Saving Memoir

No more update after 1 December 2011 | moved to maktubat.wordpress.com

Archive for the tag “motivasi”

The Happiest People

pic by leighfie on devianART


وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّـهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“And those who strive for Us – We will surely guide them to Our ways. And indeed, Allah is with the doers of good. ” Al-Quran [29:69]

♣  ♣  ♣

“ There is no succes without hardships and initial setbacks. If it was so easy, anyone could have done it. Remember that no one has ever learnt anything from a succes. It’s our failure that teach us.”

♣  ♣  ♣

“It is one of the strange ironies of this strange life [that] those who work the hardest, who subject themselves to the strictest discipline, who give up certain pleasurable things in order to achieve a goal, are the happiest people”
~ Brutus Hamilton

Advertisements

Yakinlah ! Yakinlah pada-Nya

Dah lama tak update blog ni.Terlalu banyak perkara yang perlu aku settlekan. Nenek aku meninggal, pastu dpt offer untuk sambung pengajian. Buat keputusan on the spot sebab takde masa terluang untuk berfik dengan tenang, hanya mengikut kata hati. Bila dah sambung belajar, sibuk dengan registration, assignment bertimbun walaupun baru 2 minggu kat sini Dah 4 presentation. wireless connection kat sini plak cam sial. Apapun, bersyukurlah apa yang ada serta bersabar terhadap ujian yang dihadapi.

Kali ini, aku nak kongsi artikel je la. Tak sempat nak tulis sendiri.

Yakinlah ! Yakinlah kepadaNya.

Author: Lhinblue alfayruz

Kunci tauhid itu satu: YAKIN.

YAKIN bahwa hanya Allah yang Maha Kuasa terhadap apa yang terjadi di dunia ini
YAKIN bahwa apapun yang terjadi pada diri kita, itu semua dikehendaki oleh Allah
YAKIN bahwa Allah menghendaki kebaikan dan keburukan yang menimpa diri kita dengan suatu tujuan
YAKIN bahwa dalam setiap kejadian yang menimpa kita, itulah keputusan terbaik dari-NYA setelah ikhtiar terbaik yang kita lakukan
YAKIN bahwa doa maupun jeritan hati kita didengar oleh Allah karena DIA begitu dekat
YAKIN bahwa doa adalah senjata ampuh kaum mukmin

Setelah mengikuti acara UI Bertauhid yang diisi oleh KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) sebagai contemplation akhir tahun Masehi, yang diadakan pada Selasa, 28 Desember 2010, di Masjid Ukhuwah Islamiyah, Universitas Indonesia, Depok, aku menjadi semakin yakin bahwa memang keyakinan terhadap Rabb itulah yang membuat hidup seseorang menjadi tenang. Jika mendapatkan ujian kesulitan, bersabarlah sedangkan jika mendapatkan ujian kenikmatan maka bersyukurlah. Ya! Memang seharusnya dua hal itulah yang dilakukan kaum mukmin dalam menjalani roda kehidupan ini: bersabar dan bersyukur. Apapun yang terjadi pada diri kita, semua itu dikehendaki oleh Allah. So, jangan pernah takut menjalani hidup, ada Allah Yang Maha Besar dan Maha Kuasa. Mintalah padaNYA niscaya DIA akan mendengarkan segala pinta.

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ”Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (QS. Al-Ankabut: 2-3)

Sejatinya, hidup ini adalah sebuah perjalanan dari satu ujian menuju ujian berikutnya. Entah itu berupa ujian kesulitan maupun ujian kenikmatan. Setiap kita yang mengaku beriman tidak akan dibiarkan begitu saja, masing-masing diri kita akan diuji sesuai kadarnya masing-masing, bahkan Allah akan menguji di titik terlemah kita. Ujian itulah yang akan membuktikan keimanan kita, apakah kita benar-benar beriman atau hanya mengaku beriman padahal ternyata keimanan kita hanyalah dusta.

Selepas dari kajian Aa Gym ini, aku langsung mendapatkan ujian berkaitan dengan keyakinan pada Allah.

Di suatu siang, di sebuah auditorium FIB UI, ketika aku sedang berada di acara yang dihadiri Puan Asma Nadia sebagai pembicara, di tengah-tengah asyik memperhatikan isi acara tentang dunia kepenulisan dan perfilman, ada sms datang di layar HPku:

”Lhin, bahan-bahan qta di almari lab ga ada.. cuma tertinggal benzil klorida. Semuanya udah pd dibuangin ke bakul sampah..”

Segera kubalas: ”ya ampuunn.. itu kan ada ionic liquids yang harganya mahal banget.. aduuuhh,, gmana ini?? Kamu tlg cari2 dulu di bak sampahnya ya..”

”Udah aku cari-cari n obrak abrik tong sampah akhir,, tapi gak ketemu Lhin..aku udh mau pingsan niih rasanya..”

Aku langsung teringat bahan berhargaku, bahan penelitian yang begitu butuh perjuangan untuk mendapatkannya. Ionic liquids [BMIM] PF6 yang bernilai 3.5 juta rupiah (RM 1183) hanya untuk 5 gram, yang harus didapatkan dari Singapura, yang harus menunggu waktu yang lama dalam pemesanannya. Ya Allah! Padahal penelitianku sudah usai dan tinggal menunggu sidang, kenapa masih ada masalah dengan bahan berhargaku itu??

Hatiku dag dig dug dan segera aku tinggalkan auditorium FIB UI untuk menuju gedung Departemen Kimia UI. Ya! Segera kutinggalkan acara yang sangat menarik itu demi bahan penelitianku yang berharga. Bukan hanya masalah harga yang selangit dari bahan penelitian itu yang membuat hatiku dag dig dug. Ini masalah amanah yang aku pikul, amanah untuk menjaga bahan penelitianku yang sangat berharga, yang diberikan oleh pensyarah pembimbingku. Tak terbayang akan kecewa dan marah besarnya sang pensyarah pembimbing yang telah memberi dana untuk kajianku jika memang ionic liquids itu benar-benar sudah terbuang ke dalam bakul sampah dan hilang begitu saja, padahal aku masih harus menyelesaikan research ini setelah lulus nanti. Tak terbayang, hubungan yang selama ini sudah terjaga keharmonisannya dengan pensyarah pembimbingku harus hancur berantakan ketika mengetahui ionic liquids itu sudah dibuang ke bak sampah akhir di gedung Kimia dan tidak bisa ditemukan atau bahkan sudah pecah dan isinya tercampur dengan sampah-sampah. Tak terbayang jika aku harus mengganti ionic liquids itu yang berharga 3.5 juta-an yang mungkin hanya bisa ditutupi dengan honor mengajarku beberapa bulan lamanya.

Sepanjang perjalanan menuju Departemen Kimia UI, pikiranku dipenuhi berbagai hal yang berkecamuk. Mulai dari membayangkan jika benar-benar tidak ditemukan ionic liquids itu, bagaimana reaksi sang pensyarah pembimbing ketika mengetahuinya, bagaimana aku harus mengganti dan memesan ionic liquids itu kembali, sampai menyalahkan diriku sendiri yang seharusnya mengembalikan segera ionic liquids itu ke pensyarah pembimbingku bahkan sempat terlintas pikiran yang menyalahkan temanku yang menghilangkan kunci almari labku.

Astaghfirullahaladzim. Diri ini mencoba beristighfar berkali-kali, membentengi semua pikiran yang berkecamuk, mencoba berusaha untuk tetap tenang. Segera kumasukkan pikiran-pikiran positif: Lhin, semua yang terjadi pada diri kita, itu pasti dikehendaki Allah. Kejadian seperti inipun Allah yang kehendaki, pasti ada sesuatu yang harus kamu ambil hikmahnya dari kejadian ini. Kalau ionic liquids itu masih jodohmu insya Allah ia akan ditemui, kalaupun dia memang benar-benar hilang atau pecah, ya tentunya memang itulah yang dikehendaki Allah. Masalah wang untuk menggantinya, yakinlah Allah yang akan bukakan jalan. Allah yang menghendaki semua ini, Allah juga yang pasti akan menunjukkan jalan keluarnya. Masalah dengan pensyarah pembimbingmu, beritahu beliau dan selesaikan urusan ini setelah sidang agar moodnya baik-baik saja ketika sidang nanti dan katakan kamu yang akan bertanggung jawab penuh untuk menggantinya dengan memesan kembali ionic liquids itu. Tenang, tenang, yakinlah, yakinlah, yakinlah padaNYA! Semua akan baik-baik saja..

Benar saja, setelah menumbuhkan pikiran-pikiran positif, diri ini pun kembali tenang. Entah kenapa ada jeritan dalam hati ini, ada keyakinan dalam hati: insya Allah ionic liquids itu masih ada dalam bak sampah akhir itu dan masih baik-baik saja.. Ya Allah, temukanlah, kumohon..

Aku pun sampai di gedung Departemen Kimia UI dan langsung menemui bapak yang bertugas membersihkan lab dan tentunya pula yang membuang ionic liquidsku ke dalam bak sampah. Pak Kiri biasa kami memanggilnya. Aku segera meminta tolong padanya untuk ditunjukkan bak sampah dimana beliau membuang semua bahan-bahan kimia dari lab kimia; akan kumasuki bak sampah itu, akan kukais-kais supaya ionic liquidsku ketemu dan mungkin memang itulah ikhtiar terbaik yang harus dilakukan. Beliau pun menunjukkan dan membantu mengorek-ngorek bak sampah tanpa harus kami memasuki bak sampah itu, cukup mengaisnya menggunakan batang kayu yang cukup panjang.

Dikais-kais beberapa lama tak juga ketemu, bahkan bau sampah pun sudah tak tercium lagi di hidungku, mataku terus memperhatikan setiap sampah botol-botol bahan kimia bercampur belatung yang menggeliat ke sana kemari di atas dedaunan. Dalam pencarian itu, hatiku terus berdoa: “Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami ya Rabb.. kumohon. Jangan kau butakan mata kami untuk tidak dapat melihatnya. Ya Allah, kumohon temukanlah mata kami dengan botol keci coklat bertutup merah itu.. ” , jeritku dalam hati berulang-ulang sambil membayangkan botol kecil berwarna coklat dengan tutup merah yang masih utuh ketika aku menemukannya nanti.

Tak berapa lama kemudian, Pak Kiri berteriak: “Yang ini bukan??”
”Iya Pak! Bener Pak! Yang itu! Yang itu! Alhamdulillah..”, sahutku.

Namun kami agak kesulitan untuk mengambilnya karena bak sampah cukup tinggi juga, kira-kira seleherku. Alhamdulillah, saat itu, di sana ada ibu-ibu pemulung. Sungguh, memang Allah lah yang mempertemukan kami di lokasi bak sampah itu. Akhirnya kami meminta tolong padanya untuk mengambilkan botol kecil yang kami cari ke dalam bak sampah itu. Sang ibu pemulung yang memang sudah terbiasa di tempat seperti itu, segera memasuki bak sampah dan mengambil botol ionic liquidsku dan memberikannya kepada Pak Kiri, dan Pak Kiri-lah yang memberikannya kepadaku.

Ketika akhirnya botol kecil itu berada dalam genggamanku..

”Alhamdulillah.. makasih ya Buuuu.. makasih ya Pak..”

Seketika itu pula ketika ucapan itu keluar dari bibirku, airmataku tumpah dan menderas. Ingin rasanya sujud syukur saat itu juga, tapi lokasinya tak memungkinkan. Temanku pun datang, kami berpelukan sambil menangis; sebuah tangisan haru. Tangisan yang menunjukkan betapa tidak berdayanya kami kecuali tanpa pertolongan dari-NYA. Laa hawla walaa quwwata illabillah..

Sambil berpelukan, di lokasi bak sampah itu aku hanya bisa membayangkan aku benar-benar sedang bersujud syukur. Dan temanku pun akhirnya mengajakku ke gedung kimia untuk sujud syukur di sana. Aku bergegas menuju mushalla kimia, kutundukkan diri ini, sujud ke hadapanNYA, dan menangis sejadi-jadinya; ”Ya Allah, Engkau sungguh baik padaku, tapi apa yang selama ini sudah kulakukan dalam ibadah-ibadahku padaMU?? Sering aku lalai dalam mengingatmu duhai Rabb..”

Sungguh, kontemplasi akhir tahun yang sungguh nikmat bagiku dengan hal seperti ini. Ya! Sepertinya Allah memang ingin menunjukkan hal ini, menunjukkan Kuasa-NYA, dan Allah memberikan cara terbaikNYA untuk menegurku.

Semoga sepenggal kisahku ini bisa diambil hikmahnya bahwa kita bukanlah apa-apa dan bukanlah siapa-siapa. Pada dasarnya kita hanyalah manusia biasa yang tidak berkuasa sedikitpun atas kejadian yang menimpa diri kita. Hanya Allah yang berkuasa atas segalanya maka Yakinlah! Yakinlah padaNYA!. Ketika keyakinan itu tumbuh dalam hatimu, insya Allah hidup kita pun akan tenang. Kita takkan pernah takut seberat apapun ujian kesulitan hidup karena kita YAKIN bahwa Allah yang memberikan ujian kesulitan itu.. Allah pula yang akan menunjukkan jalan keluarnya. Kita tidak akan pernah sombong sebesar apapun ujian kenikmatan karena kita YAKIN bahwa kenikmatan yang kita dapatkan itu semata-mata hanya dari Allah.

Tragedi yang Mengajar Erti Kehidupan

Pesanan pertama dan juga muqaddimah dari aku : taatlah pada kedua Ibu & Bapa, ingatlah pada jasa dan bakti mereka kepada kita yang tidak mampu diungkap dengan kata-kata, tak mampu ditulis dengan pena mahupun diluah dalam blog.  Itu saja sudah cukup untuk kita tidak menderhaka pada mereka dalam apa jua keadaan kita.

Hari ini 8 Syawwal 1431H dan juga 8 Syawwal pada tahun-tahun mendatang tetap akan ku kenang sebagai hari pertama “kelahiran semula” aku dan tahun ini 1431H genaplah sudah 1 tahun aku memulakan semula kehidupan yang makin mencabar dengan dugaan dan rintangan yang mungkin bertambah.

Subhanallah ! Alhamdulillah ! Allahu Akbar !

Tragedi  7 Syawwal 1430H bersamaan 27 September 2009M masih segar diingatanku. Aku masih mengingati dengan jelas turutan atau sequence berlakunya tragedy tersebut dari intro – klimaks – ending.  Sungguh besar anugerah Allah padaku pada tarikh tersebut, anugerah yang merobah struktur asas keimanan dan ketaqwaan hambaNya ini. Anugerah yang mencetuskan gelombang tsunami pada oasis qalbu sekaligus melenyapkan mahligai kelalaian dan mencetuskan pembinaan istana syukur, kesyukuran tak terhingga atas segala ni’mat Allah dari sekecil-kecil hingga sebesar-besarnya.

Tragedi 7 Syawwal ?

Kereta Proton Savvy yang dinaiki oleh aku ketika berlakunya kemalangan

Itulah hari aku terlibat dalam kemalangan jalan raya di jalan utama Raub – Bentong pada jam 4.30 a.m. Alhamdulillah accident tu tidaklah sampai mengorbankan mereka yang didalamnya walaupun secara logiknya sepatutnya mengorbankan orang didalam kereta tersebut jika dilihat pada keadaan fisikal kereta itu. Itulah kuasa Allah, taqdir dan iradah(kemahuan) Nya.  Alhamdulillah!

Accident itu menyebabkan aku mengalami kecederaan pada tulang belakang, apa yang disebut sebagai Multilevel Compression pada tulang belakang, juga retak pada L1. Ruas tulang yang terlibat adalah T11, T12 & L1. Ringkas cerita, aku terpaksa menjalani pembedahan untuk memasukkan 2 batang rod titanium & 6 biji screw titanium untuk menyokong dan membantu pemulihan kecederaan tulang belakang.

gambar X-ray tulang belakang selepas operation

Ni’matnya Ujian

Ujian, musibah dan dugaan yang dihadapi dengan penuh kesabaran akan dapat dirasai kenikmatannya. Pada sangkaan kita musibah itu musibah walhal jika kita bersabar dan menghargainya pasti musibah itu bukan musibah tapi satu rahmat dari-Nya sebagai kesedaran dari kelalaian terhadap-Nya. Benarlah kata Allah didalam surah Al- Baqarah: 216 ;

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

dan boleh jadi kamu benci kepada sesuatu padahal ia baik bagi kamu, dan boleh jadi kamu suka kepada sesuatu padahal ia buruk bagi kamu. dan (ingatlah), Allah jualah yang mengetahui (semuanya itu), sedang kamu tidak mengetahuinya.

Indahnya ujian dan musibah itu jika sabar menjadi bentengnya. Sebagaimana yang dinukilkan oleh Dr. Aidh Al-Qarni dalam buku tulisannya Hadaa’iq DZatu Bahjah dimana beliau menulis seperti berikut yang bermaksud :

Saat tak ada lagi sahabat karib yang menghibur, kala tak ada lagi teman yang menemani, tidak juga sahabat yang simpati, maka kesabaran menggantikan posisi mereka semua. Kesabaran mampu berbicara atas nama semua. Kesabaran mampu memenuhi kewajiban sahabat dan kerabat. Kesabaran yang indah tidak ada keluhan didalamnya.

….Sabar yang baik adalah kemampuan menanggung musibah dengan diam, menerima terjahan masalah dengan tenang dan menerima hentaman dengan redha.

Tragedi 7 Syawwal itu mengajar erti kesabaran yang benar pada diri ini. Memang keretakan tulang belakang itu tidaklah begitu sakit, tapi kesan sampingan yang dialami aku selepas menjalani pembedahan begitu menguji kesabaran. Semuanya berlaku dengan kehendak Allah dan aku tidak ingin menyalahkan sesiapapun, kecualilah side effect itu menjejaskan secara total masa depanku (mahu taknya aku saman je..hehe). Side effect itu menyebabkan aku mengalami hyper-sensitive skin pada sebelah kaki kiri. Kena angin pun pedih, kena air rasa macam kulit disiat, apatah lagi bila disentuh….letak je tangan atas kawasan tu pun dah terasa pedihnya belum betul-betul sentuh lagi. Tapak kaki berdenyut-denyut, mencucuk-cucuk rasa seperti kulit kaki disiat dan dikelar bertubi-tubi. Ketika itu tiadalah ucapan yang keluar melainkan pujian & doa pada Allah.

picture by soulflamer of devian art

Allah….Allah…Allah….

Apa sahaja doa dan munajat yang terlintas dalam benak fikiranku terus dituturkan keluar. Tiada lagi sekutu atau syirik bagi Allah, bahkan ungkapan kalimah Allah pada ketika itu begitu terasa dan menusuk qalbu. Pastinya susah untuk mengikhlaskan hati pada tahap 100% pada Allah ketika kita berada dalam keadaan sihat walafiat, ucapan Allah ketika sakit itu begitu berharga bagi mereka yang merasainya. Kenikmatan berdoa, bermunajat dan memuja-muji Allah begitu terasa dikala musibah. Keindahannya tidak dapat dirasai dan digambarkan bagi orang yang senang dan sihat. Saat itulah lafaz Allah dilafazkan dengan begitu ikhlas dan mendalam.

Terlantar di hospital selama 1 bulan memberikan 1001 pengajaran dan ibrah yang begitu bermakna dalam kehidupan aku. Kematian dirasa begitu dekat apabila pesakit sebelah meninggal dunia, dihari yang lain pula pesakit di depan katil aku pula yang meninggal, lusanya pula pesakit satu wad meninggal dunia.

Kehidupan didalam wad juga memberikan kesedaran padaku bahawa begitu ramai saudara seagama yang tidak menunaikan tuntutan asas dalam Islam, SOLAT. Kesemua pesakit dalam wad adalah Muslim namun tidak sampai 10% yang menunaikan solat. Jumlah 10% itu terdiri dari kalangan mereka yang berusia lanjut yang sedar mereka akan meninggalkan dunia ini, itu suasana yang berlaku di Hospital Kota Bharu, Kelantan, negeri yang terkenal dengan penduduknya kuat berpegang pada ajaran Islam. Aku sempat dimasukkan ke dalam wad di Hospital Kuala Lipis, Pahang, lain pula kisahnya. Pakcik tua yang berumur sekitar 70-an yang sakit kaki, begitu gigih memanjat kerusi untuk menukar channel television sedangkan solat diabaikan. Astaghfirullah….hanya itu mampu aku lafazkan melihat gelagat pakcik tua yang masih belum menerima cahaya hidayah dari Allah.

Ini juga satu peringatan buat doktor dan setiap Muslim supaya menjalankan misi dakwah mereka kepada pesakit. Doktor Muslim harus dapat membantu pesakit yang jahil untuk menunaikan solat ketika sakit, itulah pentingnya  doktor Muslim mempunyai ilmu asas Islam yang kukuh. Kebanyakan pesakit beralasan tidak tahu cara bersolat ketika sakit, jahil akan perkara paling ASAS dalam agama, Solat adalah tiang agama. Sebagaimana disebut dalam satu hadis (walaupun statusnya dhoif)

لصَّلاةُ عِمادُ الدِّينِ ، مَنْ أقَامَها فَقدْ أقَامَ الدِّينَ ، وَمنْ هَدمَها فَقَد هَدَمَ الدِّينَ

Solat itu tiang agama, siapa yang mendirikannya maka dia telah mendirikan agama, dan siapa yang mengabaikannya maka dia telah memusnahkan agama.

Cukuplah sedikit perkongsian ini sebagai iktibar kepada kita semua. Jika ingin dikisahkan semua pengajaran yang aku dapat, rasanya mustahil untuk ditulis dengan ringkas di sini. Insya Allah, jika diberikan peluang dan masa, ibrah dari tragedy itu mampu dikongsikan dengan lebih detail. Mungkin bagi sesetengah orang, accident ini tidaklah begitu tragis dan teruk. Namun tidak semua orang mengambil manfaat dari musibah yang dialami mereka. Bagi sesetengah orang, accident yang hampir meragut nyawa dan menyebabkan kecacatan kekal sekalipun belum tentu mampu memberikan impak positif kearah menghampirkan diri pada Allah, meningkatkan keimanan dan ketaqwaan. Sedang bagi mereka yang kadang-kadang hanya terjatuh tangga sudah cukup mengingatkan dia pada Allah.

Dale Carnegie didalam Public Speaking & Influencing Men in Business, menulis bahawa ahli psikologi ada mengatakan :

We learn in two ways : one, by the Law of Exercise, in which a series of similar incidents leads to a change of our behavioral patterns; and two, by the Law of Effect, in which a single event may be so startling as to cause a change in our conduct.

Bagi aku Law of Effect itu lebih baik daripada ditimpa musibah berulang-kali baru nak sedar macam Law of Exercise. Namun semua itu bergantung pada kesedaran dan ikhtiar seseorang untuk lebih hampir pada Allah.  Hadapilah musibah itu dengan penuh sabar sebagaimana sabarnya rasul ulul ‘azmi [ al-Ahqaf:35]

Bersabarlah dengan kesabaran yang elok dan baik [al-Maarij:5] dan ingatlah kata-kata Nabi Yaaqub (a.s) saat memujuk hatinya supaya bersabar atas kehilangan Nabi Yusuf (a.s) :

فَصَبْرٌ جَمِيلٌ ۖ وَاللَّـهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَىٰ مَا تَصِفُونَ

“Bersabarlah Aku Dengan sebaik-baiknya, dan Allah jualah Yang dipohonkan pertolonganNya, mengenai apa Yang kamu katakan itu.” [ Yusuf:18]

**** sila baca perkongsian terdahulu  dalam entri yang lepas Zikir Menguatkan Tulang Belakang

Menghayati Kelabunya Langit Petang

“Apapun yang ada di muka bumi, selalu mempunyai dua sisi berbeza.” Intonasi Latief melandai secara tepat, nada bicaranya mengalir lembut. Selembut maksud namanya.

“Hitam-putih,siang-malam,…” tambah Rizal.

“Ya, positif-negatif.” Sambung Latief melengkapkan kata-kata Rizal yang tergantung. Dia menarik nafas perlahan-lahan dan menghembusnya dalam satu hembusan. “Tapi hidup selalu memerlukan keseimbangan.” Usul Latief kemudian.

“Di antara hitam dan putih, saya pilih kelabu. Di antara siang dan malam, saya pilih petang.” Kata Rizal.

Nonsense! Tak ada option lain ke nak dipilih?” Tanya Latief dengan nada sinis diiringi tawa geli.

“Putih itu lambang kebenaran, hitam itu lambang keburukan. Saya tak tau kenapa mesti ada kelabu. Yang pasti, saya suka dengan kelabu.” Komentar Rizal seolah mengabaikan kata-kata protes dari seniornya.

Tawa geli Latief berhenti seketika saat Rizal melanjutkan percakapan. Dia menatap Rizal yang lebih dulu membelokkan pandangan ke arahnya. Sebuah tatapan tajam, petanda perbualan mereka itu akan menjadi semakin serius.

“Siang itu untuk bekerja, malam itu untuk istirahat. Tapi saya suka suasana petang, Bang.” Tuturnya tanpa ragu. “Tolong beri saya penjelasan, Bang. Kenapa mesti ada kelabu yang saya suka, dan kenapa harus ada petang yang membuat saya merasa tau banyak hal tentang kelmarin, hari ini, bahkan besok?”

Bagai WINAMP player yang baru saja ditekan button pause-nya, Latief membisu. Sekalipun muncul perlahan dan mengatur rapi mengikuti sebuah muqaddimah, pertanyaan Rizal membuatnya diam seribu bahasa, kaku bagai separuh mati tak tahu apa yang harus dijawabnya.


Di dataran perpustakaan yang diteduhi oleh pepohonan, angin bertiup makin kencang. Membunyikan suara bergaduh dari dahan dan daunan pohon yang bertumbuk tanpa aturan. Dedaunan kering tersapu oleh tiupan angin hingga semakin menjauhi Latief dan Rizal yang sedang duduk di tangga perpustakaan. Situasi yang serasi dengan suasana kacau di benak Latief saat berusaha mencari jawapan untuk pertanyaan Rizal. Latief mencuba sekuat tenaga meredakan ketegangan dalam dirinya. Dia menoleh ke kanan dan tampaklah bayangan pohon yang terpapar dari cahaya matahari petang.

“Hari ini panas sekali, ya?” Tanya Latief cuba mengusik keheningan. Kekakuan pun sirna seiring angguk Rizal yang tergesa-gesa merespon pertanyaan Latief. “Agaknya apa yang akan terjadi kalau hari yang panas begini, kemudian turun hujan secara mendadak? Lebat pula tu.” Kata lebat yang disisipkan Latief di hujung kata-katanya adalah petanda bahwa dia inginkan jawapan.

“Orang akan lari ke tempat teduh.” Jawab Rizal.

“Kalau hal yang sama terjadi setiap hari?” Soal Latief.

Rizal kembali membetulkan tatapan seriusnya kepada Latief, “Orang akan sakit.”

“Tepat! Kesimpulannya kita memerlukan waktu untuk adaptasi. Petang adalah momentum yang Allah beri untuk kita menyesuaikan tubuh kita yang akan didakap kedinginan malam setelah seharian disengat mentari.”

“Kelabu?” Spontan kata itu diusulkan Rizal untuk dijelaskan sekaligus oleh Latief.

Sebelum menjelaskan, Latief kembali menghela nafas, “Syaitan pernah berjanji untuk terus menggoda orang-orang baik supaya turut sama melakukan kejahatan. Di sisi yang lain, dengan kuasa-Nya, Allah juga memberi kesempatan bagi orang-orang yang tersesat untuk kembali ke jalan-Nya. Dalam zon kelabu itulah, orang “putih” merasa resah memikirkan berapa lama lagi dia akan kuat bertahan untuk tetap “putih”. Di zon yang sama, orang “hitam” juga gelisah memikirkan saat yang tepat untuk bertaubat.”

Senyum Rizal mengembang tiba-tiba. Dia seperti mendapat jawapan tepat atas pertanyaan yang selama ini mengganggu alam pemikirannya. Dia lantas melengkapi kata-kata Latief, “Di zon kelabu, orang “hitam” yang sempat bertaubat juga boleh memutuskan untuk kembali ke dunia “hitam’, Bang.”

Kata-kata itu disusuli gelak-tawa yang sinis.

*** Kisah ini diambil dari nota facebook  Tegar Maulana, aku sudah edit gaya bahasa penulis (tanpa izin) supaya memudahkan rakyat Malaysia memahaminya demi manfaat bersama.

For more exciting & motivating stories click Learn From Stories

Sucikan Dirimu Untuk Ramadan

Sedarkah kita 20 hari lagi kita akan menyambut Ramadan Kareem?  Sudah 9 hari Syaaban singgah dalam kalendar hidup kita sebagai Muslim. Sudah 9 hari? Apakah kita meraikan kedatangan Syaaban sebagaimana yang dituntut oleh sunnah Rasulullah S.A.W ? Sama-samalah kita muhasabah bersama, saling ingat-mengingati sesama Muslim. Kedatangan Syaaban sangat penting bagi Muslim yang beriman kerana tanpa Syaaban kita tidak akan menemui Ramadan. Syaaban ibarat pengawal pintu istana Ramadan yang menjanjikan 1001 kenikmatan & ganjaran bagi mereka yang memasukinya dengan penuh keimanan dan ketaqwaan.

Sama-samalah kita muhasabah dosa-dosa yang telah kita lakukan sepanjang tahun ini, Syaaban merupakan waktu yang tepat untuk kita bertaubat dari semua dosa yang telah berlalu kerana hanya jiwa yang bersih dan suci saja mampu menggapai ganjaran Ramadan secara maksimum. Hanya dengan diri dan jiwa yang suci dari dosa dan noda akan mampu beristiqamah melakukan amal ibadat pada bulan Ramadan.

Sesetengah ulama’ ada berkata :

” Rejab adalah bulan menabur benih, Syaaban bulan menyiram subur semaian, manakala Ramadan bulan menuai hasil”.

Kata-kata itu menepati sunnah Rasulullah yang menggandakan amal ibadat apabila tiba bulan Rejab dan Syaaban, kemuncaknya pada Ramadan. Seperti diriwayatkan dalam hadis berikut :

Daripada Usamah bin Zaid r.a. bahawa dia telah bertanya Nabi sallallahu alaihi wasallam: “Ya Rasulallah, saya tidak pernah melihat tuan berpuasa dalam mana-mana bulan sebagaimana tuan berpuasa dalam bulan Syaaban.” Baginda menjelaskan (maksudnya): “Bulan ini manusia lupa tentangnya kerana ia terletakdi antara Rajab dan Ramadan. Sedangkan Syaaban adalah bulan diangkat amalan-amalan ke hadapan Tuhan Rab al-’alamin. Maka aku suka amalanku diangkat ketika aku sedang berpuasa.” – riwayat At-Tirmizi dan an-Nasa’i

Jom kita hidupkan sunnah Rasulullah pada bulan Syaaban dengan memperbanyak puasa sunat, aku yang menulis ini pun masih belum melakukannya natijah hidup yang berpandukan pada kalendar Kristian sedang kalendar Islam diabaikan sampai kemuliaan Bulan-bulan Islam hampir luput dari kehidupan Muslim hari ini. Namun masih ada beberapa hari berbaki untuk berpuasa sunat sebelum masuk hari ke-15 pada Bulan Syaaban. Kita tidak digalakkan berpuasa sunat selepas hari ke-15 sebagaimana mafhum dari hadis berikut :

Daripada Abu Hurairah (r.a) katanya Rasulullah S.A.W bersabda : ” Apabila tinggal separuh Syaaban janganlah kamu semua berpuasa.” riwayat At-Tirmidzi

Namun bagi mereka yang menjadikan puasa sunat Isnin dan Khamis, tiada halangan bagi mereka untuk meneruskannya kerana itu sudah menjadi habit mereka. Ada ulama’ berpendapat bahawa hikmah kita tidak digalakkan berpuasa selepas 15hb Syaaban untuk mengelak orang yang tidak biasa melakukan puasa sunat merasa letih apabila mengerjakan puasa wajib pada bulan Ramadan yang bakal muncul selepas Syaaban.

Bagi mempersiapkan diri untuk menghadapi Ramadan, aku ingin kongsi sedikit persiapan menyambut Ramadan. Tulisan ini hanya sebagai update version bagi post yang terdahulu dalam tajuk Bersedia Menghadapi Ramadan

Persediaan Ruhiyah ( Spiritual )

Persiapan spiritual dapat dilakukan dengan memperbanyak ibadah, seperti memperbanyak membaca Al-Qur’an, puasa sunnah (Rejab & Sha’aban), dzikir, do’a dll. Dalam hal mempersiapkan spiritual diri, Rasulullah shalallahu‘alaihi wa sallam menunjukkan contoh dan teladan kepada umatnya dengan memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, sebagaimana yang diriwayatkan ‘Aisyah ra. berkata:

“Saya tidak melihat Rasulullah shalallahu‘alaihi wa sallam menyempurnakan puasanya, kecuali di bulan Ramadhan. Dan saya tidak melihat dalam satu bulan yang lebih banyak puasanya kecuali pada bulan Sya’ban” (HR Muslim).

Persiapan Mental

Persiapan mental untuk puasa dan ibadah yang berkaitan amatlah penting tertutamanya pada akhir Ramadhan yang dijanjikan kebebasan dari api neraka. Apatah lagi pada bulan ini secara abnormal normalnya rakyat Malaysia kita sibuk dengan persiapan menghadapi hari raya (sedangkan mereka sepatutnya tertumpu pada amal ibadah bukannya kedai2) ini lah bila Melayu sudah lupa…lupa dengan pepatah rekaan sendiri, apa dia ?

“Yang dikendong berciciran yang dikejar tak dapat “

setengah orang kita ni sebulan sebelum Ramadhan dah tempah baju raya sedangkan persiapan untuk puasa entah ke mana. Perkara-perkara picisan macam ni la yang memberi kesan negatif kepada umat Islam dalam mencapai kekhusyukan ibadah Ramadhan. Walhal, kejayaan ibadah Ramadhan seorang muslim dilihat dari akhirnya. Jika akhirRamadhan diisi dengan i’tikaf dan taqarrub yang lainnya, maka insya Allah dia termasuk dikalangan mereka yang berjaya dalam melaksanakan ibadah Ramadhan.

Ibn Taimiyyah pernah berkata : “Yang dilihat bukanlah kecacatan pada permulaannya tapi kesempurnaan pada akhirnya”

Awas ! jangan salah guna kata-kata Ibnu Taimiyyah itu untuk tidak melakukan persiapan lebih awal terutamanya pada bulan Syaaban. Jika anda membaca tulisan ini pada pertengahan Ramadan, YA anda boleh menggunakan kata hikmah Ibnu Taimiyyah itu sebagai motivasi.

Persiapan Fikriyyah ( Pemikiran )

Persiapan fikriyah atau akal fikiran dapat dilakukan dengan mendalami ilmu, khususnya ilmu yang berkaitan dengan ibadah Ramadhan. Banyak orang yang berpuasa tidak mendapat manfaat apapun  kecuali lapar dan dahaga. Hal ini dilakukan kerana puasanya tidak dilandasi dengan ilmu yang cukup dan mantap. Seorang yang beramal tanpa ilmu, maka tidak akan menghasilkan apa-apa  kecuali sia-sia belaka. Bak kata Imam Shafi’e (rahimahullah) :

” Ilmu tanpa amal, gila. Beramal tanpa ilmu tidak akan menjadi”

Persiapan Fizikal dan Material

Seorang muslim tidak akan mampu atau beroptimum dalam berpuasa jika fizikalnya sakit. Oleh kerana itu mereka dituntut untuk menjaga kesihatan fizikal, kebersihan rumah, masjid dan persekitaran. Rasulullah menunjuk contoh yang baik kepada umat agar walaupun berpuasa kita juga mesti prihatin pada kesihatan diri.  Hal ini dapat dilihat dari beberapa peristiwa di bawah ini :

• Memberus gigi dengan siwak (HR. Bukhori dan Abu Daud).
• Berubat seperti dengan berbekam (Al-Hijamah) seperti yang diriwayatkan Bukhori dan Muslim.
• Menitik-beratkan penampilan, seperti pernah diwasiatkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam
kepada sahabat Abdullah ibnu Mas’ud ra, agar memulai puasa dengan penampilan yang baik dan
tidak dengan wajah yang lesu. (HR. Al-Haitsami).

Perkara lain yang harus disiapkan adalah material yang halal untuk bekal ibadah Ramadhan. Idealnya seorang muslim telah menabung selama 11 bulan sebagai bekal ibadah Ramadhan. Sehingga ketika datang Ramadhan, dia dapat beribadah secara khusyu’ dan tidak berlebihan dalam mencari harta atau kegiatan lain yang mengganggu kekhusyukan ibadah Ramadhan. Alah…Ramadhan sebulan setahun je kut, takkan tak dapat rehat sekejap??? daripada dapat duit yang banyak hasil jualan pada bulan Ramadhan tapi rahmah, pahala dan kelebihan Ramadhan semuanya fail, baik tak payah hidup atas bumi Allah ni. Tapi kalau dapat kedua-duanya sekali lagi bagus…hehehe.

Apa yang penting, sebelum Ramadhan kita hendaklah memperbanyak doa supaya diberi ketabahan, kecekalan , keazaman dan ketaqwaan pada bulan Ramadhan apatah lagi bila menjelmanya Ramadhan.Moga bermanfaat dan mendapat kerahmatan, keampunan dan pembebasan dari azab Neraka….serta mendapat Lailatul Qadr..Ramadhan Kareem !!!

Spirit of Ramadan

Melancarkan Jihad Ilmu

Setelah cuti sakit selama 6 bulan dan terpaksa menangguh pengajianku untuk semester akhir, akhirnya besok (12/07/2010) bermulanya kembali kehidupanku sebagai pelajar dalam bidang Aviation. Rasanya pada bulan ini bukan aku sahaja yang memulakan semester baru pengajian malahan bulan July merupakan tarikh pendaftaran bagi kemasukan puluhan ribu mahasiswa baru dan lama.

Jadi entri kali ini bukan sahaja sebagai tazkirah untuk diri aku, juga sebagai perkongsian bersama sahabat handai yang bergelar mahasiswa.  Aku sebenarnya boleh dikatakan kekurangan motivasi untuk memulakan kembali praktikal ini selama 6 bulan, mungkin kerana 6 bulan cuti yang dihabiskan hanya dengan berehat pada tahap melampau tanpa menyentuh buku berkaitan bidang pengajian aku.  Satu sikap yang tidak patut dicontohi oleh anda yang membaca entri ini dan sesiapapun. Alhamdulillah aku sempat membaca tulisan seorang aktivis gerakan Islam di Indonesia berkenaan jihad dalam menuntut ilmu pengetahuan dan Alhamdulillah sedikit sebanyak membantu memulihkan semangat aku untuk belajar dan menjadi pelajar cemerlang dalam bidang yang aku ceburi demi Allah dan Rasul bukan semata-mata mengejar kejayaan hidup didunia .الحمد لله ثم الحمد لله

Makrifah dan Jihad

Dr. Hilmy Bakar Al-Mascaty didalam bukunya Panduan Jihad Untuk Aktivis Gerakan Islam membahagikan jihad kepada 5 bahagian atau kategori . Iaitu Jihad Harta, Jihad Jiwa, Jihad Pendidikan atau Ta’alim, Jihad Siyasi (Politik) dan Jihad Makrifah (Ilmu Pengetahuan). Kali ini aku hanya nak menyentuh berkenaan Jihad Makrifah, satu istilah yang pada pandangan aku masih kurang digunapakai. Jika jihad dalam bidang keilmuan ini dihayati sepenuhnya oleh muslim, Insya Allah mereka mampu bangkit menjadi muslim yang berkaliber dalam erti kata mampu menghadapi cabaran secara glokal. Kepentingan jihad makrifah pada zaman kemajuan intelektual, pengetahuan dan technology hampir menyamai kepentingan jihad dimedan peperangan pada zaman lampau. Peperangan zaman moden tidak hanya menuntut penggunaan senjata sahaja tapi lebih mengutamakan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai senjata dalam peperangan zaman kini. Lihat saja pada dunia kini, mereka yang menguasai kemajuan ilmu pengetahuan dan technology mampu menguasai dunia dan Negara-negara lain. Oleh itu, seharusnya kita sedar JIHAD mempunyai makna yang luas mengcakupi segenap aspek keupayaan kaum muslimin.  Sebagaimana firman Allah dalam surah al-Anfaal ayat 60 :

“ Siapkanlah untuk menghadapi mereka dengan apa saja kekuatan yang kamu mampu….”

Jika dulu kekuatan (alquwwah) bergantung pada kekuatan senjata dan kelengkapan perang, namun kekuatan pada zaman kini bukan sahaja perlu ditafsirkan dengan kekuatan persenjataan bahkan juga kekuatan penguasaan ilmu pengetahuan sebagaimana ungkapan cendekiawan Knowledge is power. Sehubungan itu adalah menjadi kewajiban kepada kita menguasai ilmu pengetahuan sebagai senjata menghadapi musuh Islam tanpa mengabaikan kekuatan senjata perang.

Lihat saja bagaimana musuh-musuh Islam dengan mudah melancarkan serangan dalam pelbagai bentuk untuk mencemarkan imej Islam sebagai contoh; mereka hanya menggunakan laman social Facebook untuk menghina kemuliaan Rasulullah. Kempen jahat itu satu hal, apa yang lebih penting Facebook itu sendiri dicipta oleh bukan Muslim. Jika umat Islam memiliki kemajuan dan kreativiti dalam ilmu pengetahuan maka tidak mustahil laman social seumpama itu lebih dahulu dicipta oleh Muslim. Ini tidak, muslim hari ini hanya suka menjadi pengguna produk bukan Muslim sehingga terpaksa akur akan kelebihan bukan Islam. Akhirnya mereka berdakwah dengan menggunakan “saluran dakwah” yang disediakan oleh kuffar (itu kira ok la lagi kan..hehe). Apa yang lepas tidak boleh dibiarkan begitu sahaja umpama ungkapan “ yang lepas tu lepas la”, orang yang bijak tidak akan membiarkan apa yang lepas berlalu begitu sahaja tanpa diambil pengajaran darinya. Oleh itu, tiada alasan lagi bagi Muslim untuk tidak menguasai ilmu pengetahuan. Apakah status iman seseorang Muslim terhadap ayat-ayat Allah jika tidak berusaha menguasai ilmu sedangkan wahyu pertama diturunkan adalah galakan menuntut ilmu?  Bukankah jihad pengetahuan ini begitu kritikal untuk diremehkan?

Kita perlu melihat kepada Barat dan strategi mereka menjajah bangsa lain dengan bentuk penjajahan yang baru, iaitu penjajahan intelektual. Mereka melancarkan perang pengetahuan hanya dengan tujuan yang satu; menguasai dan mendominasi kaum Muslimin secara intelektual sehingga lahirnya generasi Islam yang hidup sebagai muslim namun pemikiran mereka sarat dengan ideology yang bertentangan dengan Islam. Situasi begitu bukan perkara asing pada kita, contoh terdekat adalah pemimpin Malaysia hari ini, mereka hidup sebagai Muslim, memakai nama Muslim, mengaku menganut agama Islam namun cara mereka berfikir dan bertindak tidak ubah seperti anjing-anjing buruan syaitan yang diasuh oleh makmal Barat. Oleh itu, tidaklah janggal jika mereka bertindak menghalalkan apa yang jelas haram disisi Allah. Apa yang perlu difahami ialah, jihad pengetahuan bererti membebaskan kaum muslimin dari segala belenggu dan dominasi pemikiran jahiliah.

Bagi mahasiswa yang menuntut ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh barat (ilmu selain ilmu agama) atau sesetengah pihak menggunakan istilah ilmu sekuler, mereka sepatutnya meneruskan perjuangan atau jihad mereka dalam menguasai ilmu-ilmu tersebut sehingga mampu menandingi keupayaan kuffar. Jihad pengetahuan tidak bermaksud mereka hanya perlu menuntut ilmu agama akan tetapi jihad menguasai apa saja ilmu yang mampu menjadikan mereka tunduk dan patuh pada ajaran Allah. Disinilah pentingnya interaksi mereka dengan Al-Quran dan Sunnah dalam memastikan ilmu yang mereka kuasai itu tidak terkeluar dari batas yang ditetapkan oleh Allah. Oleh itu Dr. Hilmy Bakar al-Mascaty telah memberikan solusi dalam masalah ini,

“Generasi muda Islam yang menguasai pelbagai pengetahuan sekuler, boleh saja meneruskannya. Dengan syarat, pada saat yang sama mereka berjuang semaksimal mungkin untuk memperdalam pengetahuan agama yang akan menjaga mereka dari racun sekulerisme dan sekaligus meningkatkan keimanan dan ketaqwaan mereka.”

Hakikat Jihad Pengetahuan Dengan Mengamalkan Ilmu

Point penting dalam melancarkan jihad pengetahuan ini ialah mengamalkan ilmu yang dipelajari. Kerana ajaran Islam menuntu supaya ilmu pengetahuan yang dituntut dapat dimanfaatkan dan diamalkan oleh pemiliknya, dan juga orang lain. Berbeza dengan ajaran Barat sekuler yang hanya memberikan penekanan pada penguasaan pengetahuan tanpa ada kewajiban untuk menerapkannya dalam kehidupan. Renungilah firman Allah:

“ Dan bacakanlah kepada mereka (Wahai Muhammad), khabar berita seorang Yang Kami beri kepadanya (pengetahuan mengenai) ayat-ayat (Kitab) kami. kemudian ia menjadikan dirinya terkeluar dari mematuhinya, lalu ia diikuti oleh Syaitan (dengan godaannya), maka menjadilah dari orang-orang Yang sesat. Dan kalau Kami kehendaki nescaya Kami tinggikan pangkatnya Dengan (sebab mengamalkan) ayat-ayat itu. tetapi ia bermati-mati cenderung kepada dunia dan menurut hawa nafsunya; maka bandingannya adalah seperti anjing, jika Engkau menghalaunya: ia menghulurkan lidahnya termengah-mengah, dan jika Engkau membiarkannya: ia juga menghulurkan lidahnya termengah-mengah. Demikianlah bandingan orang-orang Yang mendustakan ayat-ayat kami. maka ceritakanlah kisah-kisah itu supaya mereka berfikir.” Al-A’raaf: 175-176

Renungi juga kata-kata Imam Shafie :

“ Ilmu yang tidak diamalkan ibarat pokok yang tidak berbuah”

Tiada maknanya penguasaan ilmu pengetahuan tanpa mampu dimanfaatkan untuk diri dan Islam. Jihad pengetahuan menuntut penguasaan ilmu-ilmu dunia dan mengamalkannya dalam platform yang Islami sebagai benteng mempertahankan Islam secara syumul. Kalau aku yang belajar dalam bidang aircraft maintenance ini, apa yang diharapkan ialah aku mampu menguasai ilmu teknikal berkaitan aircraft dan mampu melakukan pengubahsuaian yang sesuai untuk dimanfaatkan oleh Islam. Berbeza dengan mereka yang menuntut ilmu aerospace atau aeronautic, jihad mereka lebih kepada menguasai bidang tersebut sehingga mampu mencipta jet pejuang yang sistemnya hanya diketahui oleh Muslim dan mempunyai cirri-ciri yang advanced berbanding jet sedia ada sekaligus menggerunkan musuh Islam. Aku fikir itu mampu mencapai kemuncak jihad dalam bidang ini. Namun jika tidak mampu, sekurang-kurangnya kita arif tentang system reka bentuk, dan spesifikasi aircraft yang mampu dimanfaatkan oleh Negara Islam apabila situasi memerlukan. Tiada siapa yang tahu apa yang bakal berlaku pada masa depan. Yang penting, bersiap sedia! Yang lebih pentin, siapkan diri kita untuk Islam!

Semua itu hanya angan-angan jika jihad pengetahuan tidak dihayati dan diamalkan sepenuhnya oleh umat Islam kini. Jihad pengetahuan tidak dapat dinafikan kepentingannya sebagai jihad yang utama sejak zaman awal Islam lagi, bahkan Islam itu sendiri bangkit dengan penguasaan ilmu pengetahuan. Allah sendiri memerintahkan umat Islam supaya tidak keluar berperang secara keseluruhannya akan tetapi mereka harus meninggalkan sebahagian untuk menguasai ilmu pengetahuan sebagaimana firman Allah :

Tidak sepatutnya bagi orang-orang mukmin itu pergi semuanya(ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang ad-din dan untuk member peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya supaya mereka itu dapat menjaga diri.” At-Taubah:122

Ad-din dalam ayat di atas tidak hanya merujuk kepada ilmu agama sahaja. Jika difahami dalam erti kata yang luas ad-din itu merujuk pada pengabdian dan tunduk pada perintah Allah, maka pengetahuan ad-din bukan hanya terbatas pada ilmu agama saja namun merujuk kepada seluruh ilmu pengetahuan yang akan menjadikan seseorang tunduk pada Allah.

Apa saja bidang ilmu yang anda pelajari, kuasailah ilmu tersebut dengan mendalam sehingga mampu memanfaatkannya untuk diri, masyarakat dan agama dalam apa jua bentuk sekalipun. Bentuk manfaat itu pada aku bergantung pada kreativiti pemikiran masing-masing. Penguasaan anda terhadap ilmu dalam bidang yang dipelajari tidak seharusnya melalaikan anda dari berusaha secara maksimum untuk mendalami ajaran agama. Pandai-pandailah seimbangkan antara kedua-dua jenis ilmu itu. Sekadar ini perkongsian aku untuk kali ini. Memandangkan aku taip dalam kekosongan masa antara asar dan maghrib, maka aku tidak mampu memanjangkan lagi tulisan ini. Diharap sedikit perkongsian ini mampu mencetuskan percikan api dalam memastikan semangat jihad terus membara, menyala dan berkobar didalam hati setiap Muslim.  JIHAD dalam erti kata yang lebih luas akan meluaskan lagi pandangan anda untuk berdakwah! Dan Allah lah penolong bagi segala sesuatu.

Cintakan Dunia ! Islam Dilupakan !

Daripada Tsauban r.a. berkata: Rasulullah saw. bersabda; “Hampir tiba suatu masa di mana bangsa-bangsa dan seluruh dunia akan datang mengerumuni kamu bagaikan orang-orang yang hendak makan mengerumuni talam hidangan mereka”. Maka salah seorang sahabat bertanya “Apakah kerana kami sedikit pada hari itu?” Nabi saw. menjawab, “Bahkan kamu pada hari itu banyak sekali, tetapi kamu umpama buih di waktu banjir, dan Allah akan mencabut rasa gerun terhadap kamu dari hati musuh-musuh kamu, dan Allah akan mencampakkan ke dalam hati kamu penyakit ‘wahan”‘. Seorang sahabat bertanya, “Apakah wahan itu hai Rasulullah?” Nabi kita nenjawab, “Cinta pada dunia dan takut pada mati”. (Riwayat Abu Daud)

Hadis di atas jelas menggambarkan keadaan kita sebagai umat Islam masa kini. Umat Islam hari ini, “diserang” dari setiap penjuru dengan pelbagai cara. Bahkan, serangan musuh-musuh Islam bagaikan kabur pada pandangan umat Islam, begitu halusnya perancangan mereka. Salah satu punca umat Islam menghidap penyakit “rabun penglihatan” ini adalah kerana mereka tamak dan lalai dalam mengejar isi dunia, mereka terpesona dengan keindahan ni’mat dunia yang Allah ciptakan sebagai ujian bagi mereka. Apabila hati sudah terpesona, dunia dicintai, maka….kematian amatlah dibenci, kerana kematian adalah dinding antara mereka dengan dunia.

Dengan itu, adakah Islam menyuruh kita menjauhi dunia ? duduk berzikir di masjid semata-mata kerana menyangka rezeki itu ketetapan dari Allah? tanpa berusaha?? Realitinya tidak begitu, ni’mat dunia ibarat kelengkapan asas kita untuk hidup mengerjakan ibadah pada Sang Pencipta. Kerjakanlah urusan dunia dengan bersemangat sebagai manifestasi ibadah kita pada Allah.

Cukuplah saya riwayatkan satu kisah sebagai peringatan bersama…

Seorang pemuda bernama Faris sedang mencari gadis idamannya untuk dijadikan isterinya. Akhirnya dia menemui gadis yang memenuhi idaman hatinya. Cantik, menawan, dan solehah. Faris akhirnya meminta  ayahnya  menemaninya pergi melihat dan berjumpa dengan si gadis idaman, Jamilah dan juga keluarganya untuk urusan merisik.

Apabila sampai dirumah Jamilah, dia keluar menemui Faris dan ayahnya. Akhirnya Faris bertemu mata dengan Jamilah dan juga keluarganya. Ayah Faris sempat melihat wajah  Jamilah yang menjadi idaman anaknya. Setelah selesai perjumpaan mereka, ayahnya mengajak Faris keluar rumah gadis itu.

” Anakku ! Gadis itu tidak sesuai untuk mu ! dia sesuai untuk ayah.” kata si ayah pada Faris.

“Gadis tu terlalu cantik untuk mu, ianya hanya sesuai untuk ayah” ulang si ayah meyakinkan anaknya..hehe.

Mereka bertelingkah, atas sebab yang sangat ….anda boleh sambung ayat tu..haha. Sekarang, Faris mencintai Jamilah dan sudah pasti tidak sanggup mengorbankan cintanya untuk diberikan pada si ayah. Si ayah pula turut mencintai Jamilah dan sudah pasti inginkannya sebagai isteri, tambah pula ibu Faris sudah meninggal dunia beberapa tahun yang lepas. Itulah cinta pandang pertama !

Apabila mereka berdua tidak mencapai kata sepakat, mereka berdua akhirnya membawa kes ini berjumpa hakim di mahkamah. Jadi, Hakim memanggil Jamilah ke mahkamah untuk menanyakan pendapatnya. Apabila Hakim melihat Jamilah, beliau jatuh cinta pada Jamilah. Maklumlah Hakim pun manusia, ada nafsu dan perasaan yang kadang-kadang susah nak control.

” Gadis ini tidak sesuai untuk mana-mana antara kamu, (baik si ayah dan juga Faris)” kata Hakim itu.

Kemudian beliau menyambung, “Gadis ini terlalu sempurna dan terlalu cantik untuk dinikahi oleh kamu berdua. Kenapa? kerana gadis ini hanya sesuai untukku.”

Tidak puas dengan keputusan Hakim itu, lalu mereka bertiga iaitu Faris, ayahnya, dan Hakim membawa kes ini untuk diputuskan oleh Sultan. Jamilah turut bersama-sama mereka mengadap Sultan. Apabila Sultan melihat Jamilah, baginda sedar mengapa mereka bertiga berebut untuk memiliki Jamilah . Kemudian baginda bertitah

” Tidak, Gadis ini hanya sesuai untuk Beta sahaja !”

Sekarang kes ini bertambah rumit, 4 orang lelaki berebut ingin memiliki seorang gadis. Jamilah sebenarnya seorang gadis yang pintar, ” Ok, saya akan adakan ujian (test) untuk mengetahui siapa antara kamu berempat yang layak menikahi saya.” kata Jamilah kepada Faris, ayahnya, Hakim dan Sultan.

” Saya akan berlari, dan kamu semua akan berlari disamping saya. Orang yang pertama dapat menangkap saya maka saya akan jadi isterinya.” sambung Jamilah lagi.

Mereka akhirnya berlari disamping Jamilah, kemudian dia hilang dari pandangan mereka berempat. Dia berlari dengan begitu pantas. Tiba-tiba mereka berempat terjumpa lubang yang besar, dalam dan gelap. Mereka melihat Jamilah berada didalam lubang itu sedang melihat kepada mereka berempat yang berada di atas.

“Aku adalah DUNIA dan ini adalah KUBUR kamu.” kata Jamilah (kecantikan Dunia) pada mereka.

Aku adalah Dunia dan ini adalah kubur kamu ! semuanya adalah metafora kepada kita yang terlalu sibuk mengejar dunia, kita menggunakan segala daya usaha untuk mendapatkan dunia sedangkan hanya sedikit sahaja tenaga dan usaha yang digunakan untuk agama kita, Islam. Ketika kita sihat dan lapang kita hanya berusaha sedikit sahaja untuk agama, sedangkan untuk Dunia?? setiap usaha, strategi, setiap temujanji kita penuhi, setiap pekerjaan baru mampu kita lakukan dan kita tidak pernah merasa bosan melakukan semua itu untuk mendapatkan kemewahan dunia yang dirasa sentiasa tidak cukup. Sebaliknya, apalah sangat usaha kita untuk memperjuangkan agama Allah, mempelajari ilmuNya, mempraktikkan sunnah RasulNya. Sedarkah kita akan semua ini?? sama-samalah kita berusaha menjulang Islam dalam apa jua cara sebagaimana kita mampu mengejar keni’matan dunia dengan perlbagai bentuk usaha. Jangan putus asa selagi Islam tidak memerintah dunia ini!

** Semua nama watak dalam cerita ini adalah rekaan semata-mata dan tiada kaitan dengan mana-mana yang hidup mahupun yang sudah mati.



Bersedia Menghadapi Ramadhan ??

لااله ال الله

Alhamdulillah….hanya beberapa hari saja lagi kita akan menyambut bulan yang barokah, keberkatan, kerahmatan dan segala jenis sifat kebaikan yang boleh disandarkan pada bulan yang teramat mulia ini, RAMADHAN AL-MUBARAK !

Rasulullah S.A.W , para sahabat dan salafus soleh menyambut kedatangan Ramadhan dengan penuh kegembiraan dan harapan yang menggunung tinggi demi memperoleh keredhaan dan rahmah daripada Rabbul Jaleel. Mereka mempersiapkan diri mereka seawal dari bulan Rejab lagi sebagai persediaan menyambut Ramadhan. Namun bagaimana dengan sikap kita hari ini?? Rasanya beberapa hari sebelum Ramadhan barulah sedar dan tergopoh-gapah mempersiapkan diri dengan amal ma’aruf wa nahyu ‘anil munkar , itu mereka yang sempat sedar. Macam mana dengan mereka yang kurang sedar, kurang peka, langsung tak peduli dengan Ramadhan malah lebih teruk lagi mereka yang sudah memikirkan “strategi-strategi” untuk menambah energy secara haram disiang hari ???

Aku yang menulis kat blog ni pun bukanlah orang yang betul-betul bersedia untuk menghadapi ramadhan, sedar memang sedar tapi bila nafsu bertakhta dihati …..habis lingkup. Itu baru jihad menentang nafsu, dahpun tewas walaupun pernah menang beberapa kali. Dengan baki hari yang berbaki tak sampai 5 hari pun lagi, aku rasa elok jugalah aku berkongsi sedikit ilmu  yang baru aku baca dan download dari internet. Apa yang perlu kita persiapkan untuk menghadapi Ramadhan ??

Antaranya ialah :

Persiapan Mental

Persiapan mental untuk puasa dan ibadah yang berkaitan amatlah penting tertutamanya pada akhir Ramadhan yang dijanjikan kebebasan dari api neraka. Apatah lagi pada bulan ini secara abnormal normalnya rakyat Malaysia kita sibuk dengan persiapan menghadapi hari raya (sedangkan mereka sepatutnya tertumpu pada amal ibadah bukannya kedai2) ini lah bila Melayu sudah lupa…lupa dengan pepatah rekaan sendiri, apa dia ?

“Yang dikendong berciciran yang dikejar tak dapat “

setengah orang kita ni sebulan sebelum Ramadhan dah tempah baju raya sedangkan persiapan untuk puasa entah ke mana. Perkara-perkara picisan macam ni la yang memberi kesan negatif kepada umat Islam dalam menunaikan kekhusyukan ibadah Ramadhan. Walhal, kejayaan ibadah Ramadhan seorang muslim dilihat dari akhirnya. Jika akhirRamadhan diisi dengan i’tikaf dan taqarrub yang lainnya, maka insya Allah dia termasuk dikalangan mereka yang berjaya dalam melaksanakan ibadah Ramadhan.

Ibn Taimiyyah pernah berkata : “Yang dilihat bukanlah kecacatan pada permulaannya tapi kesempurnaan pada akhirnya”

Persediaan Ruhiyah ( Spiritual )

Persiapan spiritual dapat dilakukan dengan memperbanyak ibadah, seperti memperbanyak membaca Al-Qur’an, puasa sunnah (Rejab & Sha’aban), dzikir, do’a dll. Dalam hal mempersiapkan spiritual diri, Rasulullah shalallahu‘alaihi wa sallam menunjukkan contoh dan teladan kepada umatnya dengan memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, sebagaimana yang diriwayatkan ‘Aisyah ra. berkata:

“Saya tidak melihat Rasulullah shalallahu‘alaihi wa sallam menyempurnakan puasanya, kecuali di bulan Ramadhan. Dan saya tidak melihat dalam satu bulan yang lebih banyak puasanya kecuali pada bulan Sya’ban” (HR Muslim).

Tapi, untuk kali ni rasanya dah tak sempat lah bagi mereka yang belum berpuasa sunat. Ramadhan pun 2-3 hari je lagi nak datang, kalau rasa rugi tu rugilah. Nak buat macam mana, salah diri kita yang tidak prihatin pada agama sendiri. Padan muka !! aku pun padan juga sebab kalau nak dikira berapa hari sangatlah aku berpuasa ( puasa sunat la ) . Next time, mungkin aku patut postkan entri ni sebulan sebelum Ramadhan.

Persiapan Fikriyyah ( Pemikiran )

Persiapan fikriyah atau akal fikiran dapat dilakukan dengan mendalami ilmu, khususnya ilmu yang berkaitan dengan ibadah Ramadhan. Banyak orang yang berpuasa tidak mendapat manfaat apapun  kecuali lapar dan dahaga. Hal ini dilakukan kerana puasanya tidak dilandasi dengan ilmu yang cukup dan mantap. Seorang yang beramal tanpa ilmu, maka tidak akan menghasilkan apa-apa  kecuali sia-sia belaka. Bak kata Imam Shafi’e (rahimahullah) :

” Ilmu tanpa amal, gila. Beramal tanpa ilmu tidak akan menjadi”

Persiapan Fizikal dan Material

Seorang muslim tidak akan mampu atau beroptimum dalam berpuasa jika fizikalnya sakit. Oleh kerana itu mereka dituntut untuk menjaga kesihatan fizikal, kebersihan rumah, masjid dan persekitaran. Rasulullah menunjuk contoh yang baik kepada umat agar walaupun berpuasa kita juga mesti prihatin pada kesihatan diri.  Hal ini dapat dilihat dari beberapa peristiwa di bawah ini :

• Memberus gigi dengan siwak (HR. Bukhori dan Abu Daud).
• Berubat seperti dengan berbekam (Al-Hijamah) seperti yang diriwayatkan Bukhori dan Muslim.
• Menitik-beratkan penampilan, seperti pernah diwasiatkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam
kepada sahabat Abdullah ibnu Mas’ud ra, agar memulai puasa dengan penampilan yang baik dan
tidak dengan wajah yang lesu. (HR. Al-Haitsami).

Perkara lain yang harus disiapkan adalah material yang halal untuk bekal ibadah Ramadhan. Idealnya seorang muslim telah menabung selama 11 bulan sebagai bekal ibadah Ramadhan. Sehingga ketika datang Ramadhan, dia dapat beribadah secara khusu’ dan tidak berlebihan dalam mencari harta atau kegiatan lain yang mengganggu kekhusyukan ibadah Ramadhan. Alah…Ramadhan sebulan setahun je kut, takkan tak dapat rehat sekejap??? daripada dapat duit yang banyak hasil jualan pada bulan Ramadhan tapi rahmah, pahala dan kelebihan Ramadhan semuanya fail, baik tak payah hidup atas bumi Allah ni. Tapi kalau dapat kedua-duanya sekali lagi bagus…hehehe.

Apa yang penting, sebelum Ramadhan kita hendaklah memperbanyak doa supaya diberi ketabahan, kecekalan , keazaman dan ketaqwaan pada bulan Ramadhan apatah lagi bila menjelmanya Ramadhan… doa dalam video ni boleh juga membantu….training aids la katakan…hahaha. Moga bermanfaat dan mendapat kerahmatan, keampunan dan pembebasan dari azab Neraka….serta mendapat Lailatul Qadr..Ramadhan Kareem !!! ( jangan lupa tinggalkan komen yang berguna…heheh)



Cinta Yang Ditinggalkan…

Aku percaya ramai sekali muda-mudi Muslim yang mengalami dilema ini yang juga pernah dilalui oleh diriku sendiri….oleh itu aku berasa terpanggil untuk berkongsi kisah yang dihadiahkan oleh sahabatku……depanpanduankendali-usrah-remaja

“Akhi, dulu ana merasa semangat saat-saat aktif dalam dakwah. Tapi, belakangan ini rasanya semakin terasa hambar. Ukhuwah makin kering kontang, bahkan ana melihat ternyata banyak ikhwah pula yang aneh dan pelik!.”


Begitu keluh kesah seorang mad’u(murid) kepada murabbi(guru) nya di suatu malam. Sang murabbi hanya terdiam, mencuba terus menggali semua kegelisahan dalam diri mad’u-nya. “Lalu apa yang ingin anta(kamu) lakukan setelah merasakan semua itu?” Sahut sang murrabi setelah sesaat termenung seketika.


“Ana ingin berhenti saja, keluar dari tarbiyah ini. Ana kecewa dengan perilaku dan sikap beberapa ikhwah yang kerana tidak islami. Juga dengan organisasi dakwah yang ana geluti; kaku, dan sering mematikan potensi anggota-anggotanya. Jika terus begini, lebih baik ana bersendiri saja.” Ikhwah itu berkata.

Sang murabbi termenung kembali. Tidak kelihatan raut terkejut dari roman wajahnya. Sorot matanya tetap terlihat tenang, seakan jawapan itu memang sudah diketahuinya sejak awal. “Akhi, bila suatu kali anta naik sebuah kapal mengharungi lautan luas. Kapal itu ternyata sudah rosak.Layarnya banyak berlubang, kayunya banyak yang reput, bahkan kabinnya penuh dengan sampah bauan kotoran akibat manusia. Lalu apa yang antalakukan untuk tetap sampai pada tujuan?” Tanya seorang murabbi dengan kiasan yang mendalam maknanya.
Sang mad’u terdiam berfikir.Tak kuasa hatinya mendapat umpan balik sedemikian tajam dengan kiasan yang amat tepat. “Apakah anta memilih untuk terjun ke laut dan berenang sampai tujuan?”
Sang murabbi mencuba memberi jawapan kepadanya. “Bila anta terjun ke laut, sesaat anta akan merasa senang. Bebas dari bau kotoran manusia, merasakan kesegaran air laut, atau bebas bermain dengan lumba-lumba.
Tapi itu hanya sesaat. Berapa kekuatan anta untuk berenang sampai tujuan? Bagaimana bila ribu datang? Dari mana anta mendapat makan dan minum? Bila malam datang bagaimana anta mengatasi hawa dingin?” Serentetan pertanyaan dihamparkan dihadapan sang ikhwah tersebut.
Tidak semena, sang ikhwah menangis tersedu. Tak kuasa hatinya menahan kegundahan sedemikian. Kekecewaannya kekadang memuncak, namun sang murobbi yang dihormatinya justeru tak memberi jalan keluar yang sesuai dengan keinginannya.
“Akhi, apakah anta masih merasa bahwa jalan dakwah adalah jalan yang paling utama menuju redha ALLAH SWT?” Pertanyaan yang menghujam jiwa sang ikhwah. Ia hanya mengangguk.” Bagaimana bila ternyata kereta yang anta bawa dalam menempuh jalan itu ternyata rosak dan bermasalah? Anta akan berjalan kaki meninggalkan kereta itu tersadai ditepi jalan, atau mencuba memperbaikinya? ” Tanya sang murabbi lagi.
Sang ikhwah tetap terdiam dalam esakan tangis perlahannya. Tiba-tiba ia mengangkat tangannya; “Cukup akhi, cukup. Ana sedar. Maafkan ana, InsyaALLAH ana akan tetap istiqomah. Ana berdakwah bukan untuk mendapat pingat kehormatan. Atau agar setiap kata-kata ana diperhatikan. Atau ana mendapat nama di sisi manusia “Biarlah yang lain dengan urusan pribadi masing-masing. Biarlah ana tetap berjalan dalam dakwah. Dan hanya ALLAH saja yang akan membahagiakan ana kelak dengan janji-janji- NYA. Biarlah segala kepedihan yang ana rasakan jadi pelebur dosa-dosa ana.” Sang mad’u berazzam dihadapan sang murabbi yang semakin dihormatinya
Sang murabbi tersenyum. “Akhi, jama’ah(kumpulan) ini adalah jama’ah manusia. Mereka adalah kumpulan insan yang punya banyak kelemahan dan kekurangan. Tapi disebalik kelemahan itu, masih amat banyak kebaikan yang mereka miliki. Mereka adalah peribadi-peribadi yang menyambut seruan Allah untuk berdakwah. Dengan begitu mereka sedang berproses menjadi manusia terbaik pilihan ALLAH SWT.”

usrah2
“Bila ada satu dua kelemahan dan kesalahan mereka, janganlah hal itu meresahkan perasaan anta. Sebagaimana ALLAH SWT menghapus dosa manusia dengan amal baik mereka, hapuslah kesalahan mereka di mata anta dengan kebaikan-kebaikan mereka terhadap dakwah selama ini. Karena di mata ALLAH SWT, belum tentu antum lebih baik dari mereka.”
“Futur, mundur, lemah atau bahkan berpaling menjadi lawan bukanlah jalan yang masuk akal. Apabila setiap ketidakkesepakatan selalu disikapi dengan jalan itu; maka apakah dakwah ini dapat berjalan dengan baik?”Sambungnya panjang lebar.
“Kita bukan sekadar pemerhati yang hanya berkomentar. Atau hanya pandai menuding-nuding jari kerana sesuatu kesalahan. Kalau hanya itu, orang kafir pun boleh melakukannya. Tapi kita adalah da’i. Kita adalah khalifah. Kitalah yang diberi amanat oleh ALLAH untuk menyelesaikan masalah-masalah dimuka bumi. Bukan hanya meng”ekspose” nya, yang menjadikan ia semakin memperuncing dan membarah.”
Sang mad’u termenung sampai merenungi setiap kalimat murabbinya. Azzamnya memang kembali menguat. Namun ada satu hal yang tetap bergelayut di hatinya. “Tapi bagaimana ana boleh memperbaiki organisasi dakwah dengan kemampuan ana yang lemah ini?”
Sebuah pertanyaan konstruktif akhirnya muncul juga.
“Siapa kata kemampuan anta lemah? Apakah ALLAH menjadikan begitu kepada anta? Semua manusia punya potensi yang berbeza. Namun tak ada yang mampu melihat bahwa yang satu lebih baik dari yang lain!”. Sahut sang murabbi.
“Bekerjalah dengan ikhlas. Berilah kerjasama dalam kebenaran, kesabaran dan kasih sayang pada semua ikhwah yang terlibat dalam organisasi itu. Kerana peringatan selalu berguna bagi orang yang beriman. Bila adasebuah isu atau fitnh, tutuplah telinga anta dan bertaubatlah. Singkirkan segala prasangka anta terhadap saudara antasendiri. Dengan itulah Bilal yang seorang budak hina menemui kemuliaanya. ”
Malam itu sang mad’u menyadari kesalahannya. Ia bertekad untuk tetap hidup bersama jama’ah untuk tetap mengharungi jalan dakwah dan tarbiyah. Kembalikan semangat itu saudaraku, jangan biarkan putus asa itu hilang, ditelan gersangnya debu yang menerpa. Biarlah itu semua menjadi saksi sampai kita diberi dua kebaikan oleh ALLAH SWT : Kemenangan atau Mati Syahid
Ikhlas adalah roh dari setiap amal. Ikhlas adalah motivasi yang kuat agar amal kita tetap terjaga sentiasa, tidak usang kerana kepanasan dan tidak luntur karena kehujanan,tidak ghurur karena pujian, dan tidak kendurkarena cacian. Terus bergerak kearah tujuan yang paling tinggi puncak dan cita-citanya. Peliharalah keikhlasan dalam berkerja. Semoga kita sama-sama terus istiqamah dalam D&T.

p/s : terima kasih pada yang memberi artikel ni padaku ….jazaakallah

Peter Guru Bahasa Arab

arabic alphabet

Author : Asma Hanim Mahmood

KENAPA awak selalu pakai begini?” tanya seorang pemuda kulit putih kepada rakan sekampus kerana tertarik dengan pakaian yang dianggapnya kelihatan sopan dengan ciri kewanitaan.

“Kami orang Islam sebab itu kami pakai begini,” jelas sekumpulan gadis-gadis Melayu yang kelihatan manis bertudung yang tiba-tiba menyentap naluri Peter Wood Young untuk mengenali agama itu dan akhirnya memeluk Islam 20 tahun lalu.

Lelaki kurus berjambang yang memilih nama Muhammed Taha Abdullah ini berkata, tudung yang dipakai pelajar wanita Malaysia di Universiti Bridgeport, Connecticut, Amerika Syarikat itu telah mencetus rasa ingin tahunya ketika di hujung pengajian tahun pertamanya dalam jurusan fizik dan matematik.

“Saya tidak pernah dengar tentang Islam sebelum itu. Kalau ada pun secara tidak langsung melalui cerita pergolakan di Timur Tengah berkaitan minyak.

“Tetapi tidak ada yang konkrit. Pelajar wanita itu mengenalkan saya kepada beberapa pelajar lelaki Melayu yang lain yang menerangkan apa itu Islam,” kata Muhammed Taha, 40.

Beliau kemudian berulang alik ke masjid bertanya tentang Islam. Para pelajar Malaysia menjawab segala persoalan yang bermain di fikiran dan menyedarkannya bahawa penganut Islam tidak menyembah sesiapa melainkan Allah kerana Dia Tuhan yang berhak disembah.

Menurutnya, bukan sesuatu yang pelik apabila beliau hanya mengambil masa tiga bulan sebelum mengambil keputusan memilih Islam setelah meneliti secara rasional.

“Realitinya Allah menjadikan manusia untuk menyembah-Nya. Jadi apabila anda mendengar ‘kebenaran’, hati anda tidak akan berupaya menolaknya walaupun sepanjang hidup anda disuapkan fakta yang palsu,” kata Muhammed Taha.

Beliau diIslamkan oleh pelajar dari Kelantan, Mazri Yaakub dan Sufian Ismail pada tahun 1988.

Muhammed Taha telah berada di negeri Serambi Mekah sejak 15 tahun lalu dan berkhidmat sebagai guru bahasa Arab dengan menggunakan pendekatan mudah.

Anak bongsu kepada pasangan jurutera dan profesor universiti ini tidak menghadapi tentangan daripada ibu bapanya walaupun hanya memberitahu tentang anutan barunya setelah memeluk Islam beberapa ketika.

“Saya beritahu ibu, Connie Young, hasrat saya untuk berkahwin dengan isteri, Norliza Ghazali. Ibu pada mulanya terkejut dan bertanya adakah saya memeluk Islam kerana hendak berkahwin kerana dia boleh mencari wanita yang lebih cantik.

“Apabila saya menerangkan saya ikhlas memilih Islam sebagai pedoman hidup, dia tidak marah dan berharap saya istiqamah dengan pegangan saya,” kata Muhammed Taha.

Beliau berkahwin dengan Norliza pada tahun 1990. Norliza, 44, yang berasal dari Kampung Sanggang, Temerloh, Pahang yang ketika itu menyiapkan pengajian sarjana dalam Perniagaan Antarabangsa di universiti yang sama.

Walau bagaimanapun, pasangan suami isteri ini tidak menyempurnakan pengajian masing-masing di Bridgeport.

Muhammed Taha berhenti apabila mendapat tawaran belajar bahasa Arab di Universiti Islam Madinah, Arab Saudi dan membawa Norliza bersamanya dari tahun 1991 hingga 1994.

“Ibu saya juga yang menggalakkan saya ke Madinah. Kebetulan Universiti Bridgeport berdepan dengan masalah kewangan dan mogok kakitangan maka saya nekad berhenti dan mengambil peluang dari program biasiswa yang disediakan untuk orang yang baru memeluk Islam,” katanya.

Hasil perkongsian hidup dengan Norliza, mereka dikurniakan sembilan anak yang berusia antara 17 hingga 5 tahun.

Muhammed memilih Kelantan sebagai tempat menyebar ilmunya dalam bahasa Arab kerana percaya kecintaan tinggi penduduk di sini kepada bahasa al-Quran itu dan tertarik dengan suasana kehidupan.

“Seorang rakan mencadangkan nama saya kepada Guru Besar untuk mengajar di sebuah sekolah rendah Islam di Kota Bharu. Selepas beberapa bulan, saya membuka kelas bahasa Arab sendiri,” katanya.

Beliau amat mengingati pengalamannya yang berupaya mendapat ijazah dalam jurusan bahasa Arab selepas tiga tahun belajar di Universiti Islam Madinah.

“Saya ke sana tanpa sebarang pengetahuan dalam bahasa ini. Pihak universiti menempatkan saya di asrama bersama-sama pelajar asing yang bukan penutur Inggeris, jadi kami terpaksa bercakap dalam Bahasa Arab.

“Bila keluar ke bandar Madinah juga kita mesti memaksa diri bercakap bahasa Arab. Ditambah dengan kelas tujuh jam sehari, dalam masa tiga bulan saya tidak ada masalah untuk faham dan berinteraksi dengan masyarakat sekitar,” katanya.

Bagaimanapun, Muhammed Taha terkilan kerana di sebalik kebanjiran pelajar menuntut di sekolah agama dan aliran Arab di Malaysia, hanya sebilangan kecil yang dapat bertutur dan memahami bahasa ini dengan baik.

Katanya, menjadi pengetahuan umum bahawa ramai lepasan universiti Timur Tengah dari negara ini gugup untuk bercakap dalam bahasa Arab.

“Alhamdulillah di Malaysia boleh dikatakan semua anak-anak kecil sudah kenal huruf jawi dan membaca al-Quran dan ramai yang dimasukkan ke sekolah agama untuk belajar bahasa Arab tetapi hakikatnya hanya sedikit mampu berbicara dan memahaminya.

“Kita mengenalkan bahasa Arab sebagai satu subjek akademik, dan mengajarnya dengan tahap silibus sama seperti yang digunakan di negara Arab.

“Memang ia bagus tetapi kita perlu ingat bagi masyarakat Arab, ini adalah bahasa pertuturan seharian mereka,” katanya.

“Sudah tentu tidak payah untuk penuntut di sana mengikuti pelajaran yang ada dalam buku teks mereka. Tetapi bagi yang bukan penutur asal, ia sukar untuk diikuti majoriti pelajar. Sistem yang dipakai mestilah sesuai, mudahkan ia, jangan susah-susahkan.

“Pensyarah saya di Universiti Islam Madinah, Dr. V. Abdul Rahim yang berasal dari Pakistan menggunakan kaedah yang sesuai untuk pelajar bukan penutur asal bahasa Arab.

“Kami kenal bahasa Arab sebagai ‘bahasa’ dan bukan subjek akademik semata-mata,” katanya lagi.

Beliau sentiasa berhubung dengan bekas pensyarahnya memikirkan cara terbaik untuk mengajar kepada orang bukan penutur asal bahasa Arab.

Dr V. Abdul Rahim kini adalah Pengarah Pusat Terjemahan Kompleks Percetakan Quran Al-Malik Fahd, Arab Saudi.

Usaha Muhammed Taha mengajar bahasa Arab selama 15 tahun tidak sia-sia kerana sehingga kini beliau menjadi guru kepada hampir 1,000 orang terdiri daripada dari murid sekolah, doktor, peguam atau pesara.

“Beberapa bekas pelajar saya pula berupaya membuka pusat tuisyen bahasa Arab sendiri di Kelantan dan di Kuala Lumpur. Yang penting kita ajar bahasa ini untuk orang menguasainya bukan untuk menghafal kerana sijil,” katanya yang menyewa sebuah rumah dekat pinggir bandar Kubang Kerian.

Anak-anaknya yang berusia antara 5 hingga 17 tahun berkomunikasi dalam bahasa Arab di rumah. Mereka sering menjadi harapan guru mewakili sekolah dalam pelbagai pertandingan.

Anak lelakinya yang sulung, Moosa, berjaya menjadi johan dalam syarahan bahasa Arab peringkat kebangsaan pada tahun 2007. Moosa bersekolah di salah sebuah sekolah agama premier di negeri ini.

Muhammed Taha menggelar dirinya ‘Mat Saleh berkain pelikat’ kerana gemar memakai sarung termasuk semasa keluarga membeli-belah, berhasrat untuk kekal di Kelantan sehingga ke akhir hayatnya.

Katanya, beliau puas dengan kehidupan sederhana yang dimilikinya di sini. Hubungan dengan ibu bapa di Amerika dan abangnya di Britain tetap mesra.

“Namun, hati saya tetap gundah selagi mereka belum menganut Islam,” kata beliau.

Post Navigation

%d bloggers like this: