Saving Memoir

No more update after 1 December 2011 | moved to maktubat.wordpress.com

Archive for the category “Muslim Scholars”

Mengenang Teungku Hasan di Tiro : Mujahid Agung Nusantara

Disamping kesedihan kita terhadap apa yang berlaku pada Mavi Marmara, kapal kemanusiaan untuk rakyat Gaza yang ditindas kejam oleh Israel Laknatullah. Hari ini kita dikejutkan pula dengan kematian seorang ulama’ dan juga pejuang Islam yang cukup hebat!

Siapa beliau?

Nama : Hasan Muhammad Di Tiro
Lahir : 25 September 1925, di Tanjong Bungong, Pidie
Ayah : Tgk. Muhammad Hasan
Ibu : Pocut Fatimah
Pendidikan : – Madrasah Blang Paseh, dibawah asuhan Tgk. Daud Beureueh
– Normal School di Bireuen
– Universitas Islam Indonesia, Fakultas Hukum
– Program Doktor Ilmu Hukum Int’l, University of Columbia, AS
Karier : – Staf PM. Syafrudin Prawiranegara (1949 – 1951)
– Perwakilan Indonesia di PBB (1951 – 1954)
– Menlu NII Aceh dan Wakil Tetap NII Aceh di PBB (1954-1963)
Isteri : Karim Di Tiro

Beliau ialah Teungku Hasan di Tiro, pengasas Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang sangat gigih dan tabah dalam usaha memerdekakan Aceh. Untuk apa? untuk menegakkan sebuah negara Islam merdeka yang menjalankan Syariah Islamiyyah. Aku pernah mendengar nama beliau sebelum ini, mungkin ketika memuncaknya konflik di Aceh beberapa tahun lalu. Setelah aku bermusafir ke Aceh pada 16 Mei 2010 yang lepas barulah aku betul-betul  “diperkenalkan” dengan perjuangan beliau. Namun, perkenalan ini tidak lama, hanya setelah 2 minggu aku meninggalkan bumi Aceh Darussalam beliau menghadap penciptanya, Allah ‘Azza WaJalla.

Beliau meninggal sekitar jam 1215 siang hari tadi waktu Aceh (1315, waktu malaysia) di Hospital Zainal Abidin, Banda Aceh pada usia 85 tahun pada 3 Jun 2010.  Semoga Allah memberkahinya serta mencucuri rahmat-Nya ke atas pejuang Islam & Bangsa yang hebat ini. Walaupun Aceh tidak mencapai kemerdekaannya namun sekurang-kurangnya Aceh dapat berehat daripada sengsara perang puluhan tahun lamanya. Aku belum sempat lagi membaca sepenuhnya sejarah hidup tokoh hebat ini. Oleh itu, aku copy satu artikel berkenaan beliau untuk kita mengenali tokoh ini secara kasar. Sebelum itu, hadiahkan Al-Fatihah untuk Allahyarham Teungku Muhammad Hasan di Tiro.

Artikel ini baru saja ditulis oleh Dr.Munawar A. Djalil, M.A. pada 2 Jun 2010. (sehari sebelum Tgk.Hasan diTiro meninggal)

DALAM catatan sejarah Aceh, Teungku Hasan Tiro adalah salah satu tokoh politik Aceh terakhir setelah Allahuyarham Teungku Muhammad Daud Beureueh. Sejak tahun 1985 dia hidup dan tinggal di perkampungan Aceh di Kota Nodsborg, 20 km di selatan Stockholm Swedia. Teungku Hasan Di Tiro bernama lengkap Hasan Bin Leube Muhammad dilahirkan pada 25 September 1925 di Kampung Tanjong Bungong, Lamlo, Kecamatan Kota Bakti Kabupaten Pidie.

Ayahnya bernama Leube (lebai) Muhammad dan Ibundanya bernama Pocut Fatimah Binti Mahyiddin Binti Teungku Syekh Muhammad Saman Binti Syeikh Teungku Abdullah. Secara silsilah keluarga, hubungan Teungku Hasan dan Teungku Chik Di Tiro Muhammad Saman hanya berdasarkan dari garis keturunan sebelah pihak perempuan saja, maksudnya Teungku Hasan Tiro masih sebagai cucu daripada Teungku Chik Di Tiro, walaupun dari keturunan ibundanya.

Teungku Chik Di Tiro berasal dari keluarga ulama Tiro dan juga  keluarga pejuang, sehingga darah ulama dan darah pejuang menjadi turun temurun kepada anak-anak bahkan hingga ke anak cucunya sekalipun. Sebenarnya agamalah yang sangat memainkan peranan penting dalam kehidupan keluarga Teungku Chik Di Tiro hingga dapat  menyebarkan semangat jihad bukan hanya pada keluarganya saja, akan tetapi sanggup membangun sebuah prinsip umum tentang pentingnya jihad untuk menegakkan kebenaran. Sehingga C. Snouck Hurgronje dalam bukunya, “The Acehnese”, menyatakan bahwa Teungku Chik Di Tiro Muhammad Saman adalah sebagai seorang pemimpin perang suci  (holy war) hingga akhir hayatnya, seorang pemimpin besar Aceh, dan bahkan seorang pemimpin ulama pembaharuan.

Bagaimanapun juga keluarga di Tiro disamping sebagai ulama juga sebagai pejuang Aceh. Mereka sangat berperan dalam perjuangan melawan Belanda. Dari Teungku Syik Muhammad Saman sampai anaknya yang terakhir Teungku Muaz (Syahid 3 Desember 1911) terus menerus berjuang di jalan Allah. Atas dasar semangat inilah sangat wajar kalau “Wali Nanggroe” Teungku Hasan Tiro menyebut dirinya sebagai turunan pejuang dari keluarga Tiro dengan mendeklarasikan Gerakan Aceh Merdeka 4 Desember 1976 sebagai kelanjutan perjuangan setelah vakum selama 65 tahun.

Syahdan, Teungku Hasan Tiro sebagaimana yang dikemukakan oleh banyak tokoh-tokoh politik dan sahabat karibnya bahwa Hasan Tiro adalah seorang yang mempunyai otak cemerlang karenanya setelah selesai pendidikan di Amerika tingkat S3 (doktor) dia menjadi pegawai tetap di Kementerian Penerangan Indonesia di PBB.

Menurut Cornelis Van Dijk, seorang pakar sejarah asal Rotterdam, Belanda, dan dia juga merupakan seorang peneliti di sebuah pustaka yang menyimpan seluruh dokumentasi kehidupan rakyat Indonesia masa penjajahan yaitu KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal Landen Volkenkunde) dan peneliti pada Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Carribean Studies, sejak 1968.

Tgk Hasan di Tiro ; mujahid yang digeruni kawan dan lawan

Dia berpendapat bahwa Teungku Hasan Tiro sebagai seorang yang mempunyai daya intelektual yang tinggi, berpendidikan yang baik, dan mempunyai kombinasi ilmu politik dan hukum yang jarang terdapat pada kebanyakan orang. Di samping kecemerlangan otaknya, Teungku Hasan Tiro juga punya sifat kemandirian yang tinggi. Sifat khusus yang dimiliki Teungku Hasan Tiro pernah disinggung oleh seorang kolumnis Richard C. Paddock dalam harian Los Anggeles Times (30 Juni 2003), dia menulis akan kekaguman terhadap Teungku Hasan Di Tiro dengan kekhususan sifat yang dimilikinya. Berjuang di hutan belantara Aceh dan meninggalkan kemewahan hidup yang sudah didapatkannya di New York, AS.

Dalam buku yang ditulis Teungku Hasan Tiro 1981 “The Price of Freedom: The Unfinished Diary”. Buku ini memaktubkan kisah hariannya ketika berada di Aceh dari 4 September 1976 hingga 29 Maret 1979. Buku ini penuh dengan semangat hidup yang tak pernah pudar dari Teungku Hasan Di Tiro. Dalam pengantar buku itu dia menulis: “Saya punya istri yang cantik dan seorang bocah kecil yang sangat tampan. Saya juga sedang memasuki tahap tersukses dalam bisnis. Saya punya kontrak bisnis dengan para pengusaha dunia dan telah masuk dalam lingkaran pemerintahan dunia, seperti AS, Eropa, Timur Tengah, Afrika dan Asia Tenggara kecuali Indonesia. Dari catatan itu seolah-olah beliau menggambarkan bahwa demi “tanoh endatu” dia rela mengorbankan itu semua.

Disamping itu buku setebal 226 halaman ini menulis beberapa catatan sejarah bahwa Indonesia merupakan satu wilayah di permukaan bumi ini yang panjangnya sama antara Moskow dan Lisabon, dan lebarnya sama antara Roma dan Oslo dengan penduduk lebih dari 185 juta jiwa, yang terdiri dari berbagai bangsa, bahasa, budaya yang sama banyaknya seperti terdapat di benua Eropa, yang luasnya sama dengan wilayah di peta dunia yang disebut Indonesia itu. Maka sangat bodoh, bila kita berbicara perkara “Nasionalisme Eropa”, demikian juga dengan “Nasionalisme Indonesia” yang keberadaannya yang tidak pernah mengerti tentang sejarah, budaya dan geopolitik dari dunia Melayu.

Namun yang menarik dalam beberapa catatan tentang Teungku Hasan Tiro adalah–Untuk “membebaskan Aceh”–dia rela meninggalkan keluarganya dan segala kemewahan hidup. Teungku Hasan Tiro juga mengakui dalam bukunya tersebut bahwa hal yang sangat berat dalam hidupnya adalah ketika harus meninggalkan keluarga yang sangat dicintainya. Dia meninggalkan bocah semata wayang yang saat itu baru berusia 6 tahun.

Teungku Hasan Tiro sempat mencatat lagi “saya akan merasa gagal jika tidak mampu mewujudkan hal ini, harta dan kekuasaan bukanlah tujuan hidup saya dan bukan pula tujuan perjuangan ini. Saya hanya ingin rakyat Aceh makmur sejahtera dan bisa mengatur dirinya sendiri.” (The Price of Freedom:The Unifinished of Diary (1981) h. 140).

Sujud syukur sebaik saja mendarat di Bandara Sultan Iskandar Muda, Aceh

Teungku Hasan Tiro telah pulang ke “tanoh endatu” untuk kedua kalinya setelah Oktober 2008 lalu. Kepulangan kali ini sebenarnya hanya untuk tujuan bersilaturrahmi dengan seluruh masyarakat Aceh karena selama puluhan tahun beliau mengasingkan diri di luar negeri dan sekaligus ingin melihat hasil perjuangan yang telah lama dirintisnya. Nampaknya perjuangan “Wali Nanggroe” selama 30 tahun telah berbuah hasil dengan lahirnya MoU Helsinki dan peraturan organik UUPA 2006. Namun yang sangat ironi cita-cita perjuangan “Wali” untuk memakmurkan rakyat belum sepenuhnya tercapai, kemakmuran itu baru dirasakan oleh “segelintir” orang saja yang punya andil dalam perjuangan dan kaum oportunis–kelompok ini kata endatu adalah “yang gabuk-gabuk cok si-hah yang bagah-bagah cok si-deupa”.

Kini sang “Deklarator GAM” sedang terbaring sakit di RSU-ZA Banda Aceh. Sebagai muslim mari sama-sama berdoa, semoga Allah Swt menyembuhkan penyakit saudara kita. Ya Jabir Kullu Maksur, Wahai penyembuh segala kesakitan, berikan kesehatan kembali kepada orang tua kami Teungku Hasan Muhammad Di Tiro. Amien.

Kewafatan Sheikh Al-Azhar Dr. Muhammad Sayyid Tantawi

Alfatihah…

Sheikh Al-Azhar telah meninggal dunia pagi ini 10 Mac 2010 / 25 Rabi’ul Awwal 1431  selepas menghadiri Majlis Penganugerahan Antarabangsa Malik Faisal di Riyadh, Arab Saudi. Ulama’ besar dunia Islam yang kontroversi ini wafat pada usia 82 tahun. Beliau meninggal dunia ketika menaiki tangga kapal terbang untuk pulang ke Kaherah, Mesir setelah diserang sakit jantung ( BUKAN dari Kaherah menuju ke Arab Saudi seperti mana laporan Berita Harian ) kesilapan laporan Berita Harian mungkin disebabkan salah terjemah dari Arab ke Melayu.

Seperti mana yang anda sangkakan, akhbar Malaysia memang sengal. Berita kematian orang yg tiada kepentingan politik di Malaysia pun boleh silap apatah lagi jika keadaan sebaliknya.  Apa pun, itu hanya sampingan dari entri kali ini ( geram sangat dengan akhbar malaysia ni).

Sheikh Sayyid Tantawi telah dilantik menjadi Sheikh Al-Azhar selama 14 tahun sehingga kewafatan beliau pada 10 Mac 2010.

Jenazah mulia Sheikh Tantawi ( rahimahullah) ini dikebumikan di perkuburan Baqi’ (sebelah Masjid Nabawi), Madinah, Saudi Arabia.  Pengkebumian jenazah Shaykh di perkuburan Baqi’ adalah hasil perbincangan pihak bertanggungjawab di Mesir dan Arab Saudi serta ahli keluarga Shaykh sendiri, sepangjang hayatnya beliau tidak pernah mewasiatkan supaya dikebumikan disitu, sesungguhnya ianya adalah ketentuan dari Allah.  Sebagai makluman, Sheikh Sayyid Tantawi adalah Ulama’ Islam Mesir yang pertama dikebumikan di Baqi’ selepas  Sheikh Dr. Muhammad Al-Ghazali.

Harus kita ketahui bahawa Perkuburan Baqi’ adalah tanah perkuburan yang dipilih oleh Rasulullah untuk orang Islam atas arahan Allah. Telah diriwayatkan satu hadis daripada Ibn Umar ( r.a ) katanya :

Rasulullah (S.A.W) bersabda : ” Aku adalah orang pertama yang akan dibangkitkan dari bumi ini, kemudian Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian datang pula Ahli Baqi’ ( mereka yang dikuburkan di Baqi’) maka berkumpul bersamaku, kemudian kelihatan pula Ahli Makkah kemudiannya berkumpul diantara 2 tanah haram ( Makkah & Madinah ) ” ~ Riwayat Tirmidhi 5/622, Ibn Hibban 15/324, Al-Hakim dan At-Tabaroni.

Merekalah antara orang yang terawal dibangkitkan selepas Rasulullah. Semoga Allah mencucuri rahmahnya ke atas ruh dan jasad Sheikh Sayyid Tantawi yang telah banyak berjasa pada dunia Islam hari ini dikala Islam dipandang hina. Kewafatan Sheikh bermakna telah hilanglah satu mutiara berharga dalam dunia Islam, dan telah berkuranglah ilmu dengan wafatnya ulama’. Semoga kita juga akan menempa perjalanan yang sama demi menjunjung kalimah tauhid

لا اله الا الله

Haji Wan Adam Kampung Laut

TUAN GURU HAJI WAN ADAM ( 1906 – 1975 )

Nama beliau ialah Wan Adam Bin Che Ali Bin Che Senik (rahimahumullahu),lebih dikenali dengan panggilan Pak Su Wan Adam Kg. Laut. Beliau dilahirkan sekitar tahun 1906M  di Kampung Laut dalam Jajahan Tumpat, Kelantan, hasil perkongsian hidup ayahnya dengan ibu beliau, Wan Maimunah. Tiada maklumat yang tepat mengenai tarikh sebenar kelahiran beliau. Datuknya Che Senik, seorang guru Al-Quran berasal dari Champa, Kemboja yang kemudiannya berhijrah ke negeri Kelantan dan bermastautin di Kampung Laut. Beliau dilahirkan dalam keluarga yang besar dengan jumlah adik-beradik beliau kesemuanya 23 orang hasil perkahwinan ayahandanya, Che Ali dengan empat orang isteri. Ayahandanya Che Ali juga merupakan seorang guru Al-Quran yang ‘alim dan wara’ dan mengajar di Kampung Laut. Manakala bapa saudaranya, Che Tahir merupakan Imam di Masjid Lama Kampung Laut.

 

PENDIDIKAN BELIAU

Persekitaran keluarga beliau yang berpegang teguh pada ajaran agama menjadi pemangkin kepada dirinya untuk turut mencintai ilmu agama. Beliau mendapat didikan asas daripada ayahandanya sendiri. Seawal usia remajanya, beliau dihantar oleh ayahandanya untuk menuntut ilmu di Pondok Mufti Haji Wan Musa di Jalan Merbau, Kota Bharu, Kelantan. Beliau merupakan salah seorang daripada 3 orang murid yang paling disayangi oleh gurunya, al-‘Allamah Mufti Haji Wan Musa anak Tuan Tabal (rahimahumallah). Maka tidak hairanlah jika gurunya ini banyak mempengaruhi pemikiran beliau dalam memperjuangkan sunnah Rasulullah dengan mengangkat Al-Quran dan Hadis sebagai sumber utama terutamanya dalam masalah Fiqh Ibadah. Dengan gurunya inilah beliau menuntut ilmu Fiqh dan Tasawuf serta menerima ajaran Tariqat Ahmadiah. Kemudian beliau dihantar oleh gurunya, Mufti Haji Wan Musa untuk menuntut ilmu hadis dengan Tok Khurasan (rahimahullah) seorang pakar hadis yang mengajar di suraunya di Kampung Sireh. Kecintaan beliau pada ilmu membawa beliau merantau ke Besut, Terengganu untuk menuntut ilmu dengan Tuan Guru Haji Abbas Besut. Disamping itu beliau juga sempat berguru dengan seorang ulama’ dari Makkah yang datang menetap di Kampung Dalam Pandan,Tumpat, iaitu Sidi Azhari (rahimahullah) yang merupakan salah seorang sheikh bagi Tariqat Ahmadiah (ulama’ ini kemudiannya kembali menetap di Makkah). Manakala berkenaan guru-guru beliau yang lain tidak didapati sumber yang jelas mengenainya. Selepas tamat pengajian, beliau kembali ke Kampung Laut dan membina suraunya tidak jauh dari Masjid Lama Kampung Laut. Beliau berulang-alik mengajar di surau tersebut dan satu lagi surau yang terletak di sebelah Hulu Market, Kampung Laut yang sekarang dikenali sebagai Surau Haji Wan Adam. Bagaimanapun surau beliau yang terletak tidak jauh dari Masjid Lama itu telah musnah dalam peristiwa Bah Besar sekitar tahun 1960-an. Sebagai seorang yang cintakan ilmu, hubungan beliau dengan guru-gurunya tidak pernah renggang walaupun setelah tamat pengajiannya dan saling berhubung. Kadang-kadang, gurunya Mufti Haji Wan Musa dijemput untuk mengajar di Kampung Laut. Beliau pernah ditawarkan jawatan Imam Besar Masjid Muhammadi Kota Bharu tetapi beliau menolak kerana tidak mahu terikat dengan Sultan yang menjadi ketua agama negeri.

PERWATAKAN

Sepanjang hayatnya, beliau dikenali sebagai seorang ulama’ yang tegas dalam pendirian dan juga garang. Beliau tegas mempertahankan pendirian beliau dalam menjunjung sunnah Rasulullah S.A.W dan tidaklah keterlaluan jika dikatakan beliau sebagai seorang reformis atau pembawa pembaharuan dalam ibadah masyarakat Islam di Kampung Laut. Beliau berani mengutarakan pandangan beliau berdasarkan ilmu walaupun ianya bertentangan dengan amalan penduduk Kampung Laut pada ketika itu dan ditentang keras oleh beberapa guru agama yang tidak sependapat dengan beliau. Namun begitu, kebanyakannya hanya berkisar kepada masalah furu’ (cabang agama) sebagai contoh beliau menentang amalan membaca talqin dikuburan yang  bertentangan dengan sunnah nabi dan banyak lagi perkara lain seperti masalah doa qunut ketika Solat Subuh, meletakkan ‘belindang’ atas kubur dikawasan perkuburan awam, sambutan Maulid Rasul dan lain-lain.  Sikap cintakan ilmu beliau dibuktikan dengan pertemuan mingguan beliau dengan sahabat seguru beliau di Kota Bharu untuk berdiskusi ilmu-ilmu agama dan kitab-kitab. Antara sahabat rapat beliau yang menjadi teman perkongsian ilmu ialah, Hj. Nik Mat Nazir Hj. Wan Musa, Hj. Nik Mahmud Hj. Wan Musa,Hj. Nik Hasan, Hj. Nik Mat Alim Raja Banjar (ayahanda Tok Guru Dato’ Nik Abdul Aziz), Hj. Daud Kedai Kitab dan Maulana Abdullah Nuh. Betapa agungnya cinta beliau terhadap ilmu agama dapat digambarkan apabila suraunya lenyap dihanyut arus Bah Besar pada sekitar tahun 1960-an, puluhan kitab beliau turut musnah sama menyebabkan beliau demam selama seminggu memikirkan dan rindukan kitab-kitabnya yang telah musnah. Kitab-kitab milik beliau mengjangkau angka ratusan.

Selain itu beliau juga terkenal dengan sifat tawaduk beliau yang menundukkan pandangan beliau daripada wanita, beliau tidak bercakap dengan wanita kecuali ada tabir yang memisahkan pandangan beliau dengan wanita tersebut kecuali ahli keluarga yang terdekat. Beliau juga seorang yang bencikan perbuatan yang sia-sia seperti melepak di wakaf dan kedai-kedai kopi. Pernah satu ketika beliau membuang wakaf kecil yang dijadikan tempat melepak dan bermain ‘dam’ kedalam sungai. Terpengaruh dengan gerakan pemikiran dan tajdid oleh Sheikh Muhammad Abduh dan didikan Mufti Hj.Wan Musa menjadikan beliau seorang ulama’ yang progresif dalam memperjuangkan Islam dan ini dapat dibuktikan dengan penglibatan beliau dalam Parti Islam Se-Tanah Melayu (PAS) serta menganggotai dewan ulama’ parti tersebut diperingkat kawasan.

MENINGGAL DUNIA

Pada tahun 1975, beliau mengerjakan haji bersama isteri dan anak lelakinya. Setelah berada di Makkah, beliau kemudiannya berangkat ke Madinah. Setelah 5 hari berada di Madinah, beliau ditimpa demam panas. Namun, Allah lebih menyayangi ulama’ ini, akhirnya beliau menghembuskan nafas terakhirnya di Madinah pada 17 November 1975M pada usia 69 tahun dan dimakamkan di Perkuburan Baqi’ 70 langkah jaraknya dibelakang maqam Imam Malik (rahimahullah) dan bersama-sama ribuan para sahabat nabi. Beliau meninggalkan 7 orang anak hasil perkahwinannya dengan 2 orang isteri. Anak dengan isterinya yang pertama, Hajjah Wan Sufinah ialah Wan Fatimah, Wan Zainab dan Mohd Nordin. Manakala dengan isterinya yang kedua, Wan Aminah ialah Wan Khadijah, Wan Muhd Shamsuddin, Wan Ibrahim dan Wan Kalsom.

Mufti Haji Wan Muhammad @ Ahmad

Mufti al-Hajj Wan Ahmad@Muhammad Al-Kelantani

Shaykh Wan Ahmad @ Muhammad was born on Friday, 5 Rajab 1287 A.H / 1868 A.C at Jalan Tok Semian, Kota Bharu, Kelantan.  He was a charismatic Islamic scholar at his time and also can be considered as a politician with his involvement in the state administration.  He was the elder one in his family and his father, Tuan Tabal was also an Islamic scholar and a master in ilm fiqh, tauhid and tasawuf, thus he began his scholarly career at home.  He had been travelled by his father to Mecca at the age of 11 on 1298 A.H. to study with Islamic scholar at Mecca. He was a student to Shaykh Wan Ali Kutan (r.h) a Malay-Islamic scholar who stayed at Mecca for his entire life and he also studied with other Islamic scholar at Masjidil Haram,Mecca.  During his life at Mecca, Shaykh Wan Ahmad was studied a martial art with Mr.Kasim Betawi. He was also a friend to Tok Kenali, other Kelantenese-Islamic scholar during his studies at Mecca.

After he coming back to his homeland from his studies at Mecca, he became a teacher at his father’s madrasah, teaching people the religion knowledge especially Ulum-ul-Qur’an. Then, he was being appointed as an Imam at the Central Mosque, Masjid Muhammadi Kota Bharu by HH Sultan Mansor on 15 Jumad-al-Akhir 1314 A.H.  He also became a religion teacher to the royal family, he was a teacher to Sultan Ismail and Sultan Ibrahim (both become the Sultan for the State of Kelantan). On 7th December 1915 A.C , he was being appointed as the member of the State Religion Council ( Majlis Agama Islam Kelantan) and a year later he became Grand Qadhi or Hakim for the Shari’ah Courts. At the same time he was also being appointed as a Grand Mufti for the Kelantan State on 1916 A.C. as he replaced his brother  Shaykh Hajj Wan Musa, the 3rd Mufti of Kelantan who was the previous mufti.

Shaykh Wan Ahmad not only involve in the religion field, he also a member of the State Executive Council. During his service as the executive members, he suggested the name “Darul Naim” as a nickname for the State of Kelantan. Until now, Kelantan always referred as Kelantan Darul Naim. He held many position in the state government, because of his ability and knowledge he was being appointed as a Chief for Islamic Scholar Department of The State Religion Council. As his good service for the government and held many great position on the state administration, he was being honored by HH Sultan of Kelantan with a royal award, Bintang Seri Mahkota as he was the first Mufti/Islamic Scholar being granted with that award.

During his life, he was married with 4 wives and has 12 children.  His character shows that he was a person who combines the Religion and Politics together just like the Prophet Muhammad (p.b.u.h) who was a prophet and also a politician. This great and noble Islamic scholar died on 6th December 1920 A.C./ 25 Rabi’-ul-Awal 1339 A.H. at the age of 51 years old and had been buried at Kampung Banggol, Kota Bharu, Kelantan Darul Naim, Malaysia.

Who is Nik Abdul Aziz Nik Mat ?

PULP FRICTION: Tomyam And Theocracy

By Amir Muhammad

I RECENTLY attended a ‘live’ talk by Nik Abdul Aziz Nik Mat, even though there was no byelection in sight. It was on a Kota Baru street on a Friday morning.

He spoke for almost an hour but thousands of people stayed put. It’s a weekly ritual known as sekolah atas tembok, which in this context translates to mean ‘school on the street’ rather than ‘school on a concrete wall’. He didn’t have to raise his voice;

the 78-year-old is a skilled orator who makes people want to stay quieter in case they miss something.

He made them laugh, make them nod and kept them keen. I initially thought this book was a collection of speeches by the Pas Spiritual Adviser and Kelantan Menteri Besar, but it’s rather different. His actual words consist mainly of 29 things that he has said.

Each saying is then placed at the beginning of each chapter as an aphorism; a well of wisdom, as it were, which the editor then draws upon. Some of the homely wit then becomes dissipated in favour of literal explication.

His gift is his ability to talk about politics and religion (and he belongs firmly in the camp of those who do not ostensibly separate between the two) in images that are rooted in everyday lived experience. Take this: “When our wife cooks tomyam, she doesn’t create the salt, carrot, chicken, or water; she merely arranges these existing ingredients into a pot.”
This isn’t some sexist attempt to discredit the poor woman’s cooking. It relates to how people must always be conscious that everything around us is on loan from the Creator. And so tomyam gets placed in its theocratic context.

There are few politicians who’ve had not only the Tok Guru’s staying power but enduring appeal. (Take a look at the upper echelons of, say, the MIC, to see that ‘staying power’ and ‘enduring appeal’ don’t always go together).

Although he might shun such a comparison to a Shi’ite leader, the prevalence of his pictures in Kelantan shops and houses can only be compared to how Khomeini was once used as an emblem of resistance.

The only quote from Nik Aziz that doesn’t get extra explication here starts with: “I am scared of worldly titles like Yang Amat Berhormat (Most Honourable), because in the Afterlife, it might become the reverse.” Another example is Yang Amat Arif (The Most Learned) becoming Yang Amat Bebal (The Most Stupid).

Speaking of “worldly titles”: his humble lifestyle is a big reason for his popularity, but there’s something more. Anyone who has been to a boarding school can see how Kelantan Malay guys would always band together and create almost an autonomous entity.

It’s not for nothing that the only local film title of recent years to actually reference a State happens to be Budak Kelantan – and this is a State with no cinemas! This desire to be seen as different also extends to politics. Be that as it may, an interesting creative tension emerges when you realise that, in his speeches and this book, Nik Aziz rejects the idea of communal separation on the basis of ethnicity or locality.

Ketuanan Melayu (Malay supremacy), for example, is an assabiyah (tribalist) concept, and contemptible because of that. What I mean by creative tension is that this universality is consciously articulated in a vernacular that is local (Kelantanese) and proudly so.

This isn’t hypocrisy but what the sociologists among us would call “local genius”. More than any other Pas leader at present (the only contender would have been the late Fadzil Noor and, further back in its illustrious past, the more towering figure of Burhanuddin al-Helmy), Nik Aziz has never seemed to be a mere politician, but the embodiment of a certain hope, a certain dignity.

That’s why politicians from the other side of the fence who go and promise to bless the State with “development” seem hilariously off the mark. People there already feel quite blessed, thank you very much!

● Amir Muhammad is a writer, publisher and occasional moviemaker based in an amorphous region called Damansara. He loves nasi dagang.

Sumber: http://www.mmail.com.my/content/6274-pulp-friction-tomyam-and-theocracy

Dr. Fathi Yakan : Pemergian Seorang Ulama’

Dalam kesibukan menjalani urusan harian didunia ini, aku terlupa untuk mengikuti perkembangan semasa Dr.Fathi Yakan selepas beliau dimasukkan ke hospital.

Fathi YakanAlmarhum Dr. Fathi Yakan

Al-Fatihah

Pada 19 Jamadil Akhir 1430 H bersamaan 13 Jun 2009…..ulama dan tokoh gerakan Islam yang terkenal Dr. Fathi Yakan ( rahimahullahu ta’ala ‘anhu ) melabuhkan tirai kehidupan dunianya untuk menghadap Allah Rabbul Jaleel..

Beliau dilahirkan pada 9 Februari 1933 di Tripoli, utara Lubnan.  Memiliki PhD dalam Bahasa Arab dan Pengajian Islam, beliau merupakan tokoh pelopor gerakan Islam sekitar tahun 1950-an. Beliau pernah memimpin Lebanese Al-Jamaa Al-Islamiyah sebuah gerakan dan parti politik Islam di Lubnan dan pernah memenangi kerusi Parlimen.  Tokoh yang sangat berpengaruh di Lubnan dan juga seluruh dunia Islam ini telah mengarang sebanyak 35 buku yang telah diterjemahkan kedalam pelbagai bahasa. Antara buku beliau yang paling popular dan dimiliki oleh hampir setiap ahli gerakan Islam seluruh dunia ialah “Apa Erti Saya Menganut Islam ?”.

Kehidupan keluarga beliau bermula apabila beliau mengahwini Mona Haddad yang kemudiannya sama-sama mengasaskan sebuah universiti Islam swasta, Al-Jinan University. Beliau dianugerahkan 4 orang anak perempuan dan seorang lelaki. Beliau terkenal dengan usahanya menyatukan pengikut Sunni dan Shi’ah supaya menjadi satu umat Islam untuk menentang Israel. Mesejnya itu disampaikan melalui khutbahnya ketika dia mengimamkan Solat Jumaat pada 8 Disember 2006 ketika perang Israel-Lubnan.

fathi yakan, sunni-shiie

Syeikh Malik as-Syiar yang mengimamkan jenazah beliau telah berkata:

إن طرابلس مدينة العلم والعلماء، ومعها العالم الإسلامي بأسره تودع رجلاً من كبارها وعلمًا من أعلامها رائد الحركة الإسلامية ومؤسسها، من أفنى عمره وحياته في سبيل الدعوة إلى الله عز وجل

“Sesungguhnya Tarablas adalah bandar ilmu dan ulama. Seluruh dunia Islam telah mengucapkan selamat tinggal kepada seorang tokoh dan panji Umat Islam. Beliau juga adalah pelopor dan pengasas bagi Gerakan Islam yang telah menghabiskan kehidupannya untuk berdakwah kepada Allah.”

Akhir kalam, sama-samalah kita renungi kata-kata Ustaz Zaharuddin dalam websitenya :

Perlulah diingat bahawa jika kita ingin menghargai jasa dan usaha seseorang tokoh, bukanlah dengan menggantung gambarnya di rumah, memaparkan gambarnya di sana sini. Itu bukanlah cara yang disaran oleh Rasulullah s.a.w, namun cara yang betul adalah dengan menghidupkan usahanya, menyebarluaskan nasihat dan hasil pemikirannya dengan cara yang terbaik.

Post Navigation

%d bloggers like this: