Saving Memoir

No more update after 1 December 2011 | moved to maktubat.wordpress.com

Archive for the category “Akidah”

Rose Between Two Teacher

A young, new ustadh (teacher) was walking with an older, more seasoned ustadh (teacher) in the garden one day. Feeling a bit insecure about what Allah had for him to do, he was asking the older ustadh for some advice.

The older ustadh walked up to a rosebush and handed the young ustadh a rosebud and told him to open it without tearing off any petals. The young ustadh looked in disbelief at the older ustadh and was trying to figure out what a rosebud could possibly have to do with his wanting to know the will of Allah for his life and ministry.

But because of his great respect for the older ustadh, he proceeded to try to unfold the rose, while keeping every petal intact… It wasn’t long before he realized how impossible this was to do. Noticing the younger ustadh’s inability to unfold the rosebud without tearing it, the older ustadh began to recite the following poem…

It is only a tiny rosebud,
A flower of Allah’s design;
But I cannot unfold the petals
With these clumsy hands of mine.
The secret of unfolding flowers
Is not known to such as I.
ALLAH opens this flower so sweetly,
Then in my hands they die.
If I cannot unfold a rosebud,
This flower of Allah’s design,
Then how can I have the wisdom
To unfold this life of mine?
So I’ll trust in Allah for leading
Each moment of my day.
I will look to Allah for His guidance
Each step of the way.
The pathway that lies before me,
Only Allah knows.
I’ll trust Him to unfold the moments,
Just as He unfolds the rose.

Yakinlah ! Yakinlah pada-Nya

Dah lama tak update blog ni.Terlalu banyak perkara yang perlu aku settlekan. Nenek aku meninggal, pastu dpt offer untuk sambung pengajian. Buat keputusan on the spot sebab takde masa terluang untuk berfik dengan tenang, hanya mengikut kata hati. Bila dah sambung belajar, sibuk dengan registration, assignment bertimbun walaupun baru 2 minggu kat sini Dah 4 presentation. wireless connection kat sini plak cam sial. Apapun, bersyukurlah apa yang ada serta bersabar terhadap ujian yang dihadapi.

Kali ini, aku nak kongsi artikel je la. Tak sempat nak tulis sendiri.

Yakinlah ! Yakinlah kepadaNya.

Author: Lhinblue alfayruz

Kunci tauhid itu satu: YAKIN.

YAKIN bahwa hanya Allah yang Maha Kuasa terhadap apa yang terjadi di dunia ini
YAKIN bahwa apapun yang terjadi pada diri kita, itu semua dikehendaki oleh Allah
YAKIN bahwa Allah menghendaki kebaikan dan keburukan yang menimpa diri kita dengan suatu tujuan
YAKIN bahwa dalam setiap kejadian yang menimpa kita, itulah keputusan terbaik dari-NYA setelah ikhtiar terbaik yang kita lakukan
YAKIN bahwa doa maupun jeritan hati kita didengar oleh Allah karena DIA begitu dekat
YAKIN bahwa doa adalah senjata ampuh kaum mukmin

Setelah mengikuti acara UI Bertauhid yang diisi oleh KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) sebagai contemplation akhir tahun Masehi, yang diadakan pada Selasa, 28 Desember 2010, di Masjid Ukhuwah Islamiyah, Universitas Indonesia, Depok, aku menjadi semakin yakin bahwa memang keyakinan terhadap Rabb itulah yang membuat hidup seseorang menjadi tenang. Jika mendapatkan ujian kesulitan, bersabarlah sedangkan jika mendapatkan ujian kenikmatan maka bersyukurlah. Ya! Memang seharusnya dua hal itulah yang dilakukan kaum mukmin dalam menjalani roda kehidupan ini: bersabar dan bersyukur. Apapun yang terjadi pada diri kita, semua itu dikehendaki oleh Allah. So, jangan pernah takut menjalani hidup, ada Allah Yang Maha Besar dan Maha Kuasa. Mintalah padaNYA niscaya DIA akan mendengarkan segala pinta.

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ”Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (QS. Al-Ankabut: 2-3)

Sejatinya, hidup ini adalah sebuah perjalanan dari satu ujian menuju ujian berikutnya. Entah itu berupa ujian kesulitan maupun ujian kenikmatan. Setiap kita yang mengaku beriman tidak akan dibiarkan begitu saja, masing-masing diri kita akan diuji sesuai kadarnya masing-masing, bahkan Allah akan menguji di titik terlemah kita. Ujian itulah yang akan membuktikan keimanan kita, apakah kita benar-benar beriman atau hanya mengaku beriman padahal ternyata keimanan kita hanyalah dusta.

Selepas dari kajian Aa Gym ini, aku langsung mendapatkan ujian berkaitan dengan keyakinan pada Allah.

Di suatu siang, di sebuah auditorium FIB UI, ketika aku sedang berada di acara yang dihadiri Puan Asma Nadia sebagai pembicara, di tengah-tengah asyik memperhatikan isi acara tentang dunia kepenulisan dan perfilman, ada sms datang di layar HPku:

”Lhin, bahan-bahan qta di almari lab ga ada.. cuma tertinggal benzil klorida. Semuanya udah pd dibuangin ke bakul sampah..”

Segera kubalas: ”ya ampuunn.. itu kan ada ionic liquids yang harganya mahal banget.. aduuuhh,, gmana ini?? Kamu tlg cari2 dulu di bak sampahnya ya..”

”Udah aku cari-cari n obrak abrik tong sampah akhir,, tapi gak ketemu Lhin..aku udh mau pingsan niih rasanya..”

Aku langsung teringat bahan berhargaku, bahan penelitian yang begitu butuh perjuangan untuk mendapatkannya. Ionic liquids [BMIM] PF6 yang bernilai 3.5 juta rupiah (RM 1183) hanya untuk 5 gram, yang harus didapatkan dari Singapura, yang harus menunggu waktu yang lama dalam pemesanannya. Ya Allah! Padahal penelitianku sudah usai dan tinggal menunggu sidang, kenapa masih ada masalah dengan bahan berhargaku itu??

Hatiku dag dig dug dan segera aku tinggalkan auditorium FIB UI untuk menuju gedung Departemen Kimia UI. Ya! Segera kutinggalkan acara yang sangat menarik itu demi bahan penelitianku yang berharga. Bukan hanya masalah harga yang selangit dari bahan penelitian itu yang membuat hatiku dag dig dug. Ini masalah amanah yang aku pikul, amanah untuk menjaga bahan penelitianku yang sangat berharga, yang diberikan oleh pensyarah pembimbingku. Tak terbayang akan kecewa dan marah besarnya sang pensyarah pembimbing yang telah memberi dana untuk kajianku jika memang ionic liquids itu benar-benar sudah terbuang ke dalam bakul sampah dan hilang begitu saja, padahal aku masih harus menyelesaikan research ini setelah lulus nanti. Tak terbayang, hubungan yang selama ini sudah terjaga keharmonisannya dengan pensyarah pembimbingku harus hancur berantakan ketika mengetahui ionic liquids itu sudah dibuang ke bak sampah akhir di gedung Kimia dan tidak bisa ditemukan atau bahkan sudah pecah dan isinya tercampur dengan sampah-sampah. Tak terbayang jika aku harus mengganti ionic liquids itu yang berharga 3.5 juta-an yang mungkin hanya bisa ditutupi dengan honor mengajarku beberapa bulan lamanya.

Sepanjang perjalanan menuju Departemen Kimia UI, pikiranku dipenuhi berbagai hal yang berkecamuk. Mulai dari membayangkan jika benar-benar tidak ditemukan ionic liquids itu, bagaimana reaksi sang pensyarah pembimbing ketika mengetahuinya, bagaimana aku harus mengganti dan memesan ionic liquids itu kembali, sampai menyalahkan diriku sendiri yang seharusnya mengembalikan segera ionic liquids itu ke pensyarah pembimbingku bahkan sempat terlintas pikiran yang menyalahkan temanku yang menghilangkan kunci almari labku.

Astaghfirullahaladzim. Diri ini mencoba beristighfar berkali-kali, membentengi semua pikiran yang berkecamuk, mencoba berusaha untuk tetap tenang. Segera kumasukkan pikiran-pikiran positif: Lhin, semua yang terjadi pada diri kita, itu pasti dikehendaki Allah. Kejadian seperti inipun Allah yang kehendaki, pasti ada sesuatu yang harus kamu ambil hikmahnya dari kejadian ini. Kalau ionic liquids itu masih jodohmu insya Allah ia akan ditemui, kalaupun dia memang benar-benar hilang atau pecah, ya tentunya memang itulah yang dikehendaki Allah. Masalah wang untuk menggantinya, yakinlah Allah yang akan bukakan jalan. Allah yang menghendaki semua ini, Allah juga yang pasti akan menunjukkan jalan keluarnya. Masalah dengan pensyarah pembimbingmu, beritahu beliau dan selesaikan urusan ini setelah sidang agar moodnya baik-baik saja ketika sidang nanti dan katakan kamu yang akan bertanggung jawab penuh untuk menggantinya dengan memesan kembali ionic liquids itu. Tenang, tenang, yakinlah, yakinlah, yakinlah padaNYA! Semua akan baik-baik saja..

Benar saja, setelah menumbuhkan pikiran-pikiran positif, diri ini pun kembali tenang. Entah kenapa ada jeritan dalam hati ini, ada keyakinan dalam hati: insya Allah ionic liquids itu masih ada dalam bak sampah akhir itu dan masih baik-baik saja.. Ya Allah, temukanlah, kumohon..

Aku pun sampai di gedung Departemen Kimia UI dan langsung menemui bapak yang bertugas membersihkan lab dan tentunya pula yang membuang ionic liquidsku ke dalam bak sampah. Pak Kiri biasa kami memanggilnya. Aku segera meminta tolong padanya untuk ditunjukkan bak sampah dimana beliau membuang semua bahan-bahan kimia dari lab kimia; akan kumasuki bak sampah itu, akan kukais-kais supaya ionic liquidsku ketemu dan mungkin memang itulah ikhtiar terbaik yang harus dilakukan. Beliau pun menunjukkan dan membantu mengorek-ngorek bak sampah tanpa harus kami memasuki bak sampah itu, cukup mengaisnya menggunakan batang kayu yang cukup panjang.

Dikais-kais beberapa lama tak juga ketemu, bahkan bau sampah pun sudah tak tercium lagi di hidungku, mataku terus memperhatikan setiap sampah botol-botol bahan kimia bercampur belatung yang menggeliat ke sana kemari di atas dedaunan. Dalam pencarian itu, hatiku terus berdoa: “Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami ya Rabb.. kumohon. Jangan kau butakan mata kami untuk tidak dapat melihatnya. Ya Allah, kumohon temukanlah mata kami dengan botol keci coklat bertutup merah itu.. ” , jeritku dalam hati berulang-ulang sambil membayangkan botol kecil berwarna coklat dengan tutup merah yang masih utuh ketika aku menemukannya nanti.

Tak berapa lama kemudian, Pak Kiri berteriak: “Yang ini bukan??”
”Iya Pak! Bener Pak! Yang itu! Yang itu! Alhamdulillah..”, sahutku.

Namun kami agak kesulitan untuk mengambilnya karena bak sampah cukup tinggi juga, kira-kira seleherku. Alhamdulillah, saat itu, di sana ada ibu-ibu pemulung. Sungguh, memang Allah lah yang mempertemukan kami di lokasi bak sampah itu. Akhirnya kami meminta tolong padanya untuk mengambilkan botol kecil yang kami cari ke dalam bak sampah itu. Sang ibu pemulung yang memang sudah terbiasa di tempat seperti itu, segera memasuki bak sampah dan mengambil botol ionic liquidsku dan memberikannya kepada Pak Kiri, dan Pak Kiri-lah yang memberikannya kepadaku.

Ketika akhirnya botol kecil itu berada dalam genggamanku..

”Alhamdulillah.. makasih ya Buuuu.. makasih ya Pak..”

Seketika itu pula ketika ucapan itu keluar dari bibirku, airmataku tumpah dan menderas. Ingin rasanya sujud syukur saat itu juga, tapi lokasinya tak memungkinkan. Temanku pun datang, kami berpelukan sambil menangis; sebuah tangisan haru. Tangisan yang menunjukkan betapa tidak berdayanya kami kecuali tanpa pertolongan dari-NYA. Laa hawla walaa quwwata illabillah..

Sambil berpelukan, di lokasi bak sampah itu aku hanya bisa membayangkan aku benar-benar sedang bersujud syukur. Dan temanku pun akhirnya mengajakku ke gedung kimia untuk sujud syukur di sana. Aku bergegas menuju mushalla kimia, kutundukkan diri ini, sujud ke hadapanNYA, dan menangis sejadi-jadinya; ”Ya Allah, Engkau sungguh baik padaku, tapi apa yang selama ini sudah kulakukan dalam ibadah-ibadahku padaMU?? Sering aku lalai dalam mengingatmu duhai Rabb..”

Sungguh, kontemplasi akhir tahun yang sungguh nikmat bagiku dengan hal seperti ini. Ya! Sepertinya Allah memang ingin menunjukkan hal ini, menunjukkan Kuasa-NYA, dan Allah memberikan cara terbaikNYA untuk menegurku.

Semoga sepenggal kisahku ini bisa diambil hikmahnya bahwa kita bukanlah apa-apa dan bukanlah siapa-siapa. Pada dasarnya kita hanyalah manusia biasa yang tidak berkuasa sedikitpun atas kejadian yang menimpa diri kita. Hanya Allah yang berkuasa atas segalanya maka Yakinlah! Yakinlah padaNYA!. Ketika keyakinan itu tumbuh dalam hatimu, insya Allah hidup kita pun akan tenang. Kita takkan pernah takut seberat apapun ujian kesulitan hidup karena kita YAKIN bahwa Allah yang memberikan ujian kesulitan itu.. Allah pula yang akan menunjukkan jalan keluarnya. Kita tidak akan pernah sombong sebesar apapun ujian kenikmatan karena kita YAKIN bahwa kenikmatan yang kita dapatkan itu semata-mata hanya dari Allah.

14 Years Old New Muslimah

This time I want to share this amazing interview copied from http://www.islamway.com, just to feed our thoughts!

Here the truth reveal….

The way she speaks is really impressive .. after my conversation with her .. I thought that I must tell her the fact that she is very mature .. please read her words .. and distribute it ..

IslamWay.com:
Dear Sister .. As-salamu alaykum wa rahmatu Allah sister , first of all .. Congratulations for accepting Islam

Sara:
wa alaikum assalam, thank-you

IslamWay.com:
Can you give us brief information about yourself ?

Sara:
My name is Sara, I am 14 years old and in high school. I live in the U.S.

IslamWay.com:
Welcome sister Sara .. I’m really amazed to see someone in your age searching for the truth .. let me admit that .. Can you tell us .. how did you know about Islam for the first time in your life ?

Sara:
Yes, the first time I heard about Islam was about 3 years ago, I was curious about God and religion and wanted to know what others believed. I started reading different materials and read about Islam. I was amazed by how much sense it made.

IslamWay.com:
Isn’t it kind of strange to start reading about religions when you were 11 years old .. is there is any special thing that you have other than other kids around you ?

Sara -smiling-:
I suppose it is strange to read about religion at 11, most my friends didn’t understand how I could be so interested in finding God. My family is Christian, and I have been raised in religion, so it seemed only natural for me to study religion thoroughly and decide on my own what the truth was.

IslamWay.com:
Did you read the Quran ?

Sara:
Not at that time, no.

IslamWay.com:
“A Muslim woman is oppressed and needs to be librated like the western women”… do you have a comment about this ?

Sara:
It saddens me that so many people in the world today believe that Muslim women are oppressed. I believe that we are the most liberated women on earth! To follow the guidelines Allah has given us is the most liberating thing any woman can do.

IslamWay.com:
Well .. from what you see in the west .. are the women there librated ?

Sara:
No, most women in the west are oppressed. We are used as sex symbols. Most women wear outfits that barely cover them, they use their bodies to get attention. We are expected to have ‘perfect’ bodies by the media’s standards, we are supposed to look and act a certain way, and we are expected to do whatever the media tells us to do, and that is to disrespect ourselves and Allah.

IslamWay.com:
So did you wear the hijab ?

Sara:
No I do not. I would like to very much, but my family is unaware that I converted to Islam, and I will wear the hijab after I tell them.
IslamWay.com:
You think that you will have problems with them after telling them ?

Sara:
I’m not sure. I suppose I am allowing my fear to keep me from telling them.

IslamWay.com:
I see .. Just ask Allah to give your the power and the patience to take this step .. and I guess all Muslims who are reading this interview now will make du’a for you to ease things in sha Allah ..

IslamWay.com:
What is the thing you liked most in the Muslims community ?

Sara:
I admire the dedication Muslims have to Islam, there is an amazing peace and grace that Allah gives to those who serve him as completely as they can. To many it may seem hard to follow Allah’s guidelines, but Allah gives every Muslim an amazing strength to help them. What I liked most about the Muslims I met was how friendly and caring they were.

IslamWay.com:
“Most of Muslims nowadays are not practicing Muslims  …” first of all .. what do you feel about that ? And is that why Islam is not spreading too fast? And what would you say to a none practicing Muslim ?

Sara:
1) I firmly believe that the statement “Most Muslims nowadays are not practicing Muslims .. ” is false. I do not believe you can truly be Muslim without being a ‘practicing Muslim’. Islam isn’t just a religion, it’s a way of life. That’s one of the many things I love about it.
2) Islam is one of the fastest growing religions in the world, I believe the reason for this is that people see the truth in it, and when they decide to live to serve Allah, they are given an amazing happiness and grace that others see and admire, that is what draws people to Islam.
3) Trust Allah, serve him completely, and he will give you the grace, peace, and happiness you need to be a ‘practicing Muslim’.

IslamWay.com:
What is your future plans ? Your dreams ?

Sara:
I’ve always had a dream: To become a leader in our world and once again help establish peace and good relations between different people.

IslamWay.com:
Do you have any plans for learning Arabic ?

Sara:
Yes. i LOVE languages. It’s something that i enjoy very much, and my parents support my Arabic education, I will hopefully begin taking a language course this Fall. My dad lived in an Arabic speaking country for years, and so he would help me study.

IslamWay.com:
oh i see .. Which country?

Sara:
Sudan (in Africa)

IslamWay.com:
Can you tell us in details how did you revert to Islam ?

Sara:
I had originally heard about Islam about 3 years ago, my parents found out that I was reading about it and discouraged me from doing so, studying it much further. Then last Fall I started high school at a new school that has a lot of Muslim students.
When I first started going there I remembered my studying and was curious about how they would act. My parents had told me Muslims were horrible mean, militant, abusive people. So I kind of expected them to be that way, I was wrong! The first couple of friends I made there were Muslims.

They were nice, friendly, caring people. I remember them talking about their God, and I was amazed by how much they loved Islam. I began very quickly began respect them, and quickly became very curious about their beliefs. A friend of mine asked them about Islam one day, and it turned into a several hour long conversation about Allah, and Islam, and daily life. I was surprised by how much sense it all made, and how happy they were. I began reading the Qur’an and looking for more information on the internet, and soon after I said the shahadah and converted to Islam. I’m still amazed by how happy and peaceful my life is. Allah has given me much strength in everyday life. Inshallah my parents will see this.

IslamWay.com:
In sha Allah .. May Allah reward you sister for your time… and may Allah keep you in the right path .. Amen .. As-salamu alaykum

Sara:
wa alaikum assalam, thank-you

Ma’salaam
Nazia Shaheen

Those whom Allah (in His Plan) willeth to guide He openeth their breast to Islam(Al Anʼam:125)
Allah is the Guide of those who believe to the Straight Way.(Al Hajj: 54)

Benarkah Imam Mahdi wujud ? # Part 4

Kesimpulan

Daripada huraian yang agak panjang lebar sebelum ini, dapatlah kita simpulkan ;

  1. Aqidah yang mengatakan bahawa Imam Mahdi al-Muntazir yang akan muncul di akhir zaman kelak adalah datang daripada Shi’ah, bukannya daripada Ahl al-Sunnah Wa al-Jama’ah.
  2. Tujuan direka aqidah ini hanya samata-mata untuk tujuan politik, iaitu untuk menegakkan bahawa yang berhak menyandang jawatan khalifah bagi umat Islam selepas Rasulullah hanyalah daripada keturunan Bani Hashim sahaja. Oleh yang demikian, mereka itu tidak mengiktiraf khalifah Abu Bakr, Umar al-Khattab, ‘Uthman dan seterusnya yang tidak berketurunan Bani Hashim. Mereka juga tidak mengakui bahawa janji Allah didalam al-Qur’an kepada Nabi Muhammad dengan kezahiran agamanya mengatasi agama-agama yang lain, sebagaimana yang terdapat didalam ayat;

هو الذي ارسل رسوله بالهدى ودين الحق ليظهره على الدين كله ولو كره المشركون

Sedangkan situasi didalam ayat ini telah nyata pada masa pemerintahan Khulafa’ al-Rashidin­ dan khilafah selepasnya. Sebaliknya kata mereka (Shi’ah) situasi itu tidak menjadi realiti melainkan apabila zahirnya salah seorang daripada keturunan Saidina Ali dan Saidatina Fatimah (r.a) di akhir zaman kelak. Pada waktu itu nanti barulah wujud sebuah Khilafah Islamiyyah seperti yang dimaksudkan dalam ayat di atas.

3. Berkenaan tiga hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ibn Majah itu pada pandangan ulama’ Muhaddithin dan Muhaqqiqin semuanya adalah daif, mengikut kaedah ilmu Mustholah al-Hadis ianya tidak dapat dijadikan hujah. Manakala mengikut pendapat al-Muhaddith Imam Shah Waliyullah ad-Dehlawi bahawa ketiga-tiga hadis itu masih boleh diterima walaupun tidak kuat dengan berpegang pada maksud bahawa hadis itu tiada kaitan dengan al-Mahdi al-Muntazir tetapi merujuk kepada Khalifah al-Mahdi daripada Bani ‘Abbasiyyah yang juga Ahl al-Bait Rasulullah.

Ada beberapa ulama’ yang bersependapat dengan Imam Shah Waliyullah itu tentang hadis mengenai al-Mahdi itu seperti Shaikh al-Khatib Baghdadi, Imam as-Suyuti dan juga Shaikh Rafi’ie sebagaimana yang terdapat dalam petikan dibawah ;

اخرج الترميذي عن سفيان الثوري وابن عُيَيْنة كلاهما عن عاصم عن زر عن عبدالله قال النبي صلى الله عليه وسلم : “لا تذهب الدنيا حتى يملك العرب رجل من أهل بيتي يواطئ اسمه اسمي.” قال ابو عيسى هذا حديث حسن صحيح ، ذكر السيوطي حاشية على الترميذي ان الرافعي قال في تاريخ قزوين . أورده الخطيب في كتابه تاريخ بغداد في ترجمة امير المؤمنين المهدي العباسي فكأنه اشار الى حمل لحديث على . قال استاذ السند ، الخطيب حمله ذلك والرافعي والسيوطي يصدقانه وليس في احاديث المهدي حديث صح في الأسناد منه .  – تفسير القرآن الخطبة للعلامة السندي

Maksudnya : Diterbitkan oleh at-Tirmizi daripada Sufyan at-Thauri dan Ibn ‘Uyainah, kedua-duanya daripada ‘Asim daripada Zarr daripada Abdullah, Nabi S.A.W telah bersabda : “Tidaklah hilang dunia ini sehinggalah seorang lelaki daripada Ahl al-Bait aku menguasai dunia, namanya sama dengan nama aku.” Kata Abu Isa at-Tirmizi, hadis ini hasan lagi sahih. As-Suyuti menyebut didalam Hashiyahnya berdasarkan kitab at-Tirmizi. Ar-Rafi’ie ada menyebutnya didalam kitab Tarikh Qazwin dan hadis itu juga dicatatkan oleh al-Khatib didalam kitabnya Tarikh Baghdad berkaitan dengan riwayat pengenalan Amir al-Mu’minin al-Mahdi al-‘Abbasiy, tulisannya itu menunjukkan bahawa orang yang disebut didalam hadis itu amat bertepatan dengan al-Mahdi al-‘Abbasiy itu.- Tafsir Al-Qur’an , Ubaidullah al-Sindh

Menurut kata guru kami, Maulana al-‘Alāmah Ubaidullah al-Sindh bahawa al-Khatib itu telah berpendapat al-Mahdi al-‘Abbasiy itu adalah orang yang dimaksudkan didalam hadis tersebut. Imam ar-Rafi’ie dan Imam as-Suyuti juga menyatakan hal demikian serta membenarkan pandangan itu dan tidak ada lagi hadis-hadis yang berkaitan Imam Mahdi ini yang sahih tentang sanadnya melainkan hadis di atas itu sahaja.

Hasilnya, tidaklah ada dalil yang boleh dipercayai dan dijadikan pegangan samaada daripada al-Qur’an mahupun hadis sahih mengikut persepakatan Ahli Hadis yang benar berhubung dengan masalah Imam Mahdi yang dikatakan akan muncul itu.

Sehubungan itu, umat Islam hari ini tidak lagi perlu menunggu-nunggu kedatangan Imam Mahdi atau yang seumpama dengannya untuk menegakkan syi’ar Islam dan mengembalikan kemuliaan serta kedaulatan yang sekian lama telah hilang daripada mereka. Bahkan apa yang perlu dilakukan pada hari ini ialah mempelajari dan mengkaji dengan teliti hikmah-hikmah dan falsafah yang terkandung didalam al-Qur’an al-Karim dan al-Sunnah al-Nabawiyyah serta beramal dengannya mengikut panduan dan contoh-contoh yang ditunjukkan oleh junjungan besar Nabi Muhammad S.A.W  dan para sahabat yang sama berjuang bersama baginda. Dengan demikian, Insha Allah kita akan memperoleh hasil sebagaimana yang diperoleh oleh umat Islam terdahulu pada zaman kemuncak ketinggian dan kemuliaan yang tidak ada tolok bandingnya didalam sejarah dunia ketika itu.

Sebelum mengakhiri tulisan ini, saya berharap perkara ini dapat dikongsi bersama para alim-ulama’ yang lain dan berharap mereka yang lain juga turut membuat kajian. Jika mereka dapati dalil-dalil dan nas-nas yang lebih kuat dari apa yang saya kemukakan, pihak saya sedia menerimanya dengan berlapang dada dan dengan hati yang ikhlas kerana sudah kita maklum bahawa manusia itu tidak sunyi daripada salah dan silap. Walhamdulillahi Rabbil ‘Alamin.

Saya sudahi tulisan ini dengan ayat ;

قال فاتوا بكتاب اهدى منهما اتبعه

*** siap pada 25 Januari 1976 bersamaan 23 Muharram 1396

** Penulis, Almarhum Ustaz Nik Mahmud adalah anak kepada Mufti Haji Wan Musa, mufti ke-3 Negeri Kelantan. Beliau merupakan graduan daripada Universiti Islam Deoband, India. Beliau menuntut ilmu hadis bersanad melalui gurunya as-Syahid Maulana Ubaidullah Al-Sindh, juga pernah menuntut secara talaqqi dengan beberapa ulama’ besar di Makkah dan juga Umm al-Qura. Beliau juga merupakan pengasas kepada Sekolah Islah, Jalan Pekeliling, Kota Bharu.

**  Artikel ini asalnya dalam bahasa Arab dan telah diterjemahkan kedalam bahasa Melayu oleh Ustaz Luqman Abdul Latif pada tahun 1976 juga. Kemudian ianya dialih bahasa kepada gaya bahasa Melayu yang sesuai dengan gaya bahasa sekarang oleh Wan Mujahid Mohd Nordin pada 1 Julai 2009.

________________________________________________

Rujukan :

1. كتاب ازالة الخفاء في سيرة الخلفاء, oleh as-Syahid al-Muhaddith Imam Shah Waliyullah ad-Dehlawi

2.  كتاب التمهيد في أئمة التجديدoleh as-Syahid al-‘Alāmah Maulana Ubaidullah al-Sindh

3.  سنن ابن ماجة, oleh al-Muhaddith Imam Ibn Majah (r.h)

4.  مقدمة ابن خلدون, oleh Abdul Rahman Ibn Khaldun al-Maghribi

5.  فجر الإسلام, oleh al-‘Alāmah Shaikh Ahmad Amin

6.  كتاب الغنية, oleh Shaikh Abdul Qadir al-Jailani

Benarkah Imam Mahdi wujud ? # Part 3

Huraian bagi persoalan ketiga

Sekarang tibalah masanya bagi mengkaji beberapa hadis yang berkaitan dengan persoalan kemunculan Imam Mahdi yang ditunggu-tunggu dan apa pendapat ulama’-ulama’ hadis yang muhaqqiq terhadap hadis-hadis tersebut.

1. Hadis pertama ;

أخرج ابن ماجة في كتاب السنن عن عبد الله بن مسعود من طريق يزيد بن ابي زياد عن ابراهيم عن علقمة عن عبد الله قال بينما نحن عند رسول الله صلى الله عليه وسلم اذ اقبل فقية من بني هاشم فلما رأو هم رسول الله صلى الله عليه وسلم اغر ورقت عيناه وتغير لونه قال فقلت ما نزال نرى في وجهك شيئا تكرهه ان هل بيت اختار الله لنا الا خرة على الدنيا وان أهل بيت سيلقون بعدي بلأ ونشريدا وتطريدا حتى يأتي قوم من قبل المشرق معهم رايات سود فيسألون الخير فلا بعطونه فيقاتلون وينصرون فيعطون ما سألوا افلا يقبلونه حتى يدفعوها الى رجل من أهل بيتي فيملؤها قسطا كما ملأوها جورا فمن ادرك ذلك منكم فليأتهم ولو جبوا على ثلج….انتهى

Maksudnya : Dikeluarkan oleh Ibn Majah didalam Kitab al-Sunan, daripada Abdullah Bin Mas’ud melalui Yazid Bin Abi Zaid daripada Ibrahim daripada ‘Alqamah daripada Abdullah katanya : Tatkala kami berada disisi Rasulullah S.A.W tiba-tiba datang mengadaplah sekumpulan pemuda dari Bani Hashim. Setelah Rasulullah memandang mereka, berlinanglah airmata dari mata baginda dan berubahlah warnanya. Maka dia (Abdullah) berkata,  aku berkata : nampaknya ada sesuatu perkara yang tuan tidak ingini berlaku ? Baginda menjawab : Kami dari Ahl al-Bait telah dipilih oleh Allah akan akhirat bagi kami, tidak dipilih-Nya dunia ini untuk kami. Semua Ahl al-Bait aku akan menemui bala dan menjadi buruan selepas aku, hinggalah datang suatu kaum dari sebelah matahari terbit membawa panji-panji bendera berwarna hitam. Mereka ini meminta diberikan kebaikan , tetapi mereka tidak dikurniakan kebaikan lalu mereka pun berperang dan kemudiannya mendapat kemenangan, lalu mereka pun dikurniakan apa sahaja yang mereka minta dahulu itu(sebelum berperang). Tetapi, pada ketika itu mereka tidak lagi mahu menerimanya sehingga mereka menolak perkara itu kepada seorang lelaki dari kalangan Ahl al-Bait aku. Maka dia itulah yang memenuhi dunia dengan keadilan sebagaimana orang-orang terdahulu darinya memenuhi dunia dengan kezaliman. Maka barangsiapa daripada kamu ini sempat melalui masa itu dari aku sekarang maka hendaklah dia pergi menemui mereka itu walaupun dengan mengensot dan merangkak diatas salji sekalipun.

Hadis ini terkenal dikalangan para muhaddithin dengan nama hadis panji-panji. Tentang Yazid Bin Abi Zaid sebagai perawi hadis itu, mengikut Shu’bah dia adalah seorang yang kuat mengangkat hadis-hadis yang tidak masyhur sebagai hadis marfu’. Manakala Imam Ahmad Bin Hanbal (r.h) pula memberi komen pasal Yazid itu mengatakan dia tidaklah seorang yang hafiz (yang menghafaz/mengingati hadis). Dalam komen yang lain pula Imam Ahmad berkata hadis itu tidaklah sebegitu.

Yahya Bin Ma’in pula berkata, perawi hadis itu seorang yang lemah dan daif. Abu Zur’ah pula berkata, hadisnya lemah, boleh untuk direkod tetapi tidak boleh dijadikan hujah. Imam Muslim juga ada meriwayatkan hadis beliau (Yazid) ini tetapi kerana syarat ada persamaan hadis dengan orang lain lagi. Secara ringkasnya, kebanyakan tokoh-tokoh hadis menganggapnya seorang perawi hadis yang lemah. Para Imam-imam telah berterus terang dengan melemahkan hadis yang diriwayatkan oleh beliau tadi, iaitu yang diterima daripada ‘Alqamah daripada Abdullah ( hadis panji-panji tadi ).

2. Hadis kedua ;

واخرج ابن ماجة عن ثوبان قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : يقتتل عند كنذكم ثلاثة كلبهم ابن خليفة ثم لا بصير الى واحد منهم ثم تطلع الرايات السود من قبل المشرق فيقتلونكم قتلا لهم يقتله قوم ثم ذكر شيئا لا أحفظه ز قال : فإذا رايتموه فبايعوه ولو حبوا على الثلج فإنه خليفة الله المهدي . ( ورجاله رجال الصحيحين الا ان فيه ابا قلابة الجرمي وذكر الذهبي وغيره انه مدلّس

Maksudnya : Dan dikeluarkan oleh Ibn Majah daripada Thauban, katanya : Rasulullah S.A.W bersabda : Akan bergaduh dan berperang disisi perbendaharaan kamu tiga orang, semua mereka anak khalifah. Kemudian tidaklah seorang pun daripada mereka itu perolehnya. Kemudian timbullah panji-panji hitam dari sebelah timur. Mereka akan membunuh kamu dengan cara yang pernah dilakukan oleh tentera selain mereka itu. Kemudian dia menyebut sesuatu yang aku tidak mengingatinya. Baginda berkata lagi : Bila kamu  melihatnya maka berilah kesetiaan kamu kepadanya, walau dengan merangkak di atas salji, kerana itulah dia khalifah Allah al-Mahdi.

Dan rijal-rijalnya ( para perawi hadis ) adalah rijal yang diakui memenuhi syarat yang diguna pakai untuk hadis-hadis kumpulan kitan-kitab sahih hadis Bukhari dan Muslim, kecuali terdapat sedikit kekurangan pada hadis di atas iaitu ada terdapat dalam sanad hadis itu seorang yang bernama Abu Qulabah al-Jurmiy yang menurut Imam az-Zahabi (pengkaji hadis) dan pengkaji-pengkaji hadis yang lain mengatakan bahawa Abu Qulabah itu seorang yang mudaalis [ perawi yang tidak berikan nama orang yang meriwayatkan hadis itu, dan mudaalis juga bererti seorang perawi yang hadis yang sengaja membuat kekaburan tentang benarnya pandangan beliau akan hadis itu dari guru yang dikatakannya diambilnya hadis itu, padahal guru itu tidak pernah mengeluarkan hadis tersebut. Baginya (mudaalis) hadis ini bila ia sampai kepada muridnya maka muridnya akan percaya bahawa hadis ini juga antara hadis-hadis yang diriwayatkan oleh gurunya.]

3. Hadis ketiga ;

وأخرج ابن ماجة عن عبد الله بن الحارث بن جزء الزبيدي من طريق ابن لهيعة عن ابي زرعة عن عمر ابن جابر الحضرمي عن عبد الله ابن الحارث ابن جزء قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : يخرج فاس من المشرق فيوطئون للمهدي يعني سلطانه. ( قال الطبراني تفرد به ابن لهيعة وقد تقدم لنا في حديث على الذي خرجه الطبراني معجمة الاوسط ان ابن لهيعة ضعيف وان شيخه عمر ابن جابر أضعف منه )

Maksudnya : Dan diterbitkan oleh Ibn Majah daripada Abdullah Bin al-Harith Bin Juz’un al-Zubaidi melalui jalan Ibn Lahi’ah daripada Abi Zur’ah daripada Umar Bin Jabir al-Hadhrami daripada Abdullah Bin al-Harith Bin Juz’un katanya; Rasulullah S.A.W bersabda : “ Akan keluar sekumpulan manusia dari sebelah timur, maka merekalah yang membuat rintisan dan persediaan bagi al-Mahdi, iaitu menyediakan kekuasaannya.”

Mengikut al-Tabrani, Ibn Lahi’ah sahaja yang menimbulkan hadis ini dan telah kita ketahui dalam hadis Ali yang diterbitkan oleh al-Tabrani didalam al-Mu’jah al-Awsat bahawa Ibn Lahi’ah adalah seorang yang daif dan bahawa Umar Bin Jabir itu adalah lebih lemah / daif daripadanya.

Ketiga-tiga hadis di atas yang ditakhrijkan (dikeluarkan) oleh Imam Ibn Majah itu telah diriwayatkan oleh Imam al-A’immah Shah Waliyullah ad-Dehlawi didalam kitabnya Azālat  al-Khafa’ Fi Sīrat al-Khulafa’. Maka mengikut pendapat beliau ketiga-tiga hadis itu setelah dikaji dan diteliti dengan halus nyatalah ( orang yang sebenar dimaksudkan seperti tersebut didalam hadis-hadis itu ) ialah Khalifah al-Mahdi daripada Bani ‘Abbasiyyah dan bukan al-Mahdi al-Muntazir yang disangkakan akan muncul di akhir zaman kelak.

Telah berkata guru kami, al-‘Alāmah Ubaidullah al-Sindh (murid Imam Shah Waliyullah) : al-Mahdi yang akan muncul di akhir zaman jika benarlah ianya wujud, maka dia tidaklah lebih hanya daripada menjadi salah satu daripada tanda-tanda akan berlakunya Qiāmat yang tiada lagi selepasnya sebarang penetapan Shari’ah apapun dan tidak akan wujud apa-apa undang-undang baru. Maka tidaklah wajar jika kejayaan dan kesudahan kaum Muslimin dikaitkan atau bergantung kepada kemunculannya.

Al-‘Alāmah Ubadullah berkata lagi : ketiga-tiga hadis di atas yang turut diriwayatkan oleh Imam al-A’immah Shah Waliyullah ad-Dehlawi itu biarpun semuanya diriwayatkan hanya didalam kitab-kitab  yang terkumpul dalam generasi ketiga, tetapi kita dapat juga menerimanya kerana asal puncanya memang ada sabit. Kata Imam Abu Daud (r.h) daripada Hilal Bin ‘Amru katanya ; aku telah mendengar Ali mengatakan Nabi S.A.W pernah berkata, akan keluar seorang lelaki dari negeri ما وراء النهر (lebih kurang negeri Iraq sekarang) dia dipanggil al-Hārith, dihadapannya seorang lelaki yang dipanggil al-Mansur yang akan membuat persiapan bagi membolehkan keluarga Nabi Muhammad berkuasa untuk memerintah sebagaimana Kaum Quraish memjadi perintis bagi Rasulullah S.A.W dan wajiblah ke atas setiap mukmin membantunya, atau dikatakan menyahut seruannya.

Hadis-hadis itu secara jelasnya adalah merujuk kepada al-Mahdi al-‘Abbasiy (seorang khalifah Dinasti ‘Abbasiyyah) sebagai orang yang diharap-harapkan kelahirannya bagi membela kepentingan kaum Muslimin sebagaimana yang telah dibuat kesimpulan oleh al-Muhaddith Shah Waliyullah ad-Dehlawi dan begitu juga telah nyata daripada hadis itu bahawa yang dimaksudkan dengan perkataan Ahl al-Bait ialah Bani Hashim kesuluruhannya. Manakala ayat ( dia akan memenuhi bumi dengan keadilan ) bermaksud tidak lain tidak bukan khalifah itu bertindak mengikut al-Sunnah dan segala tindak-tanduk pemerintahannya sentiasa terikat dengan asas-asas dan batasan keadilan Islam seperti Khalifah Umar Bin Abdul Aziz. Sufyan at-Thauri telahpun berkata, jika adalah al-Mahdi maka dia itulah Umar Bin Abdul Aziz, ini disebutkan oleh Imam as-Suyuti didalam Tārikh al-Khulafa’.

Al-‘Alāmah Ubaidullah berkata, maka mungkin bahawa al-Mahdi al-‘Abbasiy ini menjadi titik kebenaran  bagi tiap-tiap hadis yang menyebut pasal seorang lelaki dari Ahl al-Bait secara samar dan kurang jelas. Diantaranya ialah hadis Ibn Mas’ud ini :

أخرجه ابو داود عن عاصم عن زرّ عن عبد الله عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : لو لم يبقى من الدنيا إلا يوم لطول الله ذلك اليوم حتى يبعث رجل مني او من اهل بيتي يواطئ اسمه اسمي واسم ابيه اسم ابي يملأ الأرض قسطا وعدلا كما ملئت جورا وظلما .

Maksudnya : Telah ditebitkan oleh Abu Daud daripada ‘Asim daripada Zarr daripada Abdullah daripada Nabi S.A.W bersabda : “Sekiranya tidak berbaki lagi umur dunia ini kecuali hanya satu hari sahaja lagi nescaya Allah akan melanjutkan hari itu sehingga bangkit seorang lelaki dari Ahl al-Bait aku yang bertepatan namanya dengan nama aku dan nama ayahnya dengan nama ayahku, dia akan memenuhi bumi dengan keadilan dan kesaksamaan sebagaimana sebelumnya bumi dipenuhi dengan kekecehon dan kezaliman.”

Haruslah kita ketahui bahawa nama tubuh bagi al-Mahdi al-Abbasiy itu ialah Muhammad Bin Abdullah dan beliau adalah salah seorang daripada Ahl al-Bait Rasulullah S.A.W dari keluarga Bani Hashim.

Inilah yang diisyaratkan oleh Imam Shah Waliyullah iaitu al-Mahdi yang akan keluar di akhir zaman dan apa yang masyhurnya ialah dia dari keturunan Sayyidatina Fatimah (r.a)dan Saidina Ali (k.w). Para ahli kasyaf yang mutakhirin telah bersepakat dan orang ramai juga telah menyelidiki tentang hal itu selepas kejatuhan Kota Baghdad, maka hasilnya ialah tidaklah warid satu hadis pun yang mengatakan dia dari keturunan anak-anak Ali melainkan hadis itu hadis yang lemah lagi daif.

Al-Alāmah berkata lagi, zahir daripada perbuatan Imam Abu Daud ialah beliau menjadikan al-Mahdi seorang daripada Imam-imam yang 12 orang itu. Oleh sebab yang demikianlah beliau mengeluarkan hadis ini diawal pada Bab al-Mahdi (dalam sunannya) dan juga disebutkan beberapa hadis yang memberi isyarat kepada kekuasaan Khalifah Abdullah Bin az-Zubair serta kisah tentang kemaraan tentera. Sesungguhnya Imam Malik (r.h) juga telah mengira Abdullah Bin az-Zubair daripada bilangan 12 orang imam itu tanpa mengira Khalifah Abdul Malik Bin Marwan sebagai salah seorang imam daripada 12 imam. Imam Malik menyebut pada awal bab (berkaitan al-Mahdi) hadis-hadis yang menyatakan secara samar bahawa al-Mahdi daripada Ahl al-Bait Nabi S.A.W kemudian beliau menyebut pula hadis-hadis yang menyatakan al-Mahdi dari keturunan Saidatina Fatimah (r.a) ataupun dari zuriat Saidina Hasan (r.a), kemudiannya beliau menyebut pada bahagian akhir bab itu hadis yang tidak lain tidak bukan merujuk kepada al-Mahdi al-‘Abbasiy. Seolah-olahnya, kenyataan/hadis terakhir itu perlambangan  untuk menyatakan bahawa  riwayat-riwayat yang sebelumnya (pada awal&pertengahan bab) adalah lemah dan bertentangan dengan hadis pada akhir bab itu.

Shaikh Abu at-Tib Shamsul Haq telah menyebut didalam kitabnya ‘Aun al-Ma’bud , puak Shi’ah menyangka (terutamanya Shi’ah Imamiyyah) bahawa Imam yang sebenar selepas Rasulullah S.A.W ialah Saidina Ali kemudian diikuti oleh anaknya Hasan kemudian adiknya Hussein kemudian anaknya Ali Zain al-‘Abidin kemudian anaknya Muhammad al-Bāqir kemudian anaknya Ja’afar as-Sādiq kemudian anaknya Musa al-Kāzim kemudian anaknya Ali ar-Ridha kemudian anaknya Muhammad an-Naqiy kemudian anaknya Ali an-Naqiy kemudian anaknya Hasan al-‘Askariy kemudian anaknya al-Qā’im al-Muntazir al-Mahdi. Mereka menyangka bahawa al-Mahdi telah bersembunyi daripada musuhnya dan akan muncul lalu dia akan memenuhi bumi dengan kesaksamaan dan keadilan sebagaimana bumi sebelumnya dipenuhi dengan kekecohan dan kezaliman dan tiada pula bantahan tentang panjang umurnya dan usianya yang lanjut.

Aku (al-‘Alāmah Ubaidullah) kata, sumber pertelingkahan diantara Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah dan Shi’ah pada pandanganku ialah bahawa al-Qur’an telah diturunkan ke atas Nabi Muhammad S.A.W dan al-Qur’an itu telah mengagungkan baginda dengan kezahiran agamanya mengatasi semua agama lain. Akan tetapi, pembukaan kebanyakan negara-negara Kuffar terlaksana selepas kewafatan baginda melalui usaha khulafa’ al-Rashidin kemudian disambung pula oleh pemerintahan Bani Umayyah, Bani ‘Abbasiyyah, Empayar Moghul di India dan lain-lain lagi. Sedangkan puak Shi’ah tidak mengiktiraf pemerintahan semua khilafah tersebut (kerana mereka bukan dari kalangan Shi’ah/pengikut Ali). Maka perkara-perkara yang dijanjikan (kemenangan Islam) didalam al-Qur’an seolah-olah tidak pernah berlaku bagi mereka dan janji-janji al-Qur’an itu tidak mungkin akan terjadi (pada sisi Shi’ah) kecuali pemerintahan itu diperintah oleh seorang lelaki daripada zuriat keturunan Ali Bin Abi Talib dan Permaisuri kepada semua wanita, Saidatina Fatimah az-Zahra’, inilah asas aqidah al-Mahdi disisi Shi’ah.

Manakala pada sisi Ahl al-Sunnah Wa al-Jama’ah, setiap apa yang dijanjikan didalam al-Qur’an telah dan akan dilaksanakan oleh Allah ke atas kekuasaan Muhajirin dan Ansar serta mereka yang mengikuti jejak langkah mereka. Sedangkan Ali adalah dikalangan dua golongan tersebut  begitu juga zuriat keturunannya yang termasuk dalam golongan tersebut. Kemudian jika kita teliti satu persatu hadis-hadis Nabi S.A.W dapatlah kita ketahui bahawa Nabi sendiri telah menceritakan akan kewujudan “dajal pembohong” dikalangan umat baginda, juga diceritakan bahawa dalam kalangan mereka itu terdapat orang-orang yang benar, terpimpin lagi mendapat petunjuk. Mereka yang benar inilah akan melakukan tajdid (gerakan pembaharuan/reformasi) terhadap apa yang telah dirosakkan oleh pembohong-pembohong yang karut itu. Baginda juga menceritakan bahawa Imam-imam yang benar dan terpimpin itu, sebagaimana mereka wujud dari kelompok Kaum Quraish begitu juga mereka wujud dari kalangan Bani Hashim (Ahl al-Bait Rasulullah S.A.W). Inilah yang dikhabarkan oleh Nabi kita.

Maka puak-puak extremist dari golongan munafiq yang wujud dikalangan umat Nabi Muhammad S.A.W ini, mereka mahukan supaya orang-orang Islam mengambil satu konsep kenabian ( نبوة ) yang baru iaitu dasar keimanan dan mahadism selain daripada beriman kepada Nabi Muhammad dan al-Qur’an yang merupakan sumber keimanan sebenar umat Islam. Oleh itu, anda hendaklah berhemah dan teliti serta mengambil langkah berwaspada terhadap agenda munafiq ini. Janganlah anda menjadi pengumpul-pengumpul kertas yang bertimbun untuk menyebarkan risalah berkaitan al-Mahdi yang tidak benar itu.

nantikan kesimpulannya dalam entri yang akan datang…………..

Benarkah Imam Mahdi wujud ? # Part 2

Huraian bagi persoalan kedua

Kita sudah sedia maklum daripada catitan sejarah bahawa peristiwa diantara Bani Hashim dan Bani Umayyah itu sudah wujud ketika zaman jahiliah lagi. Apabila lahirnya Nabi Muhammad S.A.W (walaupun baginda dari Bani Hashim) tetapi dengan kebijaksanaan dan keadilan dapatlah baginda lenyapkan api permusuhan yang telah lama wujud diantara kedua-dua pihak itu. Hasilnya, mereka bersatu-padu atas dasar Islam yang dibawah pimpinan Rasulullah itu. Tambahan pula umat Islam pada masa itu sedang menumpukan segala pemikiran dan tenaga untuk perjuangan dan jihad dalam menegakkan islam dan menghapuskan kezaliman serta penindasan sesama hamba Allah.

Akan tetapi, pada zaman Khalifah ‘Uthman Bin ‘Affan iaitu pada penggal akhir pemerintahan beliau oleh kerana berlakunya sedikit perubahan keadaan politik semasa berbanding pada zaman sebelumnya ( Abu Bakr dan Umar ) , maka benih permusuhan yan sedia ada diantara kedua-dua golongan  tersebut mulai timbul kembali. Dari situlah timbulnya gerakan-gerakan sulit bagi menggulingkan beliau ( ‘Uthman ) dan lebih-lebih lagi setelah Saidina Ali kalah dalam peperangan Siffin maka pihak Ali dan penyokong-penyokongnya yang kemudiannya digelar dengan nama Puak Shi’ah itu makin kuat menentang Puak Bani Umayyah bagi menghapuskan kekuasaan khalifah dari tangan keluarga itu dan mengembalikan balik kekuasaan itu kepada keluarga Bani Hashim sebagaimana yang dicita-citakan.

Maka setelah sekian lama penentangan dan perjuangan Bani Hashim itu tidak berjaya, lalu mereka kemudiannya mengubah corak perjuangan itu kepada yang berbentuk keagamaan pula. Bagaimana?? Dengan mengeluarkan teori-teori keagamaan yang bersangkutan dengan politik mereka seperti ;

1.         Teori Pengembalian ( نظرية رجعة ) ; iaitu beriktikad atau meyakini bahawa Saidina Ali tidak mati dan akan kembali ke dunia di akhir zaman kelak. Mengikut Imam Ibn Hazm (r.h), bahawa Abdullah Bin Saba’ mengatakan selepas Saidina Ali terbunuh :

” لو أتيتمونا بد ما غم ألف مرة ما صدقتنا موته، ولا يموت حتي بملأ الأرض عدلا كما ملئت جورا ” وفكرة الرجعة هذه اخذها من اليهود ، فعندهم ان النبي “الياس” صعد الى السماء ، وسيعود فيعيد الدين والقانون ، ووجدت الفكرة في النصرانية أيضا في عصورها الأولى ، وتطورت هذه الفكرة عند الشيعة الى العقيدة باختفاء الأئمة ، وأن الإمام المختفي سيعود فيملأ الأرض عدلا ، ومنها نبعت فكرة المهدي المنتظر  –  فجر الإسلام ، صفحة 270

Maksudnya: “ Kalau kamu bawakan kepada kami untuk 1000 kali pun, kami tetap tidak mempercayai akan kematiannya, Ali tidaklah mati hingga sampai dia dapat memenuhi bumi ini dengan keadilan sebagaimana bumi ini telah diisi dengan kezaliman”. Ibn Hazm menyambung lagi ulasannya; ..…idea “kembali semula” ini diambil oleh Ibn Saba’ daripada ajaran Yahudi kerana disisi mereka, bahawa Nabi Ilyas telah naik ke langit dan dia akan kembali kerana dia akan mengembalikan agama dan undang-undang. Idea ini terdapat dikalangan orang Nasrani pada zaman pertamanya, pemikiran ini berkembang dikalangan orang Shi’ah hingga mereka pula mempercayai bahawa Imam-imam mereka sedang bersembunyi dan akan berlindung dari orang ramai. Imam-imam yang bersembunyi ini akan kembali bagi memenuhi bumi dengan keadilan, dari inilah lahirnya persoalan Imam Mahdi al-Muntazir. ( Fajr al-Islam, m/s 270 )

Golongan Rafidhoh pula berkata : “ Tidak timbul dan tiada jihad pada jalan Allah, sehingga keluarnya Mahdi.”

12th Imam

2.         Teori  al-Imam (  الإمامنظرية ( ; teori Imam ini pula membuat kesimpulan bahawa Saidina Ali ialah Imam selepas Nabi Muhammad S.A.W, kemudian bersiri-siri lah imam-imam selepasnya dengan tertib 12 orang yang ditentukan oleh Allah. Pengakuan dan pengiktirafan kepada Imam dan kepatuhan kepadanya adalah menjadi sebahagian dari iman, dan Imam pada pandangan mereka tidaklah sebagaimana pandangan oleh Ahl al-Sunnah Wa al-Jama’ah. Imam disisi puak Shi’ah mempunyai makna yang lain iaitu ; bahawa Imam itu adalah sebesar-besar Mu’allim atau Mahaguru, Imam yang pertama mewarisi segala ilmu Rasulullah S.A.W dan dia bukanlah selaku manusia biasa malahan dia adalah di atas dari semua manusia yang lain kerana dia seorang yang ma’sum ( terkawal dan terpelihara dari segala kesalahan ). – Fajr al-Islam.

Kata Imam Ibn Hazm (r.h) lagi didalam artikel yang lain ; Orang Shi’ah pada mulanya telah gagal untuk membina sebuah kerajaan yang nyata dimuka bumi ini dan mereka telah diazab seksa dan diburu dengan penuh tekanan lalu mereka pun mencipta satu cita-cita dan harapan untuk diri mereka iaitu berharap kepada Imam yang ditunggu-tunggu itu. Sebab itulah mereka menunggu kelahiran al-Mahdi dan sebagainya.

Dengan keterangan yang panjang lebar ini, nyatalah pada kita bahawa aqidah yang mengatakan Imam Mahdi daripada keturunan Saidina Ali  atau Saidina Ali sendiri yang akan muncul di akhir zaman kelak adalah datangnya daripada puak-puak Shi’ah yang mereka-rekanya, bukannya dari aqidah Ahl al-Sunnah Wa al-Jama’ah.

nantikan ulasan bagi persoalan ketiga dalam entri akan datang……….

Benarkah Imam Mahdi wujud ? # Part 1

Ketika aku menghadiri Konvensyen Berakhirnya Agenda Zionis di PWTC baru-baru ini, salah seorang penceramah iaitu Dr. Azzam Tamimi mengeluarkan kenyataan bahawa Imam Mahdi tidak wujud dan hadis yang berkaitan dengannya adalah daif (beliau menyebutnya dengan nada yang agak keras). Kenyataan beliau mengejutkan para hadirin didalam dewan itu yang majoritinya masyarakat Melayu Muslim yang memang percayakan akan kemunculan Imam Mahdi. Sehinggakan seorang pakcik disebelah tempat duduk aku bertanyakan aku akan kebenaran kenyataan itu mungkin kerana aku mengangguk kepala mengiyakan kenyataan Dr.Azzam Tamimi. Alhamdulillah aku tidak termasuk dikalangan mereka yang agak terkejut mendengarnya ( kadang2 terkejut ni boleh bawa sakit jantung tau !! hehehe), aku tidak terkejut kerana aku pernah membaca satu artikel tentang masalah tersebut dan aku yakin dengan hujah serta dalil yang dikemukakan penulis.

Kawan-kawanku juga ada bertanyakan berkenaan kebenaran fakta dan kepercayaan majoriti masyarakat Muslim yang menanti-nanti kemunculan Imam Mahdi di akhir zaman. Sejak dari itu, keyakinan aku terhadap kebenaran artikel yang pernah aku baca bertambah kuat dan berazam untuk menyebarkannya untuk pengetahuan umum. Insha Allah artikel yang agak panjang ini (teks asalnya dalam bahasa Arab) akan aku siarkan dalam beberapa siri entri untuk blog ini. Hari ini, aku persembahkan artikel dibawah untuk makluman, kajian, kritikan dan komen (asalkan tiada unsur violence)..

Kemunculan Imam Mahdi

Oleh : Al-Marhum Ustaz Hj. Nik Mahmud Bin Hj. Wan Musa (1915-1980)

Diterjemahkan oleh : Luqman Abdul Latif

Diedit dan disusun oleh : Wan Mujahid Mohd Nordin

Kemunculan Imam Mahdi al-Muntazir di akhir zaman telahpun menjadi suatu aqidah kepercayaan dikalangan majority umat Islam diseluruh dunia, khususnya di Malaysia. Tetapi sehingga hari ini tiada seorang pun dari kalangan ‘alim ulama’ kita di Malaysia ini yang membuat kajian secara mendalam dan terperinci tentang masalah yang besar ini. Malahan mereka  rasa memadai dengan apa yang terdapat didalam kitab-kitab ulama’ mutakhirin sahaja dengan tidak membuat kajian dengan teliti akan nas-nas dan hadis-hadis berkaitan masalah tersebut, dan tidak memikirkan akibatnya kepada umat Islam dari segi kebaikan atau keburukan kesan dari aqidah ini.

Sehubungan itu, maka rasanya perlulah bagi saya mencari jawapan dan membuat kajian dalam masalah ini setakat yang mampu berdasarkan kebolehan yang ada pada saya sebagai satu kajian ilmiah yang akan membuka pemikiran umat Islam, khasnya bangsa saya ( rakyat Malaysia ) didalam masalah ini.

Untuk memahami masalah ini dengan lebih jelas, perlulah kita ketahui beberapa perkara yang berkaitan dengannya :

  1. Bilakah timbulnya pemikiran berkenaan kemunculan Imam Mahdi al-Muntazir diakhir zaman kelak? Adakah dizaman khairul qurun atau selepasnya?
  2. Golongan manakah yang menimbulkan pemikiran ini dan apakah dorongan yang menyebabkan mereka melakukan hal demikian?
  3. Bagaimanakah kedudukan hadis-hadis mengenai masalah ini disisi muhaddithin dan apakah pengertian sebenar hadis berkenaan?

Sebelum saya huraikan persoalan yang pertama, patutlah terlebih dahulu kita mengetahui akan pengertian kurun atau qurun ( selepas ini akan digunakan ejaan”kurun”) yang tersebut dalam sebuah hadis  yang berbunyi :

” خير القرون قرني ، ثم الذين بلونهم ، ثم الذين بلونهم ، ثم يفشو الكذب ……. او كما قال “

Maksudnya : “ Sebaik-baik kurun ialah kurun aku, kemudian orang yang mengiringi mereka, kemudian golongan yang mengiringi mereka itu, kemudian tersebarlah pembohongan……….”

Pengertian kurun mengikut istilah ahli sejarah ialah nama bagi setiap 100 tahun, dan kalau 3 kurun bererti 300 tahun dan inilah dikatakan zaman khair al-qurun mengikut istilah sejarah.

Tetapi, apabila kita meneliti sejarah Islam, kita dapati banyak perkara-perkara yang tidak diingini telahpun berlaku didalam 100 tahun pertama lagi. Contohnya, berlakunya peperangan dikalangan para sahabat Nabi S.A.W, timbulnya hadis-hadis palsu (maudhu’), zahirnya beberapa ajaran-ajaran sesat ( kepercayaan karut dan salah) dan timbulnya puak-puak mubtadi’ah (ahli bid’ah) seperti Shi’ah, Khawaarij, Qadariyah, Jabariyah dan pelbagai lagi.

Oleh hal yang demikian, maka Imam al-A’immah Shah Waliyullah ad-Dehlawi (seorang ahli hadis dan mufassir al-Qur’an) berpendapat bahawa yang dimaksudkan dengan kurun seperti mana yang disebut didalam hadis tersebut itu ialah semata-mata masa dan bukanlah 100 tahun sebagaimana pengertian kurun dari segi istilah ahli sejarah. Menurut beliau istilah itu baru diberi pengertian oleh ahli sejarah moden dan ianya tidak boleh dijadikan tafsiran kepada hadis tersebut yang dilafazkan sebelum takrifan itu diberi lagi.

Mengikut pendapat Imam al-A’immah ini, tiga kurun yang dimaksudkan oleh hadis itu ialah tiga masa iaitu kurun pertama ialah pada masa Nabi Muhammad S.A.W ( mulai daripada kebangkitan baginda dilantik menjadi rasul hingga wafat ),  manakala kurun kedua pula pada masa Khalifah Abu Bakr dan Khalifah Umar al-Farouq, dan kurun ketiga ialah pada masa Khalifah ‘Uthman Bin ‘Affan sehingga beliau wafat pada tahun 35 H.

Maka, tiga masa inilah yang dimaksudkan oleh hadis dengan tiga kurun tadi dan pada zaman inilah dikenali sebagai  ‘Asr az-Zahabi atau zaman keemasan didalam sejarah Islam, ini kerana pada zaman tersebut tidak pernah timbul sebarang masalah didalam Islam sebagaimana yang berlaku pada zaman selepas itu. Yang wujud pada waktu itu ialah taqwa, musāwah dan keadilan. Tafsiran kurun oleh Imam al-A’immah Shah Waliyullah ini terdapat dalam sebuah kitab karangan beliau bertajuk Azālat al-Khafa’ Fi  Sīrat al-Khulafa’ halaman 75,121,149.

Huraian bagi persoalan pertama

Sekarang kita kembali pada bicara berkaitan masalah Imam Mahdi al-Muntazir, adakah masalah ini timbul pada zaman Khair al-Qurun tadi atau pada zaman selepasnya ?. Setakat yang saya tahu bahawa masalah ini tidak pernah pun wujud pada zaman Khair al-Qurun malahan tidak timbul juga pada zaman selepasnya iaitu semasa berlaku perselisihan faham diantara sahabat Nabi, daripada keluarga Bani Umayyah dan keluarga Bani Hashim tentang jawatan khalifah sehingga membawa kepada satu peperangan saudara diantara Saidina Ali Bin Abi Talib (k.w) dan penyokong-penyokongnya dengan Mu’awiyah Bin Abi Sufyan serta penyokong-penyokongnya di Lembah Siffin. Dalam peperangan tersebut, pihak Mu’awiyah dari Bani Umayyah telah memperoleh kemenangan yang cemerlang ( walaupun dengan cara yang tidak gentlemen ).

nantikan ulasan untuk persoalan kedua dalam entri yang akan datang……

Post Navigation

%d bloggers like this: