabi SAW memberikan amanat pada para hafizh dengan mengangkatnya sebagai pemimpin delegasi. Dari Abu Hurairah ia berkata, “Telah mengutus Rasulullah SAW sebuah delegasi yang banyak jumlahnya, kemudian Rasul menguji hafalan mereka, kemudian satu per satu disuruh membaca apa yang sudah dihafal, maka sampailah pada sahabat yang paling muda usianya, beliau bertanya, “Surah apa yang kau hafal? Ia menjawab,”Aku hafal surah ini, surath ini, dan surah Al Baqarah.” Benarkah kamu hafal surah Al Baqarah?” Tanya Nabi lagi. Shahabi menjawab, “Benar.” Nabi bersabda, “Berangkatlah kamu dan kamulah pemimpin delegasi.” (HR. At-Turmudzi dan An-Nasa’i).

Kepada hafizh Al Qur’an, Rasul SAW menetapkan berhak menjadi imam solat berjama’ah. Rasulullah SAW bersabda, “Yang menjadi imam suatu kaum adalah yang paling banyak hafalannya.” (HR. Muslim)

4. Hafizh Qur’an adalah keluarga Allah yang berada di atas bumi. “Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia, para sahabat bertanya, “Siapakah mereka ya Rasulullah?” Rasul menjawab, “Para ahli Al Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan pilihan-pilihan-Nya.” (HR. Ahmad).

5. Menghormati seorang hafizh Al Qur’an bererti mengagungkan Allah. “Sesungguhnya termasuk mengagungkan Allah menghormati orang tua yang muslim, penghafal Al Qur’an yang tidak melampaui batas (di dalam mengamalkan dan memahaminya) dan tidak menjauhinya (enggan membaca dan mengamalkannya) dan Penguasa yang adil.” (HR. Abu Daud)

Fadhail Akhirat

1. Al Qur’an akan menjadi penolong (syafa’at) bagi penghafalnya. Dari Abi Umamah ra. ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Bacalah olehmu Al Qur’an, sesungguhnya ia akan menjadi pemberi syafa’at pada hari kiamat bagi para pembacanya (penghafalnya).” (HR. Muslim)

2. Hifzhul Qur’an akan meninggikan darjat manusia di syurga. Dari Abdillah bin Amr bin ‘Ash dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Akan dikatakan kepada shahib Al Qur’an, “Bacalah dan naiklah serta tartilkan sebagaimana engkau dulu mentartilkan Al Qur’an di dunia, sesungguhnya kedudukanmu di akhir ayat yang kau baca.” (HR. Abu Daud dan Turmudzi).

Para ulama menjelaskan erti shahib Al Qur’an adalah orang yang hafal semuanya atau sebagiannya, selalu membaca dan mentadabur serta mengamalkan isinya dan berakhlak sesuai dengan tuntunannya.

3. Para penghafal Al Qur’an bersama para malaikat yang mulia dan taat. “Dan perumpamaan orang yang membaca Al Qur’an (sedangkan ia hafal ayat-ayatnya) bersama para malaikat yang mulia dan taat.” (Muttafaqun’alaih)

4. Bagi para penghafal kehormatan berupa tajul karamah (mahkota kemuliaan). Mereka akan dipanggil, “Dimana orang-orang yang tidak terlena oleh menggembala kambing dari membaca kitabku?” Maka berdirilah mereka dan dipakaikan kepada salah seorang mereka mahkota kemuliaan, diberikan kepadanya kejayaan dengan tangan kanan dan kekekalan dengan tangan kirinya. (HR. At-Tabrani)

5. Kedua orang tua penghafal Al Qur’an mendapat kemuliaan. “Siapa yang membaca Al Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, “Mengapa kami dipakaikan jubah ini?” Dijawab,”Kerana kamu berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Qur’an.” (HR. Al-Hakim)

6. Penghafal Al Qur’an adalah orang yang paling banyak mendapat pahala. Untuk sampai pada tahap hafalan yang berkekalan tanpa ada yang lupa, seseorang perlu melakukan pengulangan yang banyak, baik ketika sedang atau selesai menghafal. Dan begitulah sepanjang hayatnya sampai bertemu dengan Allah. Allah telah menjanjikan pahala untuk setiap huruf Al Qur’an yang dibaca. “Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al Qur’an maka baginya satu hasanah, dan hasanah itu akan dilipatgandakan sepuluh kali. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf, namun Alif itu satu huruf, Lam satu huruf dan Mim satu huruf.” (HR. At-Turmudzi)

5. Mendakwahkan Al Qur’an

Jika seseorang telah pandai membaca Al Qur’an, mampu memahaminya, mengamalkannya, dan menghafalkannya, maka insya Allah Allah dia telah menjadi orang yang soleh secara peribadi. Namun kesolehan peribadi tentu saja belum cukup, harus diiringi dengan kesolehan secara sosial. Kerana itu, menjadi wajib baginya untuk mendakwahkan Al Qur’an. Kerana, pada dasarnya hukum berdakwah adalah wajib bagi setiap mukmin

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. [An Nahl: 125]

Selain itu, sesungguhnya orang yang hanya ingin soleh untuk dirinya sendiri maka dia termasuk orang yang rugi, Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasihat menasihati atas kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran (Al Ashr: 2-3)

Wallahua’lam

Khalifah Muhammad Ali

Mahasiswa Mahad Khadim Al Haramain Asy Syarifain (LIPIA), Banda Aceh

19 Mac 2010/3 Rabiul Akhir 1431 H. Jam 10.09 a.m

Sucikan Dirimu Untuk Ramadan

Sedarkah kita 20 hari lagi kita akan menyambut Ramadan Kareem?  Sudah 9 hari Syaaban singgah dalam kalendar hidup kita sebagai Muslim. Sudah 9 hari? Apakah kita meraikan kedatangan Syaaban sebagaimana yang dituntut oleh sunnah Rasulullah S.A.W ? Sama-samalah kita muhasabah bersama, saling ingat-mengingati sesama Muslim. Kedatangan Syaaban sangat penting bagi Muslim yang beriman kerana tanpa Syaaban kita tidak akan menemui Ramadan. Syaaban ibarat pengawal pintu istana Ramadan yang menjanjikan 1001 kenikmatan & ganjaran bagi mereka yang memasukinya dengan penuh keimanan dan ketaqwaan.

Sama-samalah kita muhasabah dosa-dosa yang telah kita lakukan sepanjang tahun ini, Syaaban merupakan waktu yang tepat untuk kita bertaubat dari semua dosa yang telah berlalu kerana hanya jiwa yang bersih dan suci saja mampu menggapai ganjaran Ramadan secara maksimum. Hanya dengan diri dan jiwa yang suci dari dosa dan noda akan mampu beristiqamah melakukan amal ibadat pada bulan Ramadan.

Sesetengah ulama’ ada berkata :

” Rejab adalah bulan menabur benih, Syaaban bulan menyiram subur semaian, manakala Ramadan bulan menuai hasil”.

Kata-kata itu menepati sunnah Rasulullah yang menggandakan amal ibadat apabila tiba bulan Rejab dan Syaaban, kemuncaknya pada Ramadan. Seperti diriwayatkan dalam hadis berikut :

Daripada Usamah bin Zaid r.a. bahawa dia telah bertanya Nabi sallallahu alaihi wasallam: “Ya Rasulallah, saya tidak pernah melihat tuan berpuasa dalam mana-mana bulan sebagaimana tuan berpuasa dalam bulan Syaaban.” Baginda menjelaskan (maksudnya): “Bulan ini manusia lupa tentangnya kerana ia terletakdi antara Rajab dan Ramadan. Sedangkan Syaaban adalah bulan diangkat amalan-amalan ke hadapan Tuhan Rab al-’alamin. Maka aku suka amalanku diangkat ketika aku sedang berpuasa.” – riwayat At-Tirmizi dan an-Nasa’i

Jom kita hidupkan sunnah Rasulullah pada bulan Syaaban dengan memperbanyak puasa sunat, aku yang menulis ini pun masih belum melakukannya natijah hidup yang berpandukan pada kalendar Kristian sedang kalendar Islam diabaikan sampai kemuliaan Bulan-bulan Islam hampir luput dari kehidupan Muslim hari ini. Namun masih ada beberapa hari berbaki untuk berpuasa sunat sebelum masuk hari ke-15 pada Bulan Syaaban. Kita tidak digalakkan berpuasa sunat selepas hari ke-15 sebagaimana mafhum dari hadis berikut :

Daripada Abu Hurairah (r.a) katanya Rasulullah S.A.W bersabda : ” Apabila tinggal separuh Syaaban janganlah kamu semua berpuasa.” riwayat At-Tirmidzi

Namun bagi mereka yang menjadikan puasa sunat Isnin dan Khamis, tiada halangan bagi mereka untuk meneruskannya kerana itu sudah menjadi habit mereka. Ada ulama’ berpendapat bahawa hikmah kita tidak digalakkan berpuasa selepas 15hb Syaaban untuk mengelak orang yang tidak biasa melakukan puasa sunat merasa letih apabila mengerjakan puasa wajib pada bulan Ramadan yang bakal muncul selepas Syaaban.

Bagi mempersiapkan diri untuk menghadapi Ramadan, aku ingin kongsi sedikit persiapan menyambut Ramadan. Tulisan ini hanya sebagai update version bagi post yang terdahulu dalam tajuk Bersedia Menghadapi Ramadan

Persediaan Ruhiyah ( Spiritual )

Persiapan spiritual dapat dilakukan dengan memperbanyak ibadah, seperti memperbanyak membaca Al-Qur’an, puasa sunnah (Rejab & Sha’aban), dzikir, do’a dll. Dalam hal mempersiapkan spiritual diri, Rasulullah shalallahu‘alaihi wa sallam menunjukkan contoh dan teladan kepada umatnya dengan memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, sebagaimana yang diriwayatkan ‘Aisyah ra. berkata:

“Saya tidak melihat Rasulullah shalallahu‘alaihi wa sallam menyempurnakan puasanya, kecuali di bulan Ramadhan. Dan saya tidak melihat dalam satu bulan yang lebih banyak puasanya kecuali pada bulan Sya’ban” (HR Muslim).

Persiapan Mental

Persiapan mental untuk puasa dan ibadah yang berkaitan amatlah penting tertutamanya pada akhir Ramadhan yang dijanjikan kebebasan dari api neraka. Apatah lagi pada bulan ini secara abnormal normalnya rakyat Malaysia kita sibuk dengan persiapan menghadapi hari raya (sedangkan mereka sepatutnya tertumpu pada amal ibadah bukannya kedai2) ini lah bila Melayu sudah lupa…lupa dengan pepatah rekaan sendiri, apa dia ?

“Yang dikendong berciciran yang dikejar tak dapat “

setengah orang kita ni sebulan sebelum Ramadhan dah tempah baju raya sedangkan persiapan untuk puasa entah ke mana. Perkara-perkara picisan macam ni la yang memberi kesan negatif kepada umat Islam dalam mencapai kekhusyukan ibadah Ramadhan. Walhal, kejayaan ibadah Ramadhan seorang muslim dilihat dari akhirnya. Jika akhirRamadhan diisi dengan i’tikaf dan taqarrub yang lainnya, maka insya Allah dia termasuk dikalangan mereka yang berjaya dalam melaksanakan ibadah Ramadhan.

Ibn Taimiyyah pernah berkata : “Yang dilihat bukanlah kecacatan pada permulaannya tapi kesempurnaan pada akhirnya”

Awas ! jangan salah guna kata-kata Ibnu Taimiyyah itu untuk tidak melakukan persiapan lebih awal terutamanya pada bulan Syaaban. Jika anda membaca tulisan ini pada pertengahan Ramadan, YA anda boleh menggunakan kata hikmah Ibnu Taimiyyah itu sebagai motivasi.

Persiapan Fikriyyah ( Pemikiran )

Persiapan fikriyah atau akal fikiran dapat dilakukan dengan mendalami ilmu, khususnya ilmu yang berkaitan dengan ibadah Ramadhan. Banyak orang yang berpuasa tidak mendapat manfaat apapun  kecuali lapar dan dahaga. Hal ini dilakukan kerana puasanya tidak dilandasi dengan ilmu yang cukup dan mantap. Seorang yang beramal tanpa ilmu, maka tidak akan menghasilkan apa-apa  kecuali sia-sia belaka. Bak kata Imam Shafi’e (rahimahullah) :

” Ilmu tanpa amal, gila. Beramal tanpa ilmu tidak akan menjadi”

Persiapan Fizikal dan Material

Seorang muslim tidak akan mampu atau beroptimum dalam berpuasa jika fizikalnya sakit. Oleh kerana itu mereka dituntut untuk menjaga kesihatan fizikal, kebersihan rumah, masjid dan persekitaran. Rasulullah menunjuk contoh yang baik kepada umat agar walaupun berpuasa kita juga mesti prihatin pada kesihatan diri.  Hal ini dapat dilihat dari beberapa peristiwa di bawah ini :

• Memberus gigi dengan siwak (HR. Bukhori dan Abu Daud).
• Berubat seperti dengan berbekam (Al-Hijamah) seperti yang diriwayatkan Bukhori dan Muslim.
• Menitik-beratkan penampilan, seperti pernah diwasiatkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam
kepada sahabat Abdullah ibnu Mas’ud ra, agar memulai puasa dengan penampilan yang baik dan
tidak dengan wajah yang lesu. (HR. Al-Haitsami).

Perkara lain yang harus disiapkan adalah material yang halal untuk bekal ibadah Ramadhan. Idealnya seorang muslim telah menabung selama 11 bulan sebagai bekal ibadah Ramadhan. Sehingga ketika datang Ramadhan, dia dapat beribadah secara khusyu’ dan tidak berlebihan dalam mencari harta atau kegiatan lain yang mengganggu kekhusyukan ibadah Ramadhan. Alah…Ramadhan sebulan setahun je kut, takkan tak dapat rehat sekejap??? daripada dapat duit yang banyak hasil jualan pada bulan Ramadhan tapi rahmah, pahala dan kelebihan Ramadhan semuanya fail, baik tak payah hidup atas bumi Allah ni. Tapi kalau dapat kedua-duanya sekali lagi bagus…hehehe.

Apa yang penting, sebelum Ramadhan kita hendaklah memperbanyak doa supaya diberi ketabahan, kecekalan , keazaman dan ketaqwaan pada bulan Ramadhan apatah lagi bila menjelmanya Ramadhan.Moga bermanfaat dan mendapat kerahmatan, keampunan dan pembebasan dari azab Neraka….serta mendapat Lailatul Qadr..Ramadhan Kareem !!!

Spirit of Ramadan

Cinta Bersemi di Madinah Al-Munawwarah

“Belum pernah kami mendengar mahar kahwin yang lebih mahal dan bernilai dari mahar kahwin Ummu Sulaim, (iaitu Abu Talhah memeluk Islam)”

Itu lah kata-kata penduduk Madinah apabila ditanya pasal Abu Talhah (r.a).

Abu Talhah memeluk Islam sebelum berlakunya peristiwa hijrah lagi. Bahkan Abu Talhah dan isterinya Ummu Sulaim termasuk dalam kumpulan 70 orang yang berbaiat dengan Rasulullah di ‘Aqabah. Itulah Abu Talhah, salah seorang sahabat Rasulullah s.a.w yang bukan sahaja terkenal dengan kisah cintanya pada isterinya Ummu Sulaim, bahkan cintanya terhadap Rasulullah lebih agung daripada cintanya pada isterinya Ummu Sulaim.

Dari Anas (r.a), katanya : ” Abu Talhah adalah seorang dari golongan kaum Ansar di Madinah yang paling banyak hartanya, terdiri daripada kebun kurma. Di antara harta-hartanya itu yang paling disayangi olehnya ialah kebun kurmanya, Bairuha’. Kebun ini letaknya menghadap ke arah masjid Nabawi di Madinah. Rasulullah s.a.w. suka memasukinya dan minum dari sumber airnya yang nyaman dan bersih.” Anas berkata: ” Ketika ayat ini turun

لن تنالوا البر حتى تنفقوا مما تحبون

yang bererti : “Kamu semua tidak akan memperoleh kebajikan sehingga kamu semua suka menafkahkan dari sesuatu apa yang kamu semua cintai”- surah ali-imran : 92.

maka Abu Talhah berdiri menuju ke tempat Rasulullah s.a.w lalu berkata : ” Ya Rasulullah ! sesungguhnya Allah ta’ala berfirman : “Kamu semua tidak akan memperoleh kebajikan sehingga kamu semua suka menafkahkan dari sesuatu apa yang kamu semua cintai”. Sedang hartaku yang paling aku cintai adalah kebun kurma Bairuha’, maka sesungguhnya kebun itu aku sedekahkan untuk kepentingan agama Allah Ta’ala. Aku mengharapkan kebajikannya serta simpanan di akhirat disisi Allah. Maka dari itu gunalah kebun tu ya Rasulullah, sebagaimana yang Allah beritahu kepada tuan.”

kemudian Rasulullah s.a.w bersabda : ” Aduh, yang demikian itu adalah merupakan harta yang banyak keuntungannya, berlipat ganda pahalanya bagi yang bersedekah, betul-betul harta yang banyak keuntungan. Aku telah mendengar apa yang engkau ucapkan dan sesungguhnya aku berpendapat supaya kebun itu engkau berikan kepada kaum keluargamu (sebagai sedekah)”

Abu Talhah berkata: ” Aku akan melaksanakannya ya Rasulullah”. Selanjutnya Abu Talhah membahagi-bahagikan kebun Bairuha’ itu kepada keluarganya serta sepupu-sepupunya. – muttafaqun ‘alaihi

Hadis yang panjang di atas rasanya sudah mencukupi untuk menceritakan peribadi mulia sahabat Rasulullah yang bernama Zaid Bin Sahl al-Najjary al-Anshory atau lebih terkenal sebagai Abu Talhah (r.a). Betapa tingginya keimanan dan ketaqwaan beliau apabila sebaik sahaja mendengar akan ayat Allah itu, terus dia berkejaran menemui Rasulullah untuk menginfaqkan hartanya pada jalan Allah, tanpa berfikir untuk kali kedua atau tanpa perlu berbincang dengan keluarganya.

Begitu hebat keyakinan para sahabat terhadap janji-janji Allah yang tidak ada keraguan padanya. Bagaimana dengan keadaan diri kita pada hari ini? adakah harta yang kita dapat hasil pemberian Allah telah kita belanjakan dengan betul dan baik?

Persoalannya, sedarkah kita bahawa harta yang kita peroleh hasil kerja kita adalah milik Allah secara MUTLAK? – sama-sama kita renungi !

Bulan ramadhan sudah hampir tiba hanya tinggal lebih kurang 1 bulan lebih saja lagi. Bulan dimana setiap Muslim digalakkan untuk menggandakan amalan kebajikan termasuklah bersedekah. Ringan-ringankan tangan menghulur bantuan kepada yang memerlukan kerana tangan yang memberi adalah lebih baik dari tangan yang menerima. Oleh itu memang tak salah kata-kata Ustaz Hasrizal, hidup untuk memberi !

Lokasi Bairuha’

Dimanakah lokasi sebenar kebun kurma Bairuha’ milik Abu Talhah pada zaman sekarang?

Lima buah kubah biru melambangkan keagungan cinta Abu Talhah kepada Rasulullah

Ulama’ telah bersepakat bahawa lokasi Bairuha’ adalah kawasan dimana dibinanya 5 buah kubah biru di bahagian utara/belakang Masjid Nabawi sekarang. Jika anda ke Masjid Nabawi, apabila memasukinya dari bahagian belakang melalui pintu yang terletak dibawah 5 buah kubah ini, maka ingatlah yang anda sedang berdiri didalam kebun kurma Bairuha’ milik Abu Talhah. Kebun ini jugalah tempat yang selalu disinggah oleh Rasulullah untuk memakan kurma dan minum air dari sumber air yang terdapat didalam Bairuha’, sumber air yang paling bersih di Madinah suatu ketika dahulu. Namun semua itu hanya tinggal kenangan, apa yang penting ambillah semangat Abu Talhah yang bersegera menyahut seruan Allah dan Rasulnya sekaligus membuktikan betapa agungnya cintanya pada Islam.

Anda bertuah jika anda membaca coretan ini sebelum anda menjejak kaki ke bumi Madinah, sekurang-kurangnya selain sejarah rasulullah, anda juga mampu mengenang keagungan cinta para sahabat terhadap rasulullah. Aku yang menulis posting ini pun tidak mengetahui kisah disebalik 5 buah kubah biru itu ketika aku menjejakkan kaki ke Masjid Nabawi 5 tahun yang lalu. Dengan penghayatan kita terhadap sirah perjuangan para sahabat akan memberi kesan yang lebih bermakna kepada iman dan taqwa apabila melalui kawasan-kawasan yang ada nostalgianya disisi Islam.

Sedikit Pengajaran dari Hadis

1. Hadis di atas menunjukkan bahawa Muslim yang Mu’min akan bersegera menyahut seruan Allah dan Rasulnya.

2. Bersedekah memang amalan yang amat digalakkan tapi seharusnya sedekah itu diberikan dahulu kepada kaum keluarga yang terdekat, kemudian barulah kepada orang miskin, ibnu sabil dan lain-lain.

3. Amal kebajikan kita didunia ini adalah untuk simpanan kita di akhirat.

4. Bersedekah atau memberi sesuatu pada orang lain haruslah memberi apa yang kita sayang bukan apa yang kita tidak mahu milikinya. Lihat la sikap Abu Talhah dengan menyedekahkan kebun kurma yang paling disayanginya dan yang paling berharga. Bagaimana dengan kita? takkan duit RM 50 pun dah rasa banyak? Abu Talhah bukan setakat RM50, kalau nak dikira nilai kebun kurmanya itu mungkin melebihi ratusan ribu ringgit jika dibandingkan dengan nilai sekarang. Itupun tanpa berfikir dan berbincang terlebih dahulu. Sedekah secara spontan!

Semoga bermanfaat bagi mereka yang masih belum mengetahuinya ! dan sebagai tazkirah buat mereka yang sudah mengetahuinya!

** hadis di atas diambil dari Riyadus Sholihin karya Imam Nawawi (rahimahullah) dalam باب الانفاق مما يحب ومن الجيد .

Eid Mubarak !!

Rasanya belum terlewat posting kali ini sempena hari raya fitrah ni..huhu…Ramadhan telahpun berlalu…aku tak tahu apa kesannya ramadhan kali ini pada diriku. Bagi aku, diri ini masih belum berjaya sepenuhnya menempuh Ramadhan lalu. Astaghfirullah…..aku pohon kan keampunan dari Mu ya Allah !!

eid2

Apa yang pasti….yang lepas tu lepas la. Apa yang telah berlalu itu dijadikan panduan untuk menjalani kehidupan hari ini dan memacu kehidupan masa depan kearah yang lebih baik. Kerahmatan dan keistimewaan bulan Ramadhan masih lagi boleh dirasai kerana Islam menghadiahkan pula Puasa Sunat 6 hari di bulan Syawal kepada umatnya sebagai kesinambungan Ramadhan. ( pasal ni aku ingin juga komen tapi insha Allah dalam entri yang lain)

Raya tahun ni juga la berlakunya detik bersejarah dalam hidup aku dimana aku dapat bertemu dengan lebih kurang 1400 orang saudara-mara yang berasal daripada DNA yang sama. Hari keluarga yang pertama kali aku sertai ini amat berharga…letih pun ada juga sebab aku kena jadi ajk majlis ni dan raya pada tahun ni adalah raya yang paling sibuk sehinggakan tak sempat nak berziarah ke rumah saudara mara yang lain..maklumlah keluarga aku ni BESAR. 1400 orang tu baru sebelah ibu tak campur lagi sebelah ayah…bayangkan kalau kita dapat mengeratkan silaturrahim dengan 1400 org tu…imagine sendiri je la. Networking is important for entrepreneur….hahaha tu pesan lecturer entreprenuer aku…subjek yang aku pun tak tahu boring ke tak.

Hari raya ke-5 barulah aku ada masa untuk sahabat dan kawan-kawan…tu pun baru 5 orang je aku jumpa. memang suit la…aku jumpa 5 orang kawan pada hari raya ke-5…hahaha. Ingatkan aku dapat jumpa 6 orang kawan pada raya ke-6, rupa-rupanya Allah menghadiahkan aku seorang sahabat yang mampu menggantikan bukan setakat 6 orang bahkan 10 orang kawan pun boleh. Sahabat aku ni datang beraya kat rumah aku dengan family dia sekali..tau2 rupanya kami ni bersaudara…Alhamdulillah.. banyak betul waris aku ni. Aku rasa nak sebut je nama sahabat aku ni, nama dia Muhammad Hazim b. Hushim, student Medic kat USIM. Manalah tahu kot2 ada orang yang kenal dia baca entri ni…hehehe.. Ini lah semangat ukhuwwah yang diterapkan Islam, datang beraya rumah kawan tanpa perlu dijemput !. tak semestinya time raya je, hari-hari biasa pun amat digalakkan. Ziarah adalah budaya yang perlu dihidupkan kembali dalam masyarakat kita. Tapi janganlah kerap sangat ziarah ke sebuah rumah….bila kerap sangat akan timbul rasa jemu pulak…manalah tahu masa kita berziarah tu bukan masa yang sesuai bagi tuan rumah. Kalau jarang-jarang datang mungkin lain persepsi tuan rumah walaupun pada masa yang tak sesuai…tapi kalau dah kerap sangat tak ke naik menyampah tuan rumah tu..hehehe. Bagaimanapun kita jangan lupa pesanRasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam :

Jarang-jarangkanlah nescaya bertambah kasih-sayang…

Itu je la pesanku pada diri ku kali ini… ingatkan nak taip pendek je, tengok2 panjang juga jadinya…

Ramadan Al-Mubarak !

اهلا رمضان

Alhamdulillah….today ( 20 August 2009/29 Shaaban 1430 ) where the Ru’yatul Hilal or Moonsighting performed in Malaysia and the result is Muslim in Malaysia will be fasting on Saturday, 22 August 2009. That result due to invisibility of Hilal at Malaysia thus the authority decide to follow hisab or calculation of Hijri Calendar. Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam said :

” Fasting when you see the Hilal and celebrate the Eid when see the Hilal, if you do not see the Hilal ( hilal is invisible at your place ) you have to complete the 30 days of Shaaban “

Hilal is quite difficult to see in the country like Malaysia which have cloudy sky that will prevent the observer from seeing the Hilal. So that, Malaysia always have 30 days of Shaaban and also Ramadan. It’s rarely or it could be say that you are lucky if you find 29 days of Shaaban or Ramadhan, but this year Insha Allah Malaysia will have 29 days of Ramadan. Yeah !!! we will celebrate the Eid-ul-Fitr earlier than past year ( that sounds stupid ! ).

With the blessing month of Ramadan just coming to us, let us improve ourselves performing the ‘ibadah during Ramadan and pray to Allah for the sake of forgiveness and ‘itqun mina Narr (freedom from the Hell Fire). Our prophet, Muhammad Sallallahu ‘alaihi wasallam encourage us to pray with the Dua’ below :

دعاء

May Allah will grant us His bountiful of rahmah and maghfirah or blessing and forgiveness !  Happy Ramadan to all my brothers and sisters in Islam !

Bersedia Menghadapi Ramadhan ??

لااله ال الله

Alhamdulillah….hanya beberapa hari saja lagi kita akan menyambut bulan yang barokah, keberkatan, kerahmatan dan segala jenis sifat kebaikan yang boleh disandarkan pada bulan yang teramat mulia ini, RAMADHAN AL-MUBARAK !

Rasulullah S.A.W , para sahabat dan salafus soleh menyambut kedatangan Ramadhan dengan penuh kegembiraan dan harapan yang menggunung tinggi demi memperoleh keredhaan dan rahmah daripada Rabbul Jaleel. Mereka mempersiapkan diri mereka seawal dari bulan Rejab lagi sebagai persediaan menyambut Ramadhan. Namun bagaimana dengan sikap kita hari ini?? Rasanya beberapa hari sebelum Ramadhan barulah sedar dan tergopoh-gapah mempersiapkan diri dengan amal ma’aruf wa nahyu ‘anil munkar , itu mereka yang sempat sedar. Macam mana dengan mereka yang kurang sedar, kurang peka, langsung tak peduli dengan Ramadhan malah lebih teruk lagi mereka yang sudah memikirkan “strategi-strategi” untuk menambah energy secara haram disiang hari ???

Aku yang menulis kat blog ni pun bukanlah orang yang betul-betul bersedia untuk menghadapi ramadhan, sedar memang sedar tapi bila nafsu bertakhta dihati …..habis lingkup. Itu baru jihad menentang nafsu, dahpun tewas walaupun pernah menang beberapa kali. Dengan baki hari yang berbaki tak sampai 5 hari pun lagi, aku rasa elok jugalah aku berkongsi sedikit ilmu  yang baru aku baca dan download dari internet. Apa yang perlu kita persiapkan untuk menghadapi Ramadhan ??

Antaranya ialah :

Persiapan Mental

Persiapan mental untuk puasa dan ibadah yang berkaitan amatlah penting tertutamanya pada akhir Ramadhan yang dijanjikan kebebasan dari api neraka. Apatah lagi pada bulan ini secara abnormal normalnya rakyat Malaysia kita sibuk dengan persiapan menghadapi hari raya (sedangkan mereka sepatutnya tertumpu pada amal ibadah bukannya kedai2) ini lah bila Melayu sudah lupa…lupa dengan pepatah rekaan sendiri, apa dia ?

“Yang dikendong berciciran yang dikejar tak dapat “

setengah orang kita ni sebulan sebelum Ramadhan dah tempah baju raya sedangkan persiapan untuk puasa entah ke mana. Perkara-perkara picisan macam ni la yang memberi kesan negatif kepada umat Islam dalam menunaikan kekhusyukan ibadah Ramadhan. Walhal, kejayaan ibadah Ramadhan seorang muslim dilihat dari akhirnya. Jika akhirRamadhan diisi dengan i’tikaf dan taqarrub yang lainnya, maka insya Allah dia termasuk dikalangan mereka yang berjaya dalam melaksanakan ibadah Ramadhan.

Ibn Taimiyyah pernah berkata : “Yang dilihat bukanlah kecacatan pada permulaannya tapi kesempurnaan pada akhirnya”

Persediaan Ruhiyah ( Spiritual )

Persiapan spiritual dapat dilakukan dengan memperbanyak ibadah, seperti memperbanyak membaca Al-Qur’an, puasa sunnah (Rejab & Sha’aban), dzikir, do’a dll. Dalam hal mempersiapkan spiritual diri, Rasulullah shalallahu‘alaihi wa sallam menunjukkan contoh dan teladan kepada umatnya dengan memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, sebagaimana yang diriwayatkan ‘Aisyah ra. berkata:

“Saya tidak melihat Rasulullah shalallahu‘alaihi wa sallam menyempurnakan puasanya, kecuali di bulan Ramadhan. Dan saya tidak melihat dalam satu bulan yang lebih banyak puasanya kecuali pada bulan Sya’ban” (HR Muslim).

Tapi, untuk kali ni rasanya dah tak sempat lah bagi mereka yang belum berpuasa sunat. Ramadhan pun 2-3 hari je lagi nak datang, kalau rasa rugi tu rugilah. Nak buat macam mana, salah diri kita yang tidak prihatin pada agama sendiri. Padan muka !! aku pun padan juga sebab kalau nak dikira berapa hari sangatlah aku berpuasa ( puasa sunat la ) . Next time, mungkin aku patut postkan entri ni sebulan sebelum Ramadhan.

Persiapan Fikriyyah ( Pemikiran )

Persiapan fikriyah atau akal fikiran dapat dilakukan dengan mendalami ilmu, khususnya ilmu yang berkaitan dengan ibadah Ramadhan. Banyak orang yang berpuasa tidak mendapat manfaat apapun  kecuali lapar dan dahaga. Hal ini dilakukan kerana puasanya tidak dilandasi dengan ilmu yang cukup dan mantap. Seorang yang beramal tanpa ilmu, maka tidak akan menghasilkan apa-apa  kecuali sia-sia belaka. Bak kata Imam Shafi’e (rahimahullah) :

” Ilmu tanpa amal, gila. Beramal tanpa ilmu tidak akan menjadi”

Persiapan Fizikal dan Material

Seorang muslim tidak akan mampu atau beroptimum dalam berpuasa jika fizikalnya sakit. Oleh kerana itu mereka dituntut untuk menjaga kesihatan fizikal, kebersihan rumah, masjid dan persekitaran. Rasulullah menunjuk contoh yang baik kepada umat agar walaupun berpuasa kita juga mesti prihatin pada kesihatan diri.  Hal ini dapat dilihat dari beberapa peristiwa di bawah ini :

• Memberus gigi dengan siwak (HR. Bukhori dan Abu Daud).
• Berubat seperti dengan berbekam (Al-Hijamah) seperti yang diriwayatkan Bukhori dan Muslim.
• Menitik-beratkan penampilan, seperti pernah diwasiatkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam
kepada sahabat Abdullah ibnu Mas’ud ra, agar memulai puasa dengan penampilan yang baik dan
tidak dengan wajah yang lesu. (HR. Al-Haitsami).

Perkara lain yang harus disiapkan adalah material yang halal untuk bekal ibadah Ramadhan. Idealnya seorang muslim telah menabung selama 11 bulan sebagai bekal ibadah Ramadhan. Sehingga ketika datang Ramadhan, dia dapat beribadah secara khusu’ dan tidak berlebihan dalam mencari harta atau kegiatan lain yang mengganggu kekhusyukan ibadah Ramadhan. Alah…Ramadhan sebulan setahun je kut, takkan tak dapat rehat sekejap??? daripada dapat duit yang banyak hasil jualan pada bulan Ramadhan tapi rahmah, pahala dan kelebihan Ramadhan semuanya fail, baik tak payah hidup atas bumi Allah ni. Tapi kalau dapat kedua-duanya sekali lagi bagus…hehehe.

Apa yang penting, sebelum Ramadhan kita hendaklah memperbanyak doa supaya diberi ketabahan, kecekalan , keazaman dan ketaqwaan pada bulan Ramadhan apatah lagi bila menjelmanya Ramadhan… doa dalam video ni boleh juga membantu….training aids la katakan…hahaha. Moga bermanfaat dan mendapat kerahmatan, keampunan dan pembebasan dari azab Neraka….serta mendapat Lailatul Qadr..Ramadhan Kareem !!! ( jangan lupa tinggalkan komen yang berguna…heheh)



Post Navigation

%d bloggers like this: