Saving Memoir

No more update after 1 December 2011 | moved to maktubat.wordpress.com

Archive for the category “Motivation”

The Happiest People

pic by leighfie on devianART


وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّـهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“And those who strive for Us – We will surely guide them to Our ways. And indeed, Allah is with the doers of good. ” Al-Quran [29:69]

♣  ♣  ♣

“ There is no succes without hardships and initial setbacks. If it was so easy, anyone could have done it. Remember that no one has ever learnt anything from a succes. It’s our failure that teach us.”

♣  ♣  ♣

“It is one of the strange ironies of this strange life [that] those who work the hardest, who subject themselves to the strictest discipline, who give up certain pleasurable things in order to achieve a goal, are the happiest people”
~ Brutus Hamilton

Yakinlah ! Yakinlah pada-Nya

Dah lama tak update blog ni.Terlalu banyak perkara yang perlu aku settlekan. Nenek aku meninggal, pastu dpt offer untuk sambung pengajian. Buat keputusan on the spot sebab takde masa terluang untuk berfik dengan tenang, hanya mengikut kata hati. Bila dah sambung belajar, sibuk dengan registration, assignment bertimbun walaupun baru 2 minggu kat sini Dah 4 presentation. wireless connection kat sini plak cam sial. Apapun, bersyukurlah apa yang ada serta bersabar terhadap ujian yang dihadapi.

Kali ini, aku nak kongsi artikel je la. Tak sempat nak tulis sendiri.

Yakinlah ! Yakinlah kepadaNya.

Author: Lhinblue alfayruz

Kunci tauhid itu satu: YAKIN.

YAKIN bahwa hanya Allah yang Maha Kuasa terhadap apa yang terjadi di dunia ini
YAKIN bahwa apapun yang terjadi pada diri kita, itu semua dikehendaki oleh Allah
YAKIN bahwa Allah menghendaki kebaikan dan keburukan yang menimpa diri kita dengan suatu tujuan
YAKIN bahwa dalam setiap kejadian yang menimpa kita, itulah keputusan terbaik dari-NYA setelah ikhtiar terbaik yang kita lakukan
YAKIN bahwa doa maupun jeritan hati kita didengar oleh Allah karena DIA begitu dekat
YAKIN bahwa doa adalah senjata ampuh kaum mukmin

Setelah mengikuti acara UI Bertauhid yang diisi oleh KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) sebagai contemplation akhir tahun Masehi, yang diadakan pada Selasa, 28 Desember 2010, di Masjid Ukhuwah Islamiyah, Universitas Indonesia, Depok, aku menjadi semakin yakin bahwa memang keyakinan terhadap Rabb itulah yang membuat hidup seseorang menjadi tenang. Jika mendapatkan ujian kesulitan, bersabarlah sedangkan jika mendapatkan ujian kenikmatan maka bersyukurlah. Ya! Memang seharusnya dua hal itulah yang dilakukan kaum mukmin dalam menjalani roda kehidupan ini: bersabar dan bersyukur. Apapun yang terjadi pada diri kita, semua itu dikehendaki oleh Allah. So, jangan pernah takut menjalani hidup, ada Allah Yang Maha Besar dan Maha Kuasa. Mintalah padaNYA niscaya DIA akan mendengarkan segala pinta.

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ”Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (QS. Al-Ankabut: 2-3)

Sejatinya, hidup ini adalah sebuah perjalanan dari satu ujian menuju ujian berikutnya. Entah itu berupa ujian kesulitan maupun ujian kenikmatan. Setiap kita yang mengaku beriman tidak akan dibiarkan begitu saja, masing-masing diri kita akan diuji sesuai kadarnya masing-masing, bahkan Allah akan menguji di titik terlemah kita. Ujian itulah yang akan membuktikan keimanan kita, apakah kita benar-benar beriman atau hanya mengaku beriman padahal ternyata keimanan kita hanyalah dusta.

Selepas dari kajian Aa Gym ini, aku langsung mendapatkan ujian berkaitan dengan keyakinan pada Allah.

Di suatu siang, di sebuah auditorium FIB UI, ketika aku sedang berada di acara yang dihadiri Puan Asma Nadia sebagai pembicara, di tengah-tengah asyik memperhatikan isi acara tentang dunia kepenulisan dan perfilman, ada sms datang di layar HPku:

”Lhin, bahan-bahan qta di almari lab ga ada.. cuma tertinggal benzil klorida. Semuanya udah pd dibuangin ke bakul sampah..”

Segera kubalas: ”ya ampuunn.. itu kan ada ionic liquids yang harganya mahal banget.. aduuuhh,, gmana ini?? Kamu tlg cari2 dulu di bak sampahnya ya..”

”Udah aku cari-cari n obrak abrik tong sampah akhir,, tapi gak ketemu Lhin..aku udh mau pingsan niih rasanya..”

Aku langsung teringat bahan berhargaku, bahan penelitian yang begitu butuh perjuangan untuk mendapatkannya. Ionic liquids [BMIM] PF6 yang bernilai 3.5 juta rupiah (RM 1183) hanya untuk 5 gram, yang harus didapatkan dari Singapura, yang harus menunggu waktu yang lama dalam pemesanannya. Ya Allah! Padahal penelitianku sudah usai dan tinggal menunggu sidang, kenapa masih ada masalah dengan bahan berhargaku itu??

Hatiku dag dig dug dan segera aku tinggalkan auditorium FIB UI untuk menuju gedung Departemen Kimia UI. Ya! Segera kutinggalkan acara yang sangat menarik itu demi bahan penelitianku yang berharga. Bukan hanya masalah harga yang selangit dari bahan penelitian itu yang membuat hatiku dag dig dug. Ini masalah amanah yang aku pikul, amanah untuk menjaga bahan penelitianku yang sangat berharga, yang diberikan oleh pensyarah pembimbingku. Tak terbayang akan kecewa dan marah besarnya sang pensyarah pembimbing yang telah memberi dana untuk kajianku jika memang ionic liquids itu benar-benar sudah terbuang ke dalam bakul sampah dan hilang begitu saja, padahal aku masih harus menyelesaikan research ini setelah lulus nanti. Tak terbayang, hubungan yang selama ini sudah terjaga keharmonisannya dengan pensyarah pembimbingku harus hancur berantakan ketika mengetahui ionic liquids itu sudah dibuang ke bak sampah akhir di gedung Kimia dan tidak bisa ditemukan atau bahkan sudah pecah dan isinya tercampur dengan sampah-sampah. Tak terbayang jika aku harus mengganti ionic liquids itu yang berharga 3.5 juta-an yang mungkin hanya bisa ditutupi dengan honor mengajarku beberapa bulan lamanya.

Sepanjang perjalanan menuju Departemen Kimia UI, pikiranku dipenuhi berbagai hal yang berkecamuk. Mulai dari membayangkan jika benar-benar tidak ditemukan ionic liquids itu, bagaimana reaksi sang pensyarah pembimbing ketika mengetahuinya, bagaimana aku harus mengganti dan memesan ionic liquids itu kembali, sampai menyalahkan diriku sendiri yang seharusnya mengembalikan segera ionic liquids itu ke pensyarah pembimbingku bahkan sempat terlintas pikiran yang menyalahkan temanku yang menghilangkan kunci almari labku.

Astaghfirullahaladzim. Diri ini mencoba beristighfar berkali-kali, membentengi semua pikiran yang berkecamuk, mencoba berusaha untuk tetap tenang. Segera kumasukkan pikiran-pikiran positif: Lhin, semua yang terjadi pada diri kita, itu pasti dikehendaki Allah. Kejadian seperti inipun Allah yang kehendaki, pasti ada sesuatu yang harus kamu ambil hikmahnya dari kejadian ini. Kalau ionic liquids itu masih jodohmu insya Allah ia akan ditemui, kalaupun dia memang benar-benar hilang atau pecah, ya tentunya memang itulah yang dikehendaki Allah. Masalah wang untuk menggantinya, yakinlah Allah yang akan bukakan jalan. Allah yang menghendaki semua ini, Allah juga yang pasti akan menunjukkan jalan keluarnya. Masalah dengan pensyarah pembimbingmu, beritahu beliau dan selesaikan urusan ini setelah sidang agar moodnya baik-baik saja ketika sidang nanti dan katakan kamu yang akan bertanggung jawab penuh untuk menggantinya dengan memesan kembali ionic liquids itu. Tenang, tenang, yakinlah, yakinlah, yakinlah padaNYA! Semua akan baik-baik saja..

Benar saja, setelah menumbuhkan pikiran-pikiran positif, diri ini pun kembali tenang. Entah kenapa ada jeritan dalam hati ini, ada keyakinan dalam hati: insya Allah ionic liquids itu masih ada dalam bak sampah akhir itu dan masih baik-baik saja.. Ya Allah, temukanlah, kumohon..

Aku pun sampai di gedung Departemen Kimia UI dan langsung menemui bapak yang bertugas membersihkan lab dan tentunya pula yang membuang ionic liquidsku ke dalam bak sampah. Pak Kiri biasa kami memanggilnya. Aku segera meminta tolong padanya untuk ditunjukkan bak sampah dimana beliau membuang semua bahan-bahan kimia dari lab kimia; akan kumasuki bak sampah itu, akan kukais-kais supaya ionic liquidsku ketemu dan mungkin memang itulah ikhtiar terbaik yang harus dilakukan. Beliau pun menunjukkan dan membantu mengorek-ngorek bak sampah tanpa harus kami memasuki bak sampah itu, cukup mengaisnya menggunakan batang kayu yang cukup panjang.

Dikais-kais beberapa lama tak juga ketemu, bahkan bau sampah pun sudah tak tercium lagi di hidungku, mataku terus memperhatikan setiap sampah botol-botol bahan kimia bercampur belatung yang menggeliat ke sana kemari di atas dedaunan. Dalam pencarian itu, hatiku terus berdoa: “Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami ya Rabb.. kumohon. Jangan kau butakan mata kami untuk tidak dapat melihatnya. Ya Allah, kumohon temukanlah mata kami dengan botol keci coklat bertutup merah itu.. ” , jeritku dalam hati berulang-ulang sambil membayangkan botol kecil berwarna coklat dengan tutup merah yang masih utuh ketika aku menemukannya nanti.

Tak berapa lama kemudian, Pak Kiri berteriak: “Yang ini bukan??”
”Iya Pak! Bener Pak! Yang itu! Yang itu! Alhamdulillah..”, sahutku.

Namun kami agak kesulitan untuk mengambilnya karena bak sampah cukup tinggi juga, kira-kira seleherku. Alhamdulillah, saat itu, di sana ada ibu-ibu pemulung. Sungguh, memang Allah lah yang mempertemukan kami di lokasi bak sampah itu. Akhirnya kami meminta tolong padanya untuk mengambilkan botol kecil yang kami cari ke dalam bak sampah itu. Sang ibu pemulung yang memang sudah terbiasa di tempat seperti itu, segera memasuki bak sampah dan mengambil botol ionic liquidsku dan memberikannya kepada Pak Kiri, dan Pak Kiri-lah yang memberikannya kepadaku.

Ketika akhirnya botol kecil itu berada dalam genggamanku..

”Alhamdulillah.. makasih ya Buuuu.. makasih ya Pak..”

Seketika itu pula ketika ucapan itu keluar dari bibirku, airmataku tumpah dan menderas. Ingin rasanya sujud syukur saat itu juga, tapi lokasinya tak memungkinkan. Temanku pun datang, kami berpelukan sambil menangis; sebuah tangisan haru. Tangisan yang menunjukkan betapa tidak berdayanya kami kecuali tanpa pertolongan dari-NYA. Laa hawla walaa quwwata illabillah..

Sambil berpelukan, di lokasi bak sampah itu aku hanya bisa membayangkan aku benar-benar sedang bersujud syukur. Dan temanku pun akhirnya mengajakku ke gedung kimia untuk sujud syukur di sana. Aku bergegas menuju mushalla kimia, kutundukkan diri ini, sujud ke hadapanNYA, dan menangis sejadi-jadinya; ”Ya Allah, Engkau sungguh baik padaku, tapi apa yang selama ini sudah kulakukan dalam ibadah-ibadahku padaMU?? Sering aku lalai dalam mengingatmu duhai Rabb..”

Sungguh, kontemplasi akhir tahun yang sungguh nikmat bagiku dengan hal seperti ini. Ya! Sepertinya Allah memang ingin menunjukkan hal ini, menunjukkan Kuasa-NYA, dan Allah memberikan cara terbaikNYA untuk menegurku.

Semoga sepenggal kisahku ini bisa diambil hikmahnya bahwa kita bukanlah apa-apa dan bukanlah siapa-siapa. Pada dasarnya kita hanyalah manusia biasa yang tidak berkuasa sedikitpun atas kejadian yang menimpa diri kita. Hanya Allah yang berkuasa atas segalanya maka Yakinlah! Yakinlah padaNYA!. Ketika keyakinan itu tumbuh dalam hatimu, insya Allah hidup kita pun akan tenang. Kita takkan pernah takut seberat apapun ujian kesulitan hidup karena kita YAKIN bahwa Allah yang memberikan ujian kesulitan itu.. Allah pula yang akan menunjukkan jalan keluarnya. Kita tidak akan pernah sombong sebesar apapun ujian kenikmatan karena kita YAKIN bahwa kenikmatan yang kita dapatkan itu semata-mata hanya dari Allah.

Muslimah, You’re V.I.P

Its very rare for me to speak about girls or women. But, what I’m sure one of them (if not, 4 among them) hehe..will become my future wife, not only me, same goes to u, isn’t it? except u’ve married.  I think this video is very good to share here (since I had deleted my fb account). Very good reminder for women…fikir2kan…. uols shud share this video on ur wall or blog , let’s spread it.

 

Ya Allah ! Aku Ingin Pergi Haji

Salamullahi ‘alaykum….

Aku menyahut seruan-Mu Ya Allah Aku sahut seruan-Mu ! Aku sahut seruan-Mu wahai Tuhan yang sebenar !

itulah yang dituturkan oleh kekasih awal dan akhir, Nabi Muhammad S.A.W. ketika menyahut seruan haji yang pertama dan terakhir bagi baginda, Haji Wida’ (haji perpisahan).

Bulan Syawwal merupakan petanda bermulanya period ibadah haji sehingga berakhirnya pada bulan Zul-Hijjah. Raya haji kali ini ku rasakan bakal mencabar dan menguji sahsiah, ilmu dan soft skill…wallahul musta’an. Terpaksa memikul tanggungjawab untuk mengimarahkan surau di depan rumah, memastikan waktu antara Maghrib dan Isyak sentiasa diisi dengan aktiviti ilmiah. Memastikan diri mampu mengimamkan solat subuh sepanjang pemergian ayah aku ke Makkah, tak masuk lagi urusan pada hari raya Eid’ul Adha nanti. Terasa mencabar kenapa? Apa tidaknya, ayah dan ibu, abang & kak ipar, kakak & abang ipar serta mak sedara bakal mengerjakan salah satu jihad yang afdal. Mereka bakal bertolak ke Tanah Haram pada 15/10/2010 nanti dari KLIA ke Jeddah. Apa-apa pun doakan supaya mereka semua mendapat haji yang mabrur.

Rindu menggamit hati aku yang pernah menjejakkan kaki ke bumi Haramain (dua tanah suci) Makkah dan Madinah. Dengar je family diizinkan Allah untuk menunaikan haji tahun ni, hatiku terasa syahdunya suasana Haramain. Keindahan bumi yang menjunjung jasad yang mulia terbayang-bayang di mataku, seolah-olah aku betul-betul berada dan berpijak di bumi Haramain. Dapat berziarah dan berumrah sudah begitu ni’mat dan menginsafkan, apa lagi kalau dapat mengerjakan rukun Islam ke-5, HAJJ.

Dari kecil aku sudah dididik supaya mempunyai niat dan ‘azam untuk menunaikan haji pada usia yang muda….

aku dididik supaya menabung & melabur untuk mengerjakan haji….

ketika itu, duit yang aku simpan didalam bank 100% untuk haji….

seawal usia 8 tahun aku sudah memiliki akaun simpanan haji (akaun berkembar dengan ibu-bapa)…

Aku sentiasa menghitung hari dan waktu untuk menunaikan jihad ini, kalau ikutkan kos haji Malaysia sekarang aku masih memerlukan RM3k untuk diiktiraf sebagai mampu mengerjakan haji. Ya Allah ! percepatkanlah & permudahkanlah urusanku dengan Mu. Tahun 2012M/1433H menjadi target aku untuk mengerjakan haji. korang yang baca blog aku ni tolong la doa-doakan ye…

—————————————————————————

ibuku bercerita :

Dulu ketika masih dizaman persekolahan, ketika menghadapi peperiksaan SRP (sekarang PMR) ibu pernah menyatakan hasrat pada ayahnya….sekiranya dia berjaya dengan cemerlang dalam SRP maka dia ingin pergi Mekah. Keluarganya bukanlah keluarga yang kaya, datuk aku menasihatkan supaya jangan diniatkan begitu ditakuti sekiranya ibu aku cemerlang dalam SRP maka menjadi wajib untuk ditunaikan sedangkan mereka tiada wang untuk ke Mekah. Ibu aku patuh…namun dalam hatinya tetap berniat dan berazam supaya dapat pergi Mekah mengerjakan Haji. Dipendamnya niat dan azam itu bertahun-tahun lamanya.

Akhirnya…5 tahun kemudian, setelah diijab-kabul sebagai isteri kepada ayah aku, mereka berdua menunaikan ibadah haji dalam tahun pertama perkahwinan mereka, beberapa bulan selepas berkahwin. Hasil simpanan gaji selama 2 tahun sebagai pegawai bank ketika itu, ibuku sudah mampu mengerjakan haji. Kisahnya ini diceritakan pada anak-anaknya supaya bermotivasi tinggi menunaikan rukun Islam ke-5 itu.

————————————————————————-

Percayalah..tanpa niat dan ‘azam amatlah susah untuk anda mengerjakan haji. Jika ditakdirkan Allah, tak ada niat pun tetap akan pergi, namun niat dan ‘azam tetap memainkan peranan penting dalam menentukan tahap keimanan kita menghadapi dugaan sepanjang menjalankan manasik haji. Kalau kaya dan berharta sekalipun belum tentu menunaikan haji jika diri tidak pernah dimotivasi untuk menunaikan ibadah haji, lebih malang langsung tidak terlintas difikiran mereka untuk mengerjakan haji. Ingat ! Haji tetap RUKUN walaupun ianya menjadi wajib setelah berkemampuan.

Harta sudah menjadi satu jihad bagi yang kurang berkemampuan untuk menunaikan manasik haji, belum lagi menghadapi jihad sebenar, proses dan manasik haji itu sendiri.  Kita mesti muhasabah harta kita, ke mana kita belanjakan. Adakah perbelanjaan kita itu satu perkara yang mustahak sehingga tidak sempat menabung wang untuk haji? itu satu persoalan yang mesti direnungkan bersama. Adakah hitungan dan perkiraan kita menepati hitungan Allah? Kita beralasan belum mampu sedangkan dalam hitungan Allah kita mampu. Fikir-fikirkanlah…

kebetulan dah cakap pasal menabung untuk haji ni, aku nak share la satu movie yang menarik , Emak Ingin Naik Haji, sangat menarik , penuh motivasi bagi yang miskin, pengajaran bagi yang kaya harta. Konfirm korang takkan rugi & menyesal kalau download movie indonesia ni.

Bawah ni sikit sinopsis dan link untuk download movie ni.

Seorang anak pastinya ingin membahagiakan orang tuanya. Tapi seiring berjalannya waktu, ketika sang anak memiliki hidup dan mimpinya yang ingin diraihnya, membuat kebahagiaan orang tua sedikit tergeser. Hal inilah yang ingin diangkat oleh sutradara muda Aditya Gumay lewat film EMAK INGIN NAIK HAJI.

Kisah diawali dengan kehidupan Zein (Reza Rahadian) dan Emak (Aty Kanser) di pesisir pantai. Zein yang sibuk dengan hidup rumah tangganya, akhirnya harus menerima kenyataan pernikahannya gagal dan harus menjadi duda. Hidup berdua, setelah sang ayah dan kakaknya meninggal, membuat Zein sangat menyayangi emaknya. Untuk hidup sehari-harinya, Zein bekerja sebagai penjaja lukisan keliling. Emak sendiri bekerja sebagai pembantu di keluarga Bang Haji (Didi Petet).

Suatu hari, Zein menyadari ada satu mimpi emaknya yang belum terwujud, yakni menunaikan ibadah haji. Sadar bahwa bukan orang berada, Emak rela menabung bertahun-tahun untuk mewujudkan mimpinya. Zein yang melihat semangat sang emak untuk bekerja dan menabung meski usia emaknya sudah tidak muda lagi, membuat hatinya tergerak. Secara tak sengaja, ia melihat program undian berhadiah yang hadiahnya naik haji jika berbelanja suatu produk dengan kelipatan tertentu. Ia pun mengumpulkan kupon undian yang dibuang pengunjung. Selang beberapa hari kemudian, di sebuah koran ia melihat pengumuman undian tersebut. Antara percaya dan tidak, nomor undian milik Zein lah yang memenangkan hadiah utama untuk naik haji.

Bagaimana kisah selanjutnya???

DOWNLOAD LINK:

CD 1 EMAK INGIN NAIK HAJI

CD 2 EMAK INGIN NAIK HAJI

*** credit to Bro. Aiman Adzim for saving & giving me the link to donwload this movie.

Moga perkongsian kali bermanfaat di dunia dan akhirat. Kepada bakal haji tahun ni 1431H aku ucapkan :

Selamat menunaikan manasik Haji dan semoga mendapat Haji yang Mabrur (diterima oleh Allah)

Sucikan Dirimu Untuk Ramadan

Sedarkah kita 20 hari lagi kita akan menyambut Ramadan Kareem?  Sudah 9 hari Syaaban singgah dalam kalendar hidup kita sebagai Muslim. Sudah 9 hari? Apakah kita meraikan kedatangan Syaaban sebagaimana yang dituntut oleh sunnah Rasulullah S.A.W ? Sama-samalah kita muhasabah bersama, saling ingat-mengingati sesama Muslim. Kedatangan Syaaban sangat penting bagi Muslim yang beriman kerana tanpa Syaaban kita tidak akan menemui Ramadan. Syaaban ibarat pengawal pintu istana Ramadan yang menjanjikan 1001 kenikmatan & ganjaran bagi mereka yang memasukinya dengan penuh keimanan dan ketaqwaan.

Sama-samalah kita muhasabah dosa-dosa yang telah kita lakukan sepanjang tahun ini, Syaaban merupakan waktu yang tepat untuk kita bertaubat dari semua dosa yang telah berlalu kerana hanya jiwa yang bersih dan suci saja mampu menggapai ganjaran Ramadan secara maksimum. Hanya dengan diri dan jiwa yang suci dari dosa dan noda akan mampu beristiqamah melakukan amal ibadat pada bulan Ramadan.

Sesetengah ulama’ ada berkata :

” Rejab adalah bulan menabur benih, Syaaban bulan menyiram subur semaian, manakala Ramadan bulan menuai hasil”.

Kata-kata itu menepati sunnah Rasulullah yang menggandakan amal ibadat apabila tiba bulan Rejab dan Syaaban, kemuncaknya pada Ramadan. Seperti diriwayatkan dalam hadis berikut :

Daripada Usamah bin Zaid r.a. bahawa dia telah bertanya Nabi sallallahu alaihi wasallam: “Ya Rasulallah, saya tidak pernah melihat tuan berpuasa dalam mana-mana bulan sebagaimana tuan berpuasa dalam bulan Syaaban.” Baginda menjelaskan (maksudnya): “Bulan ini manusia lupa tentangnya kerana ia terletakdi antara Rajab dan Ramadan. Sedangkan Syaaban adalah bulan diangkat amalan-amalan ke hadapan Tuhan Rab al-’alamin. Maka aku suka amalanku diangkat ketika aku sedang berpuasa.” – riwayat At-Tirmizi dan an-Nasa’i

Jom kita hidupkan sunnah Rasulullah pada bulan Syaaban dengan memperbanyak puasa sunat, aku yang menulis ini pun masih belum melakukannya natijah hidup yang berpandukan pada kalendar Kristian sedang kalendar Islam diabaikan sampai kemuliaan Bulan-bulan Islam hampir luput dari kehidupan Muslim hari ini. Namun masih ada beberapa hari berbaki untuk berpuasa sunat sebelum masuk hari ke-15 pada Bulan Syaaban. Kita tidak digalakkan berpuasa sunat selepas hari ke-15 sebagaimana mafhum dari hadis berikut :

Daripada Abu Hurairah (r.a) katanya Rasulullah S.A.W bersabda : ” Apabila tinggal separuh Syaaban janganlah kamu semua berpuasa.” riwayat At-Tirmidzi

Namun bagi mereka yang menjadikan puasa sunat Isnin dan Khamis, tiada halangan bagi mereka untuk meneruskannya kerana itu sudah menjadi habit mereka. Ada ulama’ berpendapat bahawa hikmah kita tidak digalakkan berpuasa selepas 15hb Syaaban untuk mengelak orang yang tidak biasa melakukan puasa sunat merasa letih apabila mengerjakan puasa wajib pada bulan Ramadan yang bakal muncul selepas Syaaban.

Bagi mempersiapkan diri untuk menghadapi Ramadan, aku ingin kongsi sedikit persiapan menyambut Ramadan. Tulisan ini hanya sebagai update version bagi post yang terdahulu dalam tajuk Bersedia Menghadapi Ramadan

Persediaan Ruhiyah ( Spiritual )

Persiapan spiritual dapat dilakukan dengan memperbanyak ibadah, seperti memperbanyak membaca Al-Qur’an, puasa sunnah (Rejab & Sha’aban), dzikir, do’a dll. Dalam hal mempersiapkan spiritual diri, Rasulullah shalallahu‘alaihi wa sallam menunjukkan contoh dan teladan kepada umatnya dengan memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, sebagaimana yang diriwayatkan ‘Aisyah ra. berkata:

“Saya tidak melihat Rasulullah shalallahu‘alaihi wa sallam menyempurnakan puasanya, kecuali di bulan Ramadhan. Dan saya tidak melihat dalam satu bulan yang lebih banyak puasanya kecuali pada bulan Sya’ban” (HR Muslim).

Persiapan Mental

Persiapan mental untuk puasa dan ibadah yang berkaitan amatlah penting tertutamanya pada akhir Ramadhan yang dijanjikan kebebasan dari api neraka. Apatah lagi pada bulan ini secara abnormal normalnya rakyat Malaysia kita sibuk dengan persiapan menghadapi hari raya (sedangkan mereka sepatutnya tertumpu pada amal ibadah bukannya kedai2) ini lah bila Melayu sudah lupa…lupa dengan pepatah rekaan sendiri, apa dia ?

“Yang dikendong berciciran yang dikejar tak dapat “

setengah orang kita ni sebulan sebelum Ramadhan dah tempah baju raya sedangkan persiapan untuk puasa entah ke mana. Perkara-perkara picisan macam ni la yang memberi kesan negatif kepada umat Islam dalam mencapai kekhusyukan ibadah Ramadhan. Walhal, kejayaan ibadah Ramadhan seorang muslim dilihat dari akhirnya. Jika akhirRamadhan diisi dengan i’tikaf dan taqarrub yang lainnya, maka insya Allah dia termasuk dikalangan mereka yang berjaya dalam melaksanakan ibadah Ramadhan.

Ibn Taimiyyah pernah berkata : “Yang dilihat bukanlah kecacatan pada permulaannya tapi kesempurnaan pada akhirnya”

Awas ! jangan salah guna kata-kata Ibnu Taimiyyah itu untuk tidak melakukan persiapan lebih awal terutamanya pada bulan Syaaban. Jika anda membaca tulisan ini pada pertengahan Ramadan, YA anda boleh menggunakan kata hikmah Ibnu Taimiyyah itu sebagai motivasi.

Persiapan Fikriyyah ( Pemikiran )

Persiapan fikriyah atau akal fikiran dapat dilakukan dengan mendalami ilmu, khususnya ilmu yang berkaitan dengan ibadah Ramadhan. Banyak orang yang berpuasa tidak mendapat manfaat apapun  kecuali lapar dan dahaga. Hal ini dilakukan kerana puasanya tidak dilandasi dengan ilmu yang cukup dan mantap. Seorang yang beramal tanpa ilmu, maka tidak akan menghasilkan apa-apa  kecuali sia-sia belaka. Bak kata Imam Shafi’e (rahimahullah) :

” Ilmu tanpa amal, gila. Beramal tanpa ilmu tidak akan menjadi”

Persiapan Fizikal dan Material

Seorang muslim tidak akan mampu atau beroptimum dalam berpuasa jika fizikalnya sakit. Oleh kerana itu mereka dituntut untuk menjaga kesihatan fizikal, kebersihan rumah, masjid dan persekitaran. Rasulullah menunjuk contoh yang baik kepada umat agar walaupun berpuasa kita juga mesti prihatin pada kesihatan diri.  Hal ini dapat dilihat dari beberapa peristiwa di bawah ini :

• Memberus gigi dengan siwak (HR. Bukhori dan Abu Daud).
• Berubat seperti dengan berbekam (Al-Hijamah) seperti yang diriwayatkan Bukhori dan Muslim.
• Menitik-beratkan penampilan, seperti pernah diwasiatkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam
kepada sahabat Abdullah ibnu Mas’ud ra, agar memulai puasa dengan penampilan yang baik dan
tidak dengan wajah yang lesu. (HR. Al-Haitsami).

Perkara lain yang harus disiapkan adalah material yang halal untuk bekal ibadah Ramadhan. Idealnya seorang muslim telah menabung selama 11 bulan sebagai bekal ibadah Ramadhan. Sehingga ketika datang Ramadhan, dia dapat beribadah secara khusyu’ dan tidak berlebihan dalam mencari harta atau kegiatan lain yang mengganggu kekhusyukan ibadah Ramadhan. Alah…Ramadhan sebulan setahun je kut, takkan tak dapat rehat sekejap??? daripada dapat duit yang banyak hasil jualan pada bulan Ramadhan tapi rahmah, pahala dan kelebihan Ramadhan semuanya fail, baik tak payah hidup atas bumi Allah ni. Tapi kalau dapat kedua-duanya sekali lagi bagus…hehehe.

Apa yang penting, sebelum Ramadhan kita hendaklah memperbanyak doa supaya diberi ketabahan, kecekalan , keazaman dan ketaqwaan pada bulan Ramadhan apatah lagi bila menjelmanya Ramadhan.Moga bermanfaat dan mendapat kerahmatan, keampunan dan pembebasan dari azab Neraka….serta mendapat Lailatul Qadr..Ramadhan Kareem !!!

Spirit of Ramadan

Melancarkan Jihad Ilmu

Setelah cuti sakit selama 6 bulan dan terpaksa menangguh pengajianku untuk semester akhir, akhirnya besok (12/07/2010) bermulanya kembali kehidupanku sebagai pelajar dalam bidang Aviation. Rasanya pada bulan ini bukan aku sahaja yang memulakan semester baru pengajian malahan bulan July merupakan tarikh pendaftaran bagi kemasukan puluhan ribu mahasiswa baru dan lama.

Jadi entri kali ini bukan sahaja sebagai tazkirah untuk diri aku, juga sebagai perkongsian bersama sahabat handai yang bergelar mahasiswa.  Aku sebenarnya boleh dikatakan kekurangan motivasi untuk memulakan kembali praktikal ini selama 6 bulan, mungkin kerana 6 bulan cuti yang dihabiskan hanya dengan berehat pada tahap melampau tanpa menyentuh buku berkaitan bidang pengajian aku.  Satu sikap yang tidak patut dicontohi oleh anda yang membaca entri ini dan sesiapapun. Alhamdulillah aku sempat membaca tulisan seorang aktivis gerakan Islam di Indonesia berkenaan jihad dalam menuntut ilmu pengetahuan dan Alhamdulillah sedikit sebanyak membantu memulihkan semangat aku untuk belajar dan menjadi pelajar cemerlang dalam bidang yang aku ceburi demi Allah dan Rasul bukan semata-mata mengejar kejayaan hidup didunia .الحمد لله ثم الحمد لله

Makrifah dan Jihad

Dr. Hilmy Bakar Al-Mascaty didalam bukunya Panduan Jihad Untuk Aktivis Gerakan Islam membahagikan jihad kepada 5 bahagian atau kategori . Iaitu Jihad Harta, Jihad Jiwa, Jihad Pendidikan atau Ta’alim, Jihad Siyasi (Politik) dan Jihad Makrifah (Ilmu Pengetahuan). Kali ini aku hanya nak menyentuh berkenaan Jihad Makrifah, satu istilah yang pada pandangan aku masih kurang digunapakai. Jika jihad dalam bidang keilmuan ini dihayati sepenuhnya oleh muslim, Insya Allah mereka mampu bangkit menjadi muslim yang berkaliber dalam erti kata mampu menghadapi cabaran secara glokal. Kepentingan jihad makrifah pada zaman kemajuan intelektual, pengetahuan dan technology hampir menyamai kepentingan jihad dimedan peperangan pada zaman lampau. Peperangan zaman moden tidak hanya menuntut penggunaan senjata sahaja tapi lebih mengutamakan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai senjata dalam peperangan zaman kini. Lihat saja pada dunia kini, mereka yang menguasai kemajuan ilmu pengetahuan dan technology mampu menguasai dunia dan Negara-negara lain. Oleh itu, seharusnya kita sedar JIHAD mempunyai makna yang luas mengcakupi segenap aspek keupayaan kaum muslimin.  Sebagaimana firman Allah dalam surah al-Anfaal ayat 60 :

“ Siapkanlah untuk menghadapi mereka dengan apa saja kekuatan yang kamu mampu….”

Jika dulu kekuatan (alquwwah) bergantung pada kekuatan senjata dan kelengkapan perang, namun kekuatan pada zaman kini bukan sahaja perlu ditafsirkan dengan kekuatan persenjataan bahkan juga kekuatan penguasaan ilmu pengetahuan sebagaimana ungkapan cendekiawan Knowledge is power. Sehubungan itu adalah menjadi kewajiban kepada kita menguasai ilmu pengetahuan sebagai senjata menghadapi musuh Islam tanpa mengabaikan kekuatan senjata perang.

Lihat saja bagaimana musuh-musuh Islam dengan mudah melancarkan serangan dalam pelbagai bentuk untuk mencemarkan imej Islam sebagai contoh; mereka hanya menggunakan laman social Facebook untuk menghina kemuliaan Rasulullah. Kempen jahat itu satu hal, apa yang lebih penting Facebook itu sendiri dicipta oleh bukan Muslim. Jika umat Islam memiliki kemajuan dan kreativiti dalam ilmu pengetahuan maka tidak mustahil laman social seumpama itu lebih dahulu dicipta oleh Muslim. Ini tidak, muslim hari ini hanya suka menjadi pengguna produk bukan Muslim sehingga terpaksa akur akan kelebihan bukan Islam. Akhirnya mereka berdakwah dengan menggunakan “saluran dakwah” yang disediakan oleh kuffar (itu kira ok la lagi kan..hehe). Apa yang lepas tidak boleh dibiarkan begitu sahaja umpama ungkapan “ yang lepas tu lepas la”, orang yang bijak tidak akan membiarkan apa yang lepas berlalu begitu sahaja tanpa diambil pengajaran darinya. Oleh itu, tiada alasan lagi bagi Muslim untuk tidak menguasai ilmu pengetahuan. Apakah status iman seseorang Muslim terhadap ayat-ayat Allah jika tidak berusaha menguasai ilmu sedangkan wahyu pertama diturunkan adalah galakan menuntut ilmu?  Bukankah jihad pengetahuan ini begitu kritikal untuk diremehkan?

Kita perlu melihat kepada Barat dan strategi mereka menjajah bangsa lain dengan bentuk penjajahan yang baru, iaitu penjajahan intelektual. Mereka melancarkan perang pengetahuan hanya dengan tujuan yang satu; menguasai dan mendominasi kaum Muslimin secara intelektual sehingga lahirnya generasi Islam yang hidup sebagai muslim namun pemikiran mereka sarat dengan ideology yang bertentangan dengan Islam. Situasi begitu bukan perkara asing pada kita, contoh terdekat adalah pemimpin Malaysia hari ini, mereka hidup sebagai Muslim, memakai nama Muslim, mengaku menganut agama Islam namun cara mereka berfikir dan bertindak tidak ubah seperti anjing-anjing buruan syaitan yang diasuh oleh makmal Barat. Oleh itu, tidaklah janggal jika mereka bertindak menghalalkan apa yang jelas haram disisi Allah. Apa yang perlu difahami ialah, jihad pengetahuan bererti membebaskan kaum muslimin dari segala belenggu dan dominasi pemikiran jahiliah.

Bagi mahasiswa yang menuntut ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh barat (ilmu selain ilmu agama) atau sesetengah pihak menggunakan istilah ilmu sekuler, mereka sepatutnya meneruskan perjuangan atau jihad mereka dalam menguasai ilmu-ilmu tersebut sehingga mampu menandingi keupayaan kuffar. Jihad pengetahuan tidak bermaksud mereka hanya perlu menuntut ilmu agama akan tetapi jihad menguasai apa saja ilmu yang mampu menjadikan mereka tunduk dan patuh pada ajaran Allah. Disinilah pentingnya interaksi mereka dengan Al-Quran dan Sunnah dalam memastikan ilmu yang mereka kuasai itu tidak terkeluar dari batas yang ditetapkan oleh Allah. Oleh itu Dr. Hilmy Bakar al-Mascaty telah memberikan solusi dalam masalah ini,

“Generasi muda Islam yang menguasai pelbagai pengetahuan sekuler, boleh saja meneruskannya. Dengan syarat, pada saat yang sama mereka berjuang semaksimal mungkin untuk memperdalam pengetahuan agama yang akan menjaga mereka dari racun sekulerisme dan sekaligus meningkatkan keimanan dan ketaqwaan mereka.”

Hakikat Jihad Pengetahuan Dengan Mengamalkan Ilmu

Point penting dalam melancarkan jihad pengetahuan ini ialah mengamalkan ilmu yang dipelajari. Kerana ajaran Islam menuntu supaya ilmu pengetahuan yang dituntut dapat dimanfaatkan dan diamalkan oleh pemiliknya, dan juga orang lain. Berbeza dengan ajaran Barat sekuler yang hanya memberikan penekanan pada penguasaan pengetahuan tanpa ada kewajiban untuk menerapkannya dalam kehidupan. Renungilah firman Allah:

“ Dan bacakanlah kepada mereka (Wahai Muhammad), khabar berita seorang Yang Kami beri kepadanya (pengetahuan mengenai) ayat-ayat (Kitab) kami. kemudian ia menjadikan dirinya terkeluar dari mematuhinya, lalu ia diikuti oleh Syaitan (dengan godaannya), maka menjadilah dari orang-orang Yang sesat. Dan kalau Kami kehendaki nescaya Kami tinggikan pangkatnya Dengan (sebab mengamalkan) ayat-ayat itu. tetapi ia bermati-mati cenderung kepada dunia dan menurut hawa nafsunya; maka bandingannya adalah seperti anjing, jika Engkau menghalaunya: ia menghulurkan lidahnya termengah-mengah, dan jika Engkau membiarkannya: ia juga menghulurkan lidahnya termengah-mengah. Demikianlah bandingan orang-orang Yang mendustakan ayat-ayat kami. maka ceritakanlah kisah-kisah itu supaya mereka berfikir.” Al-A’raaf: 175-176

Renungi juga kata-kata Imam Shafie :

“ Ilmu yang tidak diamalkan ibarat pokok yang tidak berbuah”

Tiada maknanya penguasaan ilmu pengetahuan tanpa mampu dimanfaatkan untuk diri dan Islam. Jihad pengetahuan menuntut penguasaan ilmu-ilmu dunia dan mengamalkannya dalam platform yang Islami sebagai benteng mempertahankan Islam secara syumul. Kalau aku yang belajar dalam bidang aircraft maintenance ini, apa yang diharapkan ialah aku mampu menguasai ilmu teknikal berkaitan aircraft dan mampu melakukan pengubahsuaian yang sesuai untuk dimanfaatkan oleh Islam. Berbeza dengan mereka yang menuntut ilmu aerospace atau aeronautic, jihad mereka lebih kepada menguasai bidang tersebut sehingga mampu mencipta jet pejuang yang sistemnya hanya diketahui oleh Muslim dan mempunyai cirri-ciri yang advanced berbanding jet sedia ada sekaligus menggerunkan musuh Islam. Aku fikir itu mampu mencapai kemuncak jihad dalam bidang ini. Namun jika tidak mampu, sekurang-kurangnya kita arif tentang system reka bentuk, dan spesifikasi aircraft yang mampu dimanfaatkan oleh Negara Islam apabila situasi memerlukan. Tiada siapa yang tahu apa yang bakal berlaku pada masa depan. Yang penting, bersiap sedia! Yang lebih pentin, siapkan diri kita untuk Islam!

Semua itu hanya angan-angan jika jihad pengetahuan tidak dihayati dan diamalkan sepenuhnya oleh umat Islam kini. Jihad pengetahuan tidak dapat dinafikan kepentingannya sebagai jihad yang utama sejak zaman awal Islam lagi, bahkan Islam itu sendiri bangkit dengan penguasaan ilmu pengetahuan. Allah sendiri memerintahkan umat Islam supaya tidak keluar berperang secara keseluruhannya akan tetapi mereka harus meninggalkan sebahagian untuk menguasai ilmu pengetahuan sebagaimana firman Allah :

Tidak sepatutnya bagi orang-orang mukmin itu pergi semuanya(ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang ad-din dan untuk member peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya supaya mereka itu dapat menjaga diri.” At-Taubah:122

Ad-din dalam ayat di atas tidak hanya merujuk kepada ilmu agama sahaja. Jika difahami dalam erti kata yang luas ad-din itu merujuk pada pengabdian dan tunduk pada perintah Allah, maka pengetahuan ad-din bukan hanya terbatas pada ilmu agama saja namun merujuk kepada seluruh ilmu pengetahuan yang akan menjadikan seseorang tunduk pada Allah.

Apa saja bidang ilmu yang anda pelajari, kuasailah ilmu tersebut dengan mendalam sehingga mampu memanfaatkannya untuk diri, masyarakat dan agama dalam apa jua bentuk sekalipun. Bentuk manfaat itu pada aku bergantung pada kreativiti pemikiran masing-masing. Penguasaan anda terhadap ilmu dalam bidang yang dipelajari tidak seharusnya melalaikan anda dari berusaha secara maksimum untuk mendalami ajaran agama. Pandai-pandailah seimbangkan antara kedua-dua jenis ilmu itu. Sekadar ini perkongsian aku untuk kali ini. Memandangkan aku taip dalam kekosongan masa antara asar dan maghrib, maka aku tidak mampu memanjangkan lagi tulisan ini. Diharap sedikit perkongsian ini mampu mencetuskan percikan api dalam memastikan semangat jihad terus membara, menyala dan berkobar didalam hati setiap Muslim.  JIHAD dalam erti kata yang lebih luas akan meluaskan lagi pandangan anda untuk berdakwah! Dan Allah lah penolong bagi segala sesuatu.

Kisah Abu Qudamah dengan Remaja Yang Hebat

Cerita ini aku pernah publish dalam blog lama aku pada 2008, ni kira edisi re-publish dengan update sikit gaya bahasa & info tambahan.Moga bermanfaat!

Saja nak berkongsi cerita, tak tau la best ke tak cerita ni tapi bagi aku yang mendengarnya dari mulut orang mmg rasa hebat sgt kisah ni. Alkisah macam biasa la jawatan kuasa surau kat kampus aku menganjurkan tazkirah bulanan yg disampaikan oleh penceramah jemputan. Tazkirah bulanan ni biasanya dibuat pada hari Rabu pukul 3.30 ptg sekali sbulan dan setentunya aku tak dapat mengikutinya sebab ada kelas. Tapi kali ni dibuatnya pada hari Jumaat dan mmg jadual aku kosong pada hari jumaat rasa cam duk kat Klate jah. Penceramahnya pula seorg yang aku agak minat la berdasarkan corak penulisannya ala Dr. ‘Aidh Al-Qarni, nampaknya aku berjodoh dengan penceramah ni.

Pada 23 Mei lepas, lps solat Jumaat aku pergilah ke dewan nk dengar tazkirah oleh Dr. Zulkifli Muhammad Al-Bakri, pensyarah Syariah dkat USIM. Kebetulan aku baru je beli buku Hadis Modal Insan siri-2 tulisan Dr. Zul ni so, aku mintaklah autograf  dari nya hanya untuk dijadikan kenangan. Tengah-tengah dia berceramah tu….dia pun berceritalah kisah yang pernah dialami oleh seorang sahabat Rasulullah. Maka, berceritalah Dr.Zulkifli seperti berikut ( lbey kurang la )……….

Pada zaman Saiyyidina Uthman (r.a) menjadi khalifah terdapat seorang sahabat bernama Abu Qudamah dilantik menjadi Gabenor di salah satu wilayah Islam. Selepas beliau bersara dari jawatannya, beliau pulang ke Madinah. Satu hari beliau sedang bersembang dengan para sahabatnya didalam Masjid Nabawi, lalu para sahabatnya berkata “ Wahai Abu Qudamah, sepanjang engkau menjadi Gabenor, bolehkah engkau ceritakan kisah atau peristiwa ajaib yang pernah engkau lalui ketika berjihad ?”

Abu Qudamah bercerita….. “ Baiklah…semasa aku menjadi gabenor, aku pernah beberapa kali memimpin tentera Muslimin berperang. Satu kali tu aku memimpin tentera Muslimin berperang menentang tentera Rom di negeri Syam. Dalam perjalanan menuju medan perang, aku singgah di bandar Raqqah (sebuah kota di Syria berdekatan sungai Euphrate), disitu aku membeli seekor unta untuk mengangkut kelengkapan senjata dan aku berceramah kepada penduduk bandar itu dan tentera-tenteraku dengan seruan Jihad fi Sabilillah . Pada tengah malam itu, aku berada dirumahku. Tiba-tiba pintu rumah penginapanku diketuk dan aku melihat seorang wanita yang menutup mukanya berada diluar rumahku. Aku berkata “ Wahai wanita, ingatlah akan azab Allah terhadap orang yang melakukan perbuatan terkutuk ” sangkaku wanita itu datang kerana berniat tidak elok padaku. Tetapi kata-kataku itu dijawab “ Tuan, aku datang bukan dengan tujuan yang jahat tetapi aku begitu terkesan dengan seruan jihad mu siang tadi. Suamiku dan saudaraku telahpun syahid mempertahankan agama Allah. Sekiranya aku ikut berperang sudah tentu engkau tidak akan mengizinkan aku. Oleh itu, aku mencukur kepala ku dan rambut ku ini aku jalinkan menjadi tali. Nah , ambillah tali ini dan gunakannya sebagai tali kudamu. Walaupun aku tidak sertai perang, biarlah tali ini mengikuti mu semasa berperang menegakkan agama Allah. Aku harap bila Allah melihat tali ini bersamamu berjihad Dia akan mengampuni dosaku” **Kemudian wanita itu beredar tanpa memperkenalkan siapa dirinya. Demi Allah, aku begitu kagum dengan semangat dan kegigihannya untuk turut sama berjihad serta kerinduannya untuk mendapat keampunan dan syurga dari Allah.

Keesokannya tibalah hari untuk kami bertolak ke medan jihad, saat kami melewati kubu Maslamah Bin Abdul Malik aku memeriksa barisan setiap batalion di bawah pimpinan ku. Semasa aku memeriksa barisan tentera, ada seorang tentera yang menutup mukanya dengan kain selendang. Aku menyuruhnya membuka kain yang menutupi mukanya untuk memastikan dia layak untuk berjihad namun dia enggan dan berkata “ Sekiranya tuan melihat ku nescaya tuan tidak akan membenarkan aku ikut serta berperang.” Aku mengatakan yang aku akan mengizinkannya berperang walaupun setelah melihat wajahnya. Kemudian dia membuka kain selendang itu dan alangkah terkejutnya aku melihat seorang budak lelaki remaja dalam lingkungan umur 15 tahun berada dihadapanku dan semestinya terlalu muda untuk pergi berperang. Wajah remaja itu sangat putih, bercahaya bak bulan purnama dan tampan. Aku berkata “Sebelum itu, siapakah orang tua mu ?” dia menjawab “ Ayah ku telah mati syahid”lalu ku tanya pula “Bagaimana dengan ibumu? Adakah dia masih ada?”dia menjawab “Ya, dia masih ada” lalu aku berkata padanya “Kembalilah pada ibumu dan jagalah dia elok-elok kerana syurga dibawah telapak kaki ibu”lalu dia berkata “Tuan tidak kenal ibuku? ibuku adalah wanita yang memberikan tali kepada tuan semalam untuk dijadikan tali kuda tuan itu. Ibuku juga berpesan : Wahai anakku apabila kamu berhadapan dengan musuh janganlah kamu lari, berikanlah jiwa mu pada Allah. Mintalah kedudukan disisiNya dan bersama-sama ayah dan saudara-saudara mu. Jika kamu syahid maka mintalah syafaat bagiku. Dia akan bersedih sekiranya aku kembali ke pangkuannya selepas perang. Aku seorang yang hafiz Al-Quran, pandai bermain kuda dan memanah. Maka izinkanlah aku ikut berperang.” Maka aku mengizinkan remaja tersebut ikut serta. Lalu bergeraklah aku dan tentera-tenteraku menuju ke medan jihad.

Setelah separuh perjalanan menuju medan jihad kami lalui, kami berhenti rehat di satu kawasan di sempadan negara Syam ( tempat tersebut sekarang ni menjadi sempadan antara negara Iraq dengan Syria ). Ketika itu kami berpuasa, sebagai seorang remaja yang rajin, dia menawarkan dirinya untuk memasak makanan untuk berbuka kepada tentera Muslimin. Setelah sekian lama menunggu tetapi makanan masih belum siap sedangkan para tentera berada dalam kelaparan. Aku berasa hairan dan menuju ke tempat memasak, apabila sampai aku melihat remaja tersebut tidur keletihan bersebelahan dapur memasak ( sebagai orang tua yang memahami keadaan, Abu Qudamah tidak mengejutkan remaja tersebut ). Aku biarkan remaja tersebut lalu meneruskan kerja-kerja memasak yang masih belum selesai. Sambil aku memasak aku melihat remaja itu yang sedang tidur tersenyum gembira, sungguh tenang melihat wajahnya lalu aku terus memasak. Tiba-tiba, remaja tersebut sedar dari tidurnya dan segera meminta maaf dari ku kerana cuai dalam menjalankan tugasnya. Lalu aku katakan padanya “ Ceritakanlah padaku apakah yang membuatkanmu begitu tersenyum semasa tidur tadi.” “ Tiada pentingnya tuan mengetahui akan mimpiku tadi” jawab remaja itu. “ Kalau begitu aku tidak akan memaafkan kecuaian mu.” kataku. Lalu remaja tersebut menceritakan mimpinya “ Ketika aku tidur tadi aku bermimpi mimpi yang sangat pelik, aku bermimpi aku memasuki satu taman hijau, ada sungai yang mengalir, pokok-pokok rendang dipenuhi buah yang masak ranum sedia untuk dimakan. Kemudian aku melihat terdapat satu istana yang dindingnya diperbuat dari perak, atapnya bertatahkan permata dan mutiara, pintunya daripada emas dan padanya langsir jarang yang mengurai panjang bila diselak tabir itu di sana terdapat bidadari-bidadari yang cantik wajahnya bak bulan purnama kemudian aku pergi berjumpa dengan mereka Lalu aku bertanya adakah kamu ‘Ain al-Mardhiyyah (bidadari)? mereka menjawab Tidak !! kami ini hanyalah khadam kepada bidadari tuan. Aku dibawa masuk kedalam satu istana yang sangat indah, didalamnya terdapat sebuah katil yang besar…bertiangkan emas dan dilitupi kelambu dan hamparan hijau berkilauan. Katil tersebut dikelilingi khadam-khadam yang tersangat cantik. Lalu aku menghampiri katil itu dan keluarlah bidadari yang wajahnya lebih cantik daripada perempuan-perempuan disisinya datang berdepan dengan ku lalu dia berkata : Hai wali Allah dan kekasih-Nya, Mulai hari ini aku untukmu dan kamu untukku. Kemudian aku mendekatinya untuk menyentuhnya tetapi bidadari itu mengelak dan aku hairan lalu dia berkata : Wahai kekasih hatiku, semoga Allah menjauhkanmu dari perbuatan keji, urusanmu didunia masih sedikit tersisa untuk diselesaikan, esok selepas zohor kita akan berjumpa. Setelah itu aku pun terjaga.” Setelah aku mendengar ceritanya itu, aku tersenyum dan tahu bahawa remaja tersebut adalah calon pilihan Allah yang bakal syahid dimedan jihad nanti. Aku berkata padanya “ InshaAllah mimpimu itu adalah petanda baik”, lalu kami pun sama-sama menikmati makanan berbuka puasa.

Kemudian kami meneruskan perjalanan kami ke medan jihad. Apabila samapai dimedan perang, komando perang pun menyusun kedudukan tentera dan meniup semangat jihad dengan membaca ayat :

“Pergilah kamu beramai-ramai (untuk berperang pada jalan Allah), sama ada Dengan keadaan ringan (dan mudah bergerak) ataupun Dengan keadaan berat (disebabkan berbagai-bagai tanggungjawab); dan berjihadlah..” – at-Taubah;41.

Kemudian berlakulah pertempuran yang sengit antara tentera-tentera Muslimin dan Rom. Aku sempat memerhati pergerakan pemuda itu, aku melihat dia di barisan paling depan lalu aku mengejarnya dan berkata padanya : “ Hai anakku, berundurlah kerana kamu masih mentah akan selok belok perang” kemudian dia membalas “ Ya ‘Ammu (pakcik) tidakkah pakcik dengar firman Allah :

“Hai orang-orang beriman, apabila kamu bertemu orang-orang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka(mundur). Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan lain, maka sesungguhnya orang itu kembali membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahanam. Dan amat buruklah tempat kembvalinya itu.”(QS. Al-Anfaal: 15-16) adakah pakcik mahu saya membelakangi mereka lalu dimasukkan kedalam neraka?”

Aku kagum dengan semangatnya kemudian aku cuba memujuknya “Wahai anakku, ayat itu maksudnya bukan seperti yang engkau katakan.” Namun dia tetap berkeras. Bertempurlah kami melawan musuh, banyak tentera Muslimin syahid, darah bersembur keluar menyimbah bumi, kepala-kepala syuhada’ bergolek jatuh menyembah bumi. Muka-muka mereka yang syahid tidak dapat dicam lagi akibat tetakan pedang dan berlumuran dengan darah.

Peperangan itu berterusan sengit sehinggalah masuk waktu zohor, alhamdulillah kemenangan berpihak kepada Islam. Setelah tamat perang masing-masing mencari rakan dan taulan yang terkorban, aku teringatkan remaja tersebut lalu mencarinya. Lalu kedengaran suara berteriak, “Panggil pakcikku Abu Qudamah!” Aku menuju kearah empunya suara sedang aku tidak dapat mengecam siapakah dia kerana mukanya penuh berlumuran darah dan badannya dipenuhi tikaman pedang dan mulutnya mengalirkan darah yang banyak apabila diamati barulah aku sedar dia adalah pemuda tadi, lalu aku berkata “Akulah Abu Qudamah” dan aku mengangkat kepalanya dan membaringkannya di atas peha ku. Kemudian remaja itu berkata “ Tuan, letakkanlah kepalaku ini di atas tanah supaya pipiku ini dapat merasakan tanah untuk kali terakhir sebelum menghadap Allah.” Aku tunaikan permintaannya, kemudian dia berwasiat kepada ku “ Tuan, aku ingin berwasiat kepada mu. Apabila tuan pulang nanti berjumpalah dengan ibu ku dan katakan padanya aku telah syahid, ibu ku pasti tidak percaya. Oleh itu, tuan ambillah bajuku yang berlumuran darah ini tunjukkan padanya sebagai bukti. Selepas itu, katakanlah kepada adik perempuanku yang berumur 9 tahun bahawa abangnya berada dalam jagaan Allah.” Seusai berwasiat, remaja tersebut menghembuskan nafasnya yang terakhir menghadap Allah. Aku mengebumikan jenazahnya dan bajunya aku ambil serta simpan dalam bekas.

Apabila kami sampai di kota, seperti biasa para penduduk kota akan berasak-asak dipintu kota menyambut kemenangan kami dan mencari sanak-saudara yang masih hidup. Ibu kepada remaja tadi juga mencari-cari anaknya tapi tidak ditemui, ditanya akan tentera-tentera yang pulang itu, seorang pun tidak mengenali anaknya itu lalu pulang ke rumahnya. Sebaik sahaja memasuki pintu kota, aku teringatkan wasiat remaja tadi padaku. Aku segera mencari rumah remaja tersebut dan menemuinya, terdapat seorang budak perempuan kecil sedang menunggu diluar rumah. Dia lantas bertanya “pakcik datang dari mana?” “dari medan jihad”jelasku “kalau begitu abangku bersamamu?” tanpa menjawab soalannya tadi lalu aku memintanya memanggil ibunya keluar Aku berhenti dan meminta anak kecil itu memanggil ibunya. Anak itu masuk memanggil ibunya keluar dengan menutup mukanya lalu berkata “ Kedatangan tuan ini ingin memberikan ucapan tahniah atau takziah kepadaku ?” tanya wanita tersebut kepadaku. “ Bolehkah puan memberitahuku apakah maksudnya tahniah dan apa maksudnya takziah ?” tanyaku kembali padanya. “ Tahniah sekiranya anakku telah syahid dan takziah sekiranya anakku masih hidup.”jawabnya. “ Kalau begitu aku ucapkan tahniah kepada puan.”kataku. Tetapi wanita itu tidak percaya seperti mana anaknya memberitahuku sebelum ini, lalu aku tunjukkan padanya baju anaknya. “Allahu Akbar!” laung wanita itu dengan kegembiraan. Anak perempuannya yang masih kecil yang berada dipintu rumahnya turut melihat baju abangnya yang berlumuran darah, faham bahawa abangnya telah syahid berteriak “Akhi! Akhi!” lalu jatuh rebah ke tanah ibunya bergegas mengambil air sedang aku memangku anaknya yang nafasnya semakin lemah, dia tidak mengeluh memanggil abangnya lagi kerana dia sedang nazak lalu perlahan-lahan menghembuskan nafasnya meninggalkan dunia yang fana’ ini, aku tidak sempat memberitahunya wasiat abangnya.

Sebagai seorang wanita yang berjiwa kental serta mempunyai pemikiran yang hebat, dia tidak sedikitpun menangisi kematian anak perempuannya itu. Dia keluar dari rumahnya mendukung anak perempuannya yang telah meninggal itu masuk kedalam rumah, aku yang masih berada diluar rumahnya hanya mampu melihat saja. Kemudian aku mendengar suara wanita itu dari luar rumahnya “ Ya Allah, aku telah memberikan suamiku, saudaraku kepadaMu dan kini anak-anakku. Maka, terimalah mereka semua Ya Allah.” Setelah mendengar kata-kata itu, aku menunggu untuk mendengar kata-kata seterusnya tetapi suasana terus senyap. Itulah peristiwa yang aku angggap ajaib yang aku pernah lalui sepanjang hidupku.” Kata Abu Qudamah menamatkan ceritanya kepada sahabat-sahabatnya. Begitulah ceritanya, mula-mula aku dengar cerita ni memang terasa nak menitiskan air mata. Bilakah aku akan tergolong dikalangan remaja yang hebat dalam kisah tersebut. Setidak-tidaknya, biarlah aku berpeluang berkawan atau paling tidakpun sekadar berjumpa dengan remaja yang mempunyai sifat seperti remaja tersebut. Itulah ceritanya setakat yang aku ingat dan yang aku sempat record guna handphone je.

** Ibnu Qayyim al-Jauzi dalam komentarnya berkata: “Wanita ini berniat baik namun dia keliru atau tidak faham akan caranya memotong rambutnya itu dan diberikan kpd Abu Qudamah adalah terlarang (kerana rambut adalah aurat wanita). Oleh itu dalam hal ini, kita berpegang pada niatnya yang baik itu”

untuk kisah2 lain sila click pada Learn From Stories

Iktibar Selepas 5 Tahun Tsunami

Maksudnya:

Maka apakah mereka tidak berjalan dimuka bumi ini, (dengan melihat kesan-kesan yang ada padanya) lalu mereka menjadi orang yang mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau telinga yang dengannya mereka dapat mendengar ? (tetapi kalaulah mereka tidak mengambil iktibar) maka sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta itu adalah hati yang didalam dada. – AlHajj;46

Baru-baru ni 16-19 Mei 2010 aku wisata (melancong) ke Aceh. Memang tujuan asal aku untuk mencari pengalaman dan pengajaran yang bermakna untuk menelusuri lorong-lorong kehidupan dunia yang mencabar ini. Alhamdulillah dengan berpandukan ayat di atas aku mampu mencorakkan musafirku itu menjadi bermakna buat diri dan juga orang lain, InshaAllah. Pada 18 Mei aku dibawa oleh tourguide tak rasmi..haha..Ust. Fadhlullah (pelajar jurusan Usuluddin di IN Raniry) ke salah satu tempat yang merupakan kawasan yang agak teruk dihentam tsunami pada 26 Disember 2004, daerah Lampuuk. Kami tiba di Masjid Rahmatullah, Lampuuk saat jemaah didalam masjid sedang menunaikan solat zohor pada rakaat kedua. Aku sempatlah juga 2 rakaat solat zohor berjemaah bersama penduduk setempat.

Aku dihadapan Masjid Rahmatullah, Lampuuk 5 tahun selepas Tsunami

Jamaah Solat Zohor di Masjid Rahmatullah :Aku sampai ketika tahiyyat awal solat zohor

Usai solat zohor dan jamak taqdim kami meninjau ruang solat masjid, di bahagian belakang masjid dikhaskan satu ruang untuk galeri foto masjid dan kawasan sekitarnya setelah dihentam Tsunami. Bahkan binaan masjid yang rosak pada bahagian itu dikekalkan untuk tatapan generasi kemudian. Kami bernasib baik apabila Ust.Fadhlullah menegur 2 orang makcik (jemaah wanita) yang sedang berjalan untuk keluar masjid, pulang ke rumah. Belum sempat 2 orang makcik tu keluar, kami sempat bertanya khabar & interview makcik2 tu. Rupa-rupanya 2 orang makcik ni adalah penduduk asal Lampuuk yang terselamat dari bencana tsunami. So, apalagikan? terus kami tanya pengalaman mereka ketika berlakunya tsunami.

1 bahagian dalam masjid yang rosak dikekalkan disudut galeri

“pada hari berlakunya tsunami itu mamak (panggilan manja bagi makcik di Aceh) pergi ke Banda Aceh untuk berniaga. Biasanya mamak akan pulang pada pukul 10 pagi untuk makan tengahhari sebelum pergi semula ke kedai.” Makcik A membuka bicaranya.

“Pada hari tu, mamak naik labi-labi (sejenis public transport di Aceh, bukan binatang ye.hehe) untuk pulang kerumah, tengah perjalanan tu orang-orang dari Lampuuk menjerit air naik! air naik! lalu kami pun patah balik ke kawasan yang selamat.” sambungnya lagi. Alhamdulillah makcik A ni terselamat apabila berlindung di satu masjid (tak ingat dah namanya) di kawasan yang tidak dilanda tsunami. Katanya pada hari itu suasana cukup huru-hara, ramai juga yang mati kerana accident ketika melarikan diri, kereta bertembung sama kereta ada juga yang melanggar mereka yang sedang lari dan macam-macam lagi keadaan yang tak dapat digambarkan dengan lisan. Mereka yang mati kerana tsunami tu tak perlu cakap la memang terlalu ramai.

Masjid Rahmatullah :Satu-satunya bangunan yang kekal selepas tsunami

“mamak ketika tsunami itu sedang berada di rumah sakit (hospital) bersama suami untuk mendapatkan rawatan. Air sampai juga ke rumah sakit tapi tidaklah sampai mengorbankan orang didalamnya.” jelas pula makcik B menceritakan pengalamannya. Memang suasana ketika berlakunya tsunami hanya mereka yang terlibat sahaja mampu merasainya namun sudah pasti tidak dapat diceritakan dengan lisan, tak mampu dijelaskan dengan kata-kata.

Jumlah penduduk daerah Lampuuk sebelum tsunami semuanya 7000 orang yang menghuni 5 buah desa. Namun, akibat daripada tsunami hanya 1000 orang yang terselamat termasuklah 2 orang makcik tersebut. Tiada satu pun bangunan atau rumah yang terselamat di daerah itu KECUALI Masjid Rahmatullah, satu-satunya binaan yang kekal! Gambar masjid ini begitu famous tersebar di internet. Namun begitu, masjid ini juga mengalami kerosakan yang serius dengan dinding-dindingnya semua sekali runtuh. Selepas berlakunya tsunami, masjid ini dipenuhi pasir setebal +15cm dan bila solat didalamnya boleh nampak terus laut yang hanya 400 meter dari masjid.

Inilah gambar Masjid Rahmatullah yang famous tersebar di internet

Kini Lampuuk bertukar menjadi daerah yang lengang, sekali-sekala kedengaran deruan motorsikal. Rumah-rumah bantuan yang dibina kerajaan Turki kelihatannya banyak kosong, ditumbuhi semak-samun, binatang ternakan seperti kambing berkeliaran menumpang teduh dirumah yang tidak berpenghuni. Mungkin rumah yang dibina melebihi jumlah penduduk selepas tsunami, ada juga penduduk yang telah berpindah ke kampung yang dikira lebih selamat, ada juga yang sudah trauma untuk hidup disitu. Jadi, tinggallah mereka yang masih nekad untuk tinggal ditempat itu termasuklah 2 orang makcik tersebut. Kesunyian hidup selepas tsunami juga diluahkan makcik tersebut.

Katanya kalau dulu masak atau beli lauk untuk makan ramai-ramai bersama keluarga, sekarang hanya makan sorang diri. Beli lauk yang sedap pun dah jadi tak sedap, kini makcik ni makan sorang makcik tu makan sorang. Suasana keluarga itu sudah tiada.

itulah sebenarnya ni’mat yang lebih besar diambil Allah berbanding harta yang lenyap hanya untuk sementara waktu.Sungguh pilu aku mendengar luahan makcik itu. Namun makcik itu begitu tabah bila berbicara, senyuman tetap dihadiahkan untuk anak muda seperti kami. Pertemuan singkat kami itu berakhir dengan aku meminta izinnya untuk bergambar bersama. “Kok jelek bangat anak muda ini” katanya sambil tersenyum..haha “Untuk kenang-kenangan ya? bisa aja”..sambungnya lagi, memahami tujuan aku untuk bergambar.

Foto kenangan : Ust.Zakiran, Ust Fadhlullah, Aku, Makcik A, Makcik B, lupa nak tanya nama..hehe

Semoga perkongsian ini sedikit sebanyak dapat memberi iktibar dan pengajaran pada kita bersama. Memang tak dapat dinafikan orang yang berbicara dengan makcik itu lebih merasa suasananya berbanding anda yang membaca coretan ini, namun ambillah manfaat walaupun sedikit. Ingatlah akan ayat Allah didalam surah Al-Anbiya’:35

Maksudnya :

Tiap-tiap diri pasti merasai mati, dan kami menguji kamu dengan kesusahan dan kesenangan sebagai cobaan dan kepada kamilah kamu semua akan dikembalikan.

________________________________________________________

sedikit info berkenaan Masjid Rahmatullah

1. terletak di daerah Lampu’uk, Aceh Besar, Aceh.

2. dibina &dibuka untuk umum pada 19 Mac 1990

3. satu-satunya bangunan yang kekal di Lampu’uk selepas tsunami pada 26 Disember 2004

Zikir Untuk Menguatkan Tulang Belakang

Pada 27 September 2009 bersamaan 7 Syawal 1431, aku terlibat dalam satu kemalangan yang boleh dikatakan tragis jika dilihat pada keadaan kereta yang terhumban 180 darjah dalam parit besar kaki bukit sekitar Gesing, Raub, Pahang dengan keempat-empat tayar ke atas. Resultnya, aku dapat kecederaan tulang belakang dengan 3 ruas retak dan remuk. Untuk menceritakan sepenuhnya pengalaman aku itu rasanya boleh dibukukan menjadi novel..haha (siapa tahu menjadi realiti). Entri kali ini cukup la aku ceritakan apa yang dapat dimanfaatkan kita bersama.

Semasa terlantar di hospital selama 1 bulan, alhamdulillah Allah memberi aku ilham untuk membaca takbir 33 kali, tahmid 33 kali dan takbir 34 kali. Bagaimana? aku flashback balik memori aku semasa belajar Biology masa sekolah menengah. Seorang guru lelaki ganti yang mengajar kelas tambahan pada hari minggu ketika mengajar Biology bab yang berkaitan tulang belakang berkata :

“Saya dulu seorang askar, dan untuk menguatkan tulang belakang saya mengamalkan tasbih 33 kali, tahmid 33 kali dan takbir 34 kali”

Bila semak balik ilmu yang tak sampai sebesar kulit kerang pun yang ada pada aku, ada logiknya kata-kata guru terbabit. Mungkin guru tersebut tidak memberi penerangan yang lanjut kerana masa yang terbatas. Namun bagi murid yang belajar ilmu agama automatik boleh relate dengan agama. Ilmu untuk orang yang ingin memikirkannya.

Sama-sama kita renungi mafhum hadis berikut:

Dari Abu Hurairah (r.a) katanya, Fatimah meminta kepada Nabi (s.a.w) seorang khadam (pembantu) dan mengadukan bahawa beliau terlalu penat bekerja. Jawab Nabi (s.a.w): “Engkau tidak akan mendapatkannya daripada kami. Mahukah kamu kutunjukkan sesuatu yang lebih baik daripada seorang khadam? Iaitu, tasbih 33 kali, tahmid 33 kali dan takbir 34 kali ketika engkau hendak tidur.” ~ Riwayat Muslim

Mari kita sama-sama rungkaikan maksud tersirat disebalik hadis tersebut…

Sayyidah Fatimah mengadu penat bekerja pada siang hari apatah lagi bila melayan sanak saudara yang datang sehingga sakit-sakit badan beliau yang mulia (dalam riwayat yang lain). Pekerjaan kita seharian, pergerakan badan kita seharian disokong sepenuhnya oleh tulang belakang kita. Jadi, tulang belakang adalah point utama dalam melakukan pekerjaan.

Bila Sayyidah Fatimah mengadu penat dan sakit-sakit badan dan kemudiannya meminta khadam daripada Rasulullah, kerana kebiasaannya Rasulullah menerima hamba abdi yang dihadiahkan oleh raja-raja ‘ajam (bukan arab) sekitar jazirah. Lalu Rasulullah menawarkan yang lebih baik. Apa dia ?? jawapannya seperti mafhum hadis yang dapat anda baca di atas.

Bila kita fikirkan, mengapa 33 kali?? mengapa tidak 7,11,21,50,70,100 kali ??? Bila aku cuba kaitkan pernyataan guru biology aku tadi dengan hadis di atas, sememangnya ada hubungkait.

Point utama ; Tulang Belakang

Tulang belakang merujuk kepada susunan ruas tulang di bahagian belakang yang bertindak memberi sokongan kepada tubuh untuk berada dalam keadaan tegak.( sumber wikipedia)

Biasanya terdapat tiga puluh tiga (33) ruas tulang belakang (vertebra) pada manusia, termasuk lima yang bergabung bagi membentuk sakrum (yang lain terpisah oleh ceper invertebra) dan empat tulang koksiks yang membentuk tulang ekor. Tiga kawasan atas terdiri dari baki 24, dan dikelompok di bawah nama serviks (7 vertebra), toraks (12 vertebra) dan lumbar (5 vertebra), menurut kawasan didudukinya.

Subhanallah ! Alhamdulillah ! Allahu Akbar!

indahnya ciptaan Allah, begitu sempurnanya kejadiannya tiada tolok banding. Jadi, adalah logik saranan Nabi kepada Sayyidah Fatimah supaya membaca zikr tersebut untuk mengatasi kepenatannya. Kita dapat fahami, 33 kali itu mewakili setiap ruas tulang belakang kita itu. Mengapa Takbir 34 kali? rangkaian tasbih, tahmid & takbir itu sebenarnya menghasilkan jumlah 100.

sifirnya 33(tasbih) + 33(tahmid) + 34(takbir) = 100

Mungkin 1 takbir yang menjadikan angka 34 itu mewakili satu gugusan ruas tulang belakang.

Hasilnya, ketika berada di hospital aku mengaplikasikannya sebagai zikr untuk penyembuhan tulang belakang. Baik sebelum dan selepas operation. Aku niatkan setiap zikr itu pada setiap ruas tulang.1 tasbih untuk 1 tulang, 1 tahmid untuk 1 tulang, 1 takbir untuk 1 tulang dan takbir yang ke 34 itu aku niatkan untuk semuanya sekali. Allahu Akbar, kekuasaan Allah mengatasi segalanya, hanya dengan keagunganNya mampu menguatkan setiap ruas tulang belakang. Dari-Nya ujian yang menimpa kita, kepada-Nya kita bermohon kesembuhan, dan dari-Nya datangnya kesembuhan.

Alhamdulillah, selepas 20 hari operation aku mampu berjalan tanpa bertongkat! itu pun setelah 4-5 hari terapi berjalan dengan dipimpin ayahku tercinta, tiada yang mampu kuberikan kepadanya untuk membalas jasanya dari kecil sehinggalah besar dewasa apatah lagi ketika terlantar dihospital. Mungkin kita rasakan ayah tidak menyayangi kita sebagaimana seorang ibu sayang kepada anaknya. Namun sepanjang terlantar dihospital, ayah aku la yang menemaniku walaupun dia amat sibuk dengan kerjanya mencari rezki Allah untuk menyara kami sekeluarga. Begitu terasa kasih sayang seorang ayah, walaupun seorang ayah tidak menunjukkan rasa kasih dan sayangnya kepada si anak secara jelas kerana begitu sikapnya seorang lelaki, TABAH!. Mungkin Allah ingin aku lebih menghargainya dari sebelum ini. Subhanallah!

Ada 3 orang rakan seward aku yang mengalami masalah sama, tulang retak. Bila aku berjumpa dengan mereka 1 bulan selepas operation, dia menggunakan tongkat untuk berjalan sementara pulih sepenuhnya. Bukanlah tujuan aku untuk berbangga (na’uzubillah) tapi kita sememangnya memerlukan bantuan dari segi spiritual atau ruhani untuk kesembuhan fizikal. Penyembuhan inside-out. Ruhani-fizikal. Bahkan dari situ juga aku dapat muhasabah diri, aku ini harus bersyukur pada ni’mat Allah atas kesembuhan diri ini sedangkan masih ramai hambaNya yang lain tidak begitu. Alhamdulillah.

Aku yakin akan kekuasaan Allah mengatasi segala-galanya.  Betul, operation itu satu ihktiar tapi jangan kita ketepikan usaha seperti doa dan sebagainya kerana doa itu adalah hubungan secara langsung antara seorang hamba dengan Allah. Sesungguhnya al-Quran itu tiada ragu-ragu padanya seperti mana ayat surah As-Syua’ara’ ayat 80:

“Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan”

Itulah pandangan peribadiku, dan begitu jugalah Allah mengajarku melalui pengalaman hidup yang telah ditaqdirkan-Nya. Setiap kejadian Allah itu padanya ada tanda-anda kekuasaanNya bagi mereka yang ingin berfikir. Wallahu A’alam.

p/s: jangan kerana entri ini aku disabitkan dengan pereka bidaah..hahaha. maklum la akhir zaman ni makin ramai orang yang ‘alim ..hahahaha

14 Years Old New Muslimah

This time I want to share this amazing interview copied from http://www.islamway.com, just to feed our thoughts!

Here the truth reveal….

The way she speaks is really impressive .. after my conversation with her .. I thought that I must tell her the fact that she is very mature .. please read her words .. and distribute it ..

IslamWay.com:
Dear Sister .. As-salamu alaykum wa rahmatu Allah sister , first of all .. Congratulations for accepting Islam

Sara:
wa alaikum assalam, thank-you

IslamWay.com:
Can you give us brief information about yourself ?

Sara:
My name is Sara, I am 14 years old and in high school. I live in the U.S.

IslamWay.com:
Welcome sister Sara .. I’m really amazed to see someone in your age searching for the truth .. let me admit that .. Can you tell us .. how did you know about Islam for the first time in your life ?

Sara:
Yes, the first time I heard about Islam was about 3 years ago, I was curious about God and religion and wanted to know what others believed. I started reading different materials and read about Islam. I was amazed by how much sense it made.

IslamWay.com:
Isn’t it kind of strange to start reading about religions when you were 11 years old .. is there is any special thing that you have other than other kids around you ?

Sara -smiling-:
I suppose it is strange to read about religion at 11, most my friends didn’t understand how I could be so interested in finding God. My family is Christian, and I have been raised in religion, so it seemed only natural for me to study religion thoroughly and decide on my own what the truth was.

IslamWay.com:
Did you read the Quran ?

Sara:
Not at that time, no.

IslamWay.com:
“A Muslim woman is oppressed and needs to be librated like the western women”… do you have a comment about this ?

Sara:
It saddens me that so many people in the world today believe that Muslim women are oppressed. I believe that we are the most liberated women on earth! To follow the guidelines Allah has given us is the most liberating thing any woman can do.

IslamWay.com:
Well .. from what you see in the west .. are the women there librated ?

Sara:
No, most women in the west are oppressed. We are used as sex symbols. Most women wear outfits that barely cover them, they use their bodies to get attention. We are expected to have ‘perfect’ bodies by the media’s standards, we are supposed to look and act a certain way, and we are expected to do whatever the media tells us to do, and that is to disrespect ourselves and Allah.

IslamWay.com:
So did you wear the hijab ?

Sara:
No I do not. I would like to very much, but my family is unaware that I converted to Islam, and I will wear the hijab after I tell them.
IslamWay.com:
You think that you will have problems with them after telling them ?

Sara:
I’m not sure. I suppose I am allowing my fear to keep me from telling them.

IslamWay.com:
I see .. Just ask Allah to give your the power and the patience to take this step .. and I guess all Muslims who are reading this interview now will make du’a for you to ease things in sha Allah ..

IslamWay.com:
What is the thing you liked most in the Muslims community ?

Sara:
I admire the dedication Muslims have to Islam, there is an amazing peace and grace that Allah gives to those who serve him as completely as they can. To many it may seem hard to follow Allah’s guidelines, but Allah gives every Muslim an amazing strength to help them. What I liked most about the Muslims I met was how friendly and caring they were.

IslamWay.com:
“Most of Muslims nowadays are not practicing Muslims  …” first of all .. what do you feel about that ? And is that why Islam is not spreading too fast? And what would you say to a none practicing Muslim ?

Sara:
1) I firmly believe that the statement “Most Muslims nowadays are not practicing Muslims .. ” is false. I do not believe you can truly be Muslim without being a ‘practicing Muslim’. Islam isn’t just a religion, it’s a way of life. That’s one of the many things I love about it.
2) Islam is one of the fastest growing religions in the world, I believe the reason for this is that people see the truth in it, and when they decide to live to serve Allah, they are given an amazing happiness and grace that others see and admire, that is what draws people to Islam.
3) Trust Allah, serve him completely, and he will give you the grace, peace, and happiness you need to be a ‘practicing Muslim’.

IslamWay.com:
What is your future plans ? Your dreams ?

Sara:
I’ve always had a dream: To become a leader in our world and once again help establish peace and good relations between different people.

IslamWay.com:
Do you have any plans for learning Arabic ?

Sara:
Yes. i LOVE languages. It’s something that i enjoy very much, and my parents support my Arabic education, I will hopefully begin taking a language course this Fall. My dad lived in an Arabic speaking country for years, and so he would help me study.

IslamWay.com:
oh i see .. Which country?

Sara:
Sudan (in Africa)

IslamWay.com:
Can you tell us in details how did you revert to Islam ?

Sara:
I had originally heard about Islam about 3 years ago, my parents found out that I was reading about it and discouraged me from doing so, studying it much further. Then last Fall I started high school at a new school that has a lot of Muslim students.
When I first started going there I remembered my studying and was curious about how they would act. My parents had told me Muslims were horrible mean, militant, abusive people. So I kind of expected them to be that way, I was wrong! The first couple of friends I made there were Muslims.

They were nice, friendly, caring people. I remember them talking about their God, and I was amazed by how much they loved Islam. I began very quickly began respect them, and quickly became very curious about their beliefs. A friend of mine asked them about Islam one day, and it turned into a several hour long conversation about Allah, and Islam, and daily life. I was surprised by how much sense it all made, and how happy they were. I began reading the Qur’an and looking for more information on the internet, and soon after I said the shahadah and converted to Islam. I’m still amazed by how happy and peaceful my life is. Allah has given me much strength in everyday life. Inshallah my parents will see this.

IslamWay.com:
In sha Allah .. May Allah reward you sister for your time… and may Allah keep you in the right path .. Amen .. As-salamu alaykum

Sara:
wa alaikum assalam, thank-you

Ma’salaam
Nazia Shaheen

Those whom Allah (in His Plan) willeth to guide He openeth their breast to Islam(Al Anʼam:125)
Allah is the Guide of those who believe to the Straight Way.(Al Hajj: 54)

Post Navigation

%d bloggers like this: