Saving Memoir

No more update after 1 December 2011 | moved to maktubat.wordpress.com

Antara Mimpi dan Ahli Tafsir Mimpi

Antara Hasan Al-Bashri dan Ibnu Sirin (rahmatullahi ‘alaihima) ada rasa sentimen. Keduanya tidak mahu saling menyapa.  Setiap kali mendengar orang lain menyambut nama Ibnu Sirin, Hasan Al-Bashri merasa tidak suka : “Jangan sebut nama orang yang berjalan dengan lagak sombong itu di hadapanku,” katanya. ***

Pada suatu malam Hasan Al-Bashri bermimpi seolah-olah ia sedang bertelanjang di kandang binatang sambil membuat sebatang tongkat. Pagi hari ketika ia bangun, ia merasa bingung dengan mimpinya itu.  Tiba-tiba ia ingat bahawa Ibnu Sirin yang kurang ia sukai adalah orang yang pandai menafsirkan mimpi.

Merasa malu bertemu sendiri, ia lalu meminta tolong seorang teman dekatnya:

“Temui Ibnu Sirin,  dan ceritakan mimpiku ini seakan-akan kamu sendiri yang mengalaminya,” pesannya.

Teman rapat  Hasan Al-Bashri itu segera menemui Ibnu Sirin. Begitu selesai menceritakan isi mimpi tersebut, Ibnu Sirin langsung berkata: “Bagitahu kepada orang yang mengalami mimpi ini, jangan menanyakannya kepada orang yang berjalan dengan lagak sombong. Kalau berani suruh ia datang sendiri kemari.”

Mendengar laporan yang disampaikan temannya ini, Hasan Al-Bashri kesal. Ia bingung, dan merasa tercabar. Setelah berfikir sejenak, akhirnya ia memutuskan untuk bertemu langsung dengan Ibnu Sirin. Ia tidak peduli dengan rasa malu atau gengsi. “Antarkan aku ke sana,” katanya.  Begitu melihat kedatangan Hasan Al-Bashri, Ibnu Sirin menyambutnya dengan baik.

Setelah saling mengucap salam dan berjabat tangan, masing-masing lalu mengambil tempat duduk yang agak berjauhan.

“Sudahlah, kita tidak usah berbasa-basi. Langsung saja, aku bingung memikirkan dan menafsirkan sebuah mimpi, “kata Hasan Al-Bashri.

“Jangan bingung,” kata Ibnu Sirin. Telanjang dalam mimpimu itu adalah ketelanjangan dunia. artinya, engkau sama sekali tidak bergantung padanya kerana engkau memang orang yang zuhud. Kandang binatang adalah lambang dunia yang fana itu sendiri. Engkau telah melihat dengan jelas keadaan yang sebenarnya.  Sedangkan sebatang tongkat yang engkau buat itu adalah lambang hikmah yang anda katakan,  dan mendatangkan manfaat bagi ramai orang.”

Sesaat Hasan Al-Bashri terkesima.

Ia kagum pada kehebatan Ibnu Sirin sebagai ahli tafsir mimpi, dan percaya sekali pada penjelasannya.

“Tetapi bagaimana engkau tahu kalau aku yang mengalami mimpi itu?” tanya Hasan Al-Bashri.

“Ketika teman engkau menceritakan mimpi tersebut kepadaku, aku berfikir, menurutku,  hanya engkau yang layak mengalaminya.” jawab Ibnu Sirin.

 

*** sejauh mana kebenarannya tidak dapat dipastikan. Kalau ada yang tahu sila tinggalkan komen.

Single Post Navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: