Saving Memoir

No more update after 1 December 2011 | moved to maktubat.wordpress.com

Archive for the month “October, 2010”

Adab Ketika Hujan

Ketika entri kali ini ditulis, aku direngkuh oleh kesejukan dan kedinginan malam di bumi Kelantan dek hujan tanpa henti sepanjang hari ini, petanda bermulanya musim hujan (tengkujuh) di negeri Kelantan. Mungkin hujan pada hari ini turut meraikan kemenangan pasukan bola sepak Kelantan yang berjaya merangkul Piala Malaysia buat pertama kalinya semalam.

Apapun, tidaklah berlalunya hujan tanpa membawa rahmat, terkadang ia datang membawa peringatan akan kekuasaan Al-‘Aziz, Allah Yang Maha Berkuasa. Indahnya aturan alam mengikut sunnatullah diikuti pula hidup yang berpedomankan Islam sebagai sandaran. Hujan juga salah satu tanda daripada begitu banyak tanda-tanda kekuasaan-Nya bagi kita yang ingin merenunginya.

 

أَفَرَأَيْتُمُ الْمَاءَ الَّذِي تَشْرَبُونَ – أَأَنْتُمْ أَنْزَلْتُمُوهُ مِنَ الْمُزْنِ أَمْ نَحْنُ الْمُنْزِلُون

“Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya atau Kamikah yang menurunkannya?” (QS. Al Waqi’ah [56]: 68-69)

Bila suasana hujan macam ini, apa kata kita berkongsi tentang adab yang Islam ajarkan kepada kita apabila berhadapan dengan musim hujan/tengkujuh. Pada mulanya aku ingin mencari beberapa sumber, Alhamdulillah rupa-rupanya sudah ada artikel yang bagus tentangnya, juga sudah dipublishkan berpuluh-puluh kali oleh mereka yang berblog.

No hal, ilmu harus disebar luaskan. So, entri kali ini bukan tulisan aku, tapi nukilan insan yang jauh lebih berilmu iaitu, Ustaz Muhammad Abduh Tuasikal dalam blog beliau rumaysho.wordpress.com.

Adab-adab Ketika Hujan

[1] Keadaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam Tatkala Mendung

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata,

”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila melihat awan (yang belum berkumpul sempurna, pen) di salah satu ufuk langit, beliau meninggalkan aktivitasnya –meskipun dalam shalat- kemudian beliau kembali melakukannya lagi (jika hujan sudah selesai, pen). Ketika awan tadi telah hilang, beliau memuji Allah. Namun, jika turun hujan, beliau mengucapkan,’Allahumma shoyyiban nafi’an’ [Ya Allah jadikanlah hujan ini sebagi hujan yang bermanfaat].” (Lihat Adabul Mufrod no. 686, dihasankan oleh Syaikh Al Albani)

Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam memuji Allah setelah awan tadi hilang kerana ditakutkan awan ini adalah tanda datangnya adzab dan kemurkaan Allah. (Lihat Syarh Shohih Adabil Mufrod, 2/343)

’Aisyah radhiyallahu ’anha berkata,

”Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam apabila melihat mendung di langit, beliau shallallahu ’alaihi wa sallam beranjak ke depan, ke belakang atau beralih masuk atau keluar, dan berubahlah raut wajah beliau shallallahu ’alaihi wa sallam. Apabila hujan turun, beliau shallallahu ’alaihi wa sallam mulai menenangkan hatinya. ’Aisyah sudah memaklumi beliau shallallahu ’alaihi wa sallam melakukan seperti itu. Lalu Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mengatakan, ”Aku tidak mengetahui apa ini, seakan-akan inilah yang terjadi (pada Kaum ’Aad) sebagaimana pada firman Allah (yang artinya), ”Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka.” (QS. Al Ahqaf [46] : 24)” (HR. Bukhari no. 3206)

[2] Mensyukuri Nikmat Turunnya Hujan

Apabila Allah memberi nikmat dengan diturunkannya hujan, dianjurkan bagi seorang muslim untuk membaca do’a,

اللَّهُمَّ صَيِّباً ناَفِعاً

“Allahumma shoyyiban nafi’an (Ya Allah, turunkanlah hujan yang bermanfaat).”

Itulah yang Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ucapkan ketika melihat hujan turun. Hal ini berdasarkan hadits dari Ummul Mukminin, Aisyah radhiyallahu ’anha, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam tatkala melihat hujan turun, beliau shallallahu ’alaihi wa sallam mengucapkan ’Allahumma shoyyiban nafi’an’ [Ya Allah turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat]”. (HR. Bukhari, Ahmad, dan An Nasai). Yang dimaksud shoyyiban adalah hujan. (Lihat Al Jami’ Liahkamish Sholah, 3/113, Maktabah Syamilah dan Zadul Ma’ad, I/439, Maktabah Syamilah)

[3] Turunnya Hujan, Salah Satu Waktu Terkabulnya Do’a

Ibnu Qudamah dalam Al Mughni, 4/342 mengatakan,”Dianjurkan untuk berdo’a ketika turunnya hujan, sebagaimana diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

اُطْلُبُوا اسْتِجَابَةَ الدُّعَاءِ عِنْدَ ثَلَاثٍ : عِنْدَ الْتِقَاءِ الْجُيُوشِ ، وَإِقَامَةِ الصَّلَاةِ ، وَنُزُولِ الْغَيْثِ

’Carilah do’a yang mustajab pada tiga keadaan : [1] Bertemunya dua pasukan, [2] Menjelang shalat dilaksanakan, dan [3] Saat hujan turun.” (Dikeluarkan oleh Imam Syafi’i dalam Al Umm dan Al Baihaqi dalam Al Ma’rifah dari Makhul secara mursal. Dishohihkan oleh Syaikh Al Albani, lihat hadits no. 1026 pada Shohihul Jami’)

[4] Tatkala Terjadi Hujan Lebat

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu saat pernah meminta diturunkan hujan. Kemudian tatkala hujan turun begitu lebatnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a,

اللَّهُمّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالْجِبَالِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ

“Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami. Ya Allah, turukanlah hujan ke dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan.” (HR. Bukhari no. 1013 dan 1014). Oleh karena itu, saat turun hujan lebat sehingga ditakutkan membahayakan manusia, dianjurkan untuk membaca do’a di atas. (Lihat Al Jami’ Liahkamish Sholah, 3/114, Maktabah Syamilah)

[5] Mengambil Berkah dari Air Hujan

Anas radhiyallahu ‘anhu berkata,”Kami bersama Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam pernah kehujanan. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyingkap bajunya hingga terguyur hujan. Kemudian kami mengatakan,’Ya Rasulullah, mengapa engkau melakukan demikian?’
Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لأَنَّهُ حَدِيثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ تَعَالَى

“Karena dia baru saja Allah ciptakan.” (HR. Muslim no. 2120)

An Nawawi dalam Syarh Muslim, 6/195, makna hadits ini adalah bahwasanya hujan itu rahmat yaitu rahmat yang baru saja diciptakan oleh Allah Ta’ala, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertabaruk (mengambil berkah) dari hujan tersebut.

Kemudian An Nawawi mengatakan,”Dalam hadits ini terdapat dalil bagi ulama syafi’iyyah tentang dianjurkannya menyingkap sebagian badan (selain aurat) pada awal turunnya hujan, agar terguyur air hujan tersebut.
Dan mereka juga berdalil bahwa seseorang yang tidak memiliki keutamaan (ilmu), apabila melihat orang yang lebih berilmu melakukan sesuatu yang dia tidak ketahui, hendaknya dia menanyakan untuk diajari lalu dia mengamalkannya dan mengajarkannya pada yang lain.” (Lihat Syarh Nawawi ‘ala Muslim, 6/195, Maktabah Syamilah)

Lihat pula perbuatan sahabat yang satu ini, dia juga mengambil berkah dari air hujan dengan mengguyur pakaian dan pelananya.

Dari Ibnu Abbas, beliau radhyillahu ‘anhuma berkata,

أَنَّهُ كَانَ إِذَا أَمْطَرَتِ السَّمَاءُ، يَقُوْلُ: “يَا جَارِيَّةُ ! أَخْرِجِي سَرْجِي، أَخْرِجِي ثِيَابِي، وَيَقُوْلُ: وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُبَارَكاً [ق: 9].

”Apabila turun hujan, beliau mengatakan,’Wahai jariyah keluarkanlah pelanaku, juga bajuku’.” Lalu beliau membacakan (ayat) [yang artinya],”Dan Kami menurunkan dari langit air yang penuh barokah (banyak manfaatnya).” (QS. Qaaf [50] : 9)” (Lihat Adabul Mufrod no. 1228. Syaikh Al Albani mengatakan sanad hadits ini shohih dan hadits ini mauquf [perkataan sahabat])

[6] Dianjurkan Berwudhu dari Air Hujan

Dianjurkan untuk berwudhu dari air hujan apabila airnya mengalir deras (Lihat Al Mughni, 4/343, Maktabah Syamilah).

Dari Yazid bin Al Hadi, apabila air yang deras mengalir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

اُخْرُجُوا بِنَا إلَى هَذَا الَّذِي جَعَلَهُ اللَّهُ طَهُورًا ، فَنَتَطَهَّرَمِنْهُ وَنَحْمَدَ اللّهَ عَلَيْهِ

”Keluarlah kalian bersama kami menuju air ini yang telah dijadikan oleh Allah sebagai alat untuk bersuci.” Kemudian kami bersuci dengan air tersebut dan memuji Allah atas nikmat ini.” (Lihat Zadul Ma’ad, I/439, Maktabah Syamilah)

Namun, hadits di atas munqothi’ (terputus sanadnya) sebagaimana dikatakan oleh Al Baihaqi (Lihat Irwa’ul Gholil).

Hadits yang serupa adalah,

كَانَ يَقُوْلُ إِذَا سَالَ الوَادِي ” أُخْرُجُوْا بِنَا إِلَى هَذَا الَّذِي جَعَلَهُ اللهُ طَهُوْرًا فَنَتَطَهَّرُ بِهِ “

“Apabila air mengalir di lembah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,’Keluarlah kalian bersama kami menuju air ini yang telah dijadikan oleh Allah sebagai alat untuk bersuci’, kemudian kami bersuci dengannya.” (HR. Muslim, Abu Daud, Al Baihaqi, dan Ahmad. Lihat Irwa’ul Gholil)

[7] Janganlah Mencela Hujan

Sungguh sangat disayangkan sekali, setiap orang sudah mengetahui bahwa hujan merupakan kenikmatan dari Allah Ta’ala. Namun, ketika hujan dirasa mengganggu aktivitasnya, timbullah kata-kata celaan dari seorang muslim seperti ‘Aduh!! hujan lagi, hujan lagi’. Sungguh, kata-kata seperti ini tidak ada manfaatnya sama sekali, dan tentu saja akan masuk dalam catatan amal yang jelek karena Allah berfirman,

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
”Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaaf [50] : 18)

Bahkan kata-kata seperti ini bisa termasuk kesyirikan sebagaimana seseorang mencela makhluk yang tidak dapat berbuat apa-apa seperti masa (waktu).

Hal ini dapat dilihat pada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,“Allah Ta’ala berfirman, ‘Manusia menyakiti Aku; dia mencaci maki masa (waktu), padahal Aku adalah pemilik dan pengatur masa, Aku-lah yang mengatur malam dan siang menjadi silih berganti.’ ” (HR. Bukhari dan Muslim). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,”Janganlah kamu mencaci maki angin.” (HR. Tirmidzi, beliau mengatakan hasan shohih)

Dari dalil di atas terlihat bahwa mencaci maki masa (waktu), angin dan makhluk lain yang tidak dapat berbuat apa-apa, termasuk juga hujan adalah terlarang. Larangan ini bisa termasuk syirik akbar (syirik yang mengeluarkan seseorang dari Islam) jika diyakini makhluk tersebut sebagai pelaku dari sesuatu yang jelek yang terjadi. Meyakini demikian berarti meyakini bahwa makhluk tersebut yang menjadikan baik dan buruk dan ini sama saja dengan menyatakan ada pencipta selain Allah. Namun, jika diyakini yang menakdirkan adalah Allah sedangkan makhluk-makhluk tersebut bukan pelaku dan hanya sebagai sebab saja, maka seperti ini hukumnya haram, tidak sampai derajat syirik. Dan apabila yang dimaksudkan cuma sekedar pemberitaan, -seperti mengatakan,’Hari ini hujan deras, sehingga kita tidak bisa berangkat ke masjid untuk shalat’-, tanpa ada tujuan mencela sama sekali maka seperti ini tidaklah mengapa. (Lihat Mutiara Faedah Kitab Tauhid, 227-231)

Perhatikanlah hal ini! Semoga Allah selalu menjaga kita, agar lisan ini banyak bersyukur kepada-Nya atas karunia hujan ini, dan semoga Allah melindungi kita dari banyak mencela.

foto by Misscaliforniaa@devianart

[8] Berdo’a Setelah Turunnya Hujan

Dari Zaid bin Kholid Al Juhani, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat shubuh bersama kami di Hudaibiyah setelah hujan turun pada malam harinya. Tatkala hendak pergi, beliau menghadap jama’ah shalat, lalu mengatakan,”Apakah kalian mengetahui apa yang dikatakan Rabb kalian?” Kemudian mereka mengatakan,”Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”.
Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِى مُؤْمِنٌ بِى وَكَافِرٌ فَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ. فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِى وَكَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ وَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا. فَذَلِكَ كَافِرٌ بِى مُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ »

“Pada pagi hari, di antara hambaKu ada yang beriman kepadaKu dan ada yang kafir. Siapa yang mengatakan ’Muthirna bi fadhlillahi wa rohmatih’ (Kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah), maka dialah yang beriman kepadaku dan kufur terhadap bintang-bintang. Sedangkan yang mengatakan ‘Muthirna binnau kadza wa kadza’ (Kami diberi hujan karena sebab bintang ini dan ini), maka dialah yang kufur kepadaku dan beriman pada bintang-bintang.”(HR. Muslim n0. 240)
Dari hadits ini terdapat dalil untuk mengucapkan ‘Muthirna bi fadhlillahi wa rohmatih’ setelah turun hujan sebagai tanda syukur atas nikmat hujan yang diberikan.

Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah mengatakan,”Tidak boleh bagi seseorang menyandarkan turunnya hujan karena sebab bintang-bintang. Hal ini bisa termasuk kufur akbar yang menyebabkan seseorang keluar dari Islam, jika meyakini bahwa bintang tersebut adalah yang menciptakan hujan. Namun kalau menganggap bintang tersebut hanya sebagai sebab, maka seperti ini termasuk kufur ashgor (kufur yang tidak menyebabkan seseorang keluar dari Islam). Ingatlah bahwa bintang tidak memberikan pengaruh terjadinya hujan. Bintang hanya sekedar waktu semata.” (Kutub wa Rosa’il Lil ‘Utsaimin, 170/20, Maktabah Syamilah)

Demikian beberapa adab ketika musim hujan. Semoga kita termasuk orang-orang yang diberi taufik oleh Allah untuk mengamalkannya.

Advertisements

Kewajiban dan Persediaan Menunaikan Haji

** Entri ini adalah salinan khutbah Jumaat di Masjid Muhammadi, Kota Bharu pada 15 Okt0ber 2010. Saya berasa begitu terkesan dengan khutbah kali ini, rugi kalau tak share.

Kewajiban dan Persediaan Menunaikan Haji

وَأَذِّن فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ  ٧

“Dan serukanlah umat manusia untuk mengerjakan ibadat Haji, nescaya mereka akan datang ke (rumah Tuhan) mu dengan berjalan kaki, dan dengan menunggang berjenis-jenis unta yang kurus yang datangnya dari berbagai jalan (dan ceruk rantau) yang jauh.” Al-Hajj:27.

Ikhwanil Muslimin !

Saya mengingatkan diri saya sendiri dan saudara sekalian, marilah kita kembali kepada Allah, bertaqwa dan memohon ampun kepadanya dengan ikhlas. Semoga kita beroleh kebajikan didunia dan akhirat.

Pada setiap tahun apabila menjelang musim haji yang bermula pada awal bulan Syawwal sehingga tibanya hari kesepuluh bulan Zul Hijjah, sebahagian daripada umat Islam dimana jua mereka berada akan mengunjungi tanah suci Makkah al-Mukarramah bagi menunaikan fardhu haji. Mereka adalah manusia pilihan Allah untuk mengunjungi rumahnya dan merekalah tetamu Allah yang sangat diperkenan permintaannya.

Ikhwanil Muslimin!

Allah S.W.T menghendakkan wujudnya sebuah rumah yang tertua dan termulia di bumi sebagai qiblat umat Islam dan lambang keagungan dan kebesarannya. Qiblat Baitullah al-Haram ini menjadi lambang kepada mentauhidkan Allah S.W.T, tunduk kepadanya dan menunjukkan bahawa umat Islam adalah umat yang satu disepanjang sejarah dibawah panji-panji kalimah tauhid لا اله الا الله وحده لا شريك له  dan kalimah talbiah   لبيك اللهم لبيك ، لبيك لا شريك لك .

Bagi merealisasikan iman dan tauhid kepada Allah dan perpaduan umat dibawah panji-panji tauhid kepada Allah S.W.T, Allah memfardhukan ke atas setiap orang Islam mengunjungi Baitullah al-Haram sekali seumur hidup untuk mengerjakan ibadah haji. Ibadah haji adalah di antara ibadah-ibadah yang terbesar didalam Islam dan termulia. Kerana ianya salah satu daripada rukun Islam, amalannya mencakupi amalan-amalan yang terdapat pada ibadah-ibadah lain serta banyak faedah yang akan diperoleh. Tidak sempurna agama seseorang hamba tanpa menunaikan ibadah haji apabila memiliki kemampuan yang boleh menyampaikannya ke sana.

Dengan mengerjakan ibadah haji ditanah suci Makkah al-Mukarramah, umat Islam mempunyai ikatan sejarah yang kukuh dengan nabi-nabi dan umat-umat tauhid yang lalu khususnya ikatan dengan nabi Allah Ibrahim alaihis salam dan keluarganya dimana ketika mengerjakan ibadah haji, mereka menghidupkan sunnah Rasulullah S.A.W dan syiar yang telah diasaskan oleh nabi Allah Ibrahim alaihis salam. Sekaligus dapat pula mendidik diri menjadi insan yang bertaqwa, bersabar dan sentiasa pasrah kepada Allah S.W.T.

Sesiapa yang cukup syarat-syarat, wajib mengerjakan ibadah haji dan umrah kerana sihat tubuh badan, memiliki perbelanjaan atau bekalan yang cukup untuk pergi dan balik, perbelanjaan ketika berada di tanah suci Makkah termasuk perbelanjaan anak-anak dan mereka yang dibawah tanggungannya semasa peninggalannya. Ada kenderaan pergi dan balik serta aman didalam perjalanan maka  hendaklah dia bersegera merancang untuk menunaikan fardhu haji kerana bersegera menunaikan fardhu haji itu adalah sangat dituntut. Usahlah ditangguh-tangguhkan khususnya bagi mereka yang sudah berumur dan berkelapangan. Sahutlah seruan Allah yang sentiasa memanggil dan menjemput anda kesana. Rebutlah peluang ketika ada kemampuan dan kesenangan. Sesungguhnya anda tidak mengetahui keadaan yang akan berlaku dimasa hadapan, pada diri, harta dan kesihatan anda.

Sabda Rasulullah S.A.W :

تعجلوا الى الحج (يعني الفريضة) فإن أحدكم لا يدري ما يعرض له – رواه أحمد

Maksudnya : Bersegeralah menunaikan haji (iaitu haji fardhu) kerana kamu tidak mengetahui apa yang akan menimpa diri kamu.

Sesungguhnya mati didalam keadaan tidak mengerjakan haji sedangkan sudah berpanjangan berada didalam kemampuan merupakan dosa dan maksiat yang besar serta kufur kepada ni’mat Allah Ta’ala.

Sabda Rasulullah .S.AW yang bermaksud : “ Sesiapa yang memiliki bekalan dan kenderaan yang boleh menyampaikan kepada Baitullah al-haram tetapi tidak mahu mengerjakan ibadah haji maka biarkanlah dia mati sebagai yahudi atau nasrani.”

Hari ini masih ramai orang yang kaya raya, sihat tubuh badan dan sudah lanjut usianya tetapi belum lagi menunaikan fardhu haji walaupun sudah melancong ke beberapa buah negara sedangkan ramai pula daripada kalangan mereka yang kurang berada tetapi sudah mengerjakan ibadah haji. Kenapa berlaku demikian? Jawabnya, mungkin kerana lemah dan kurang ikhlas didalam menghayati ajaran Islam serta jahil pula dalam hal-hal keagamaan serta dipengaruhi oleh kenikmatan dunia. Lantaran itu, tidak dibuka pintu hatinya oleh Allah S.W.T

Sesiapa yang memiliki penyakit ini hendaklah segera sedar dan bertaubat kepada Allah S.W.T serta bertindak mencari ilmu untuk beramal kemudian berikhtiar dan merancang untuk menunaikan fardhu haji. Jangan lupa berdoa kepada Allah agar dibuka jalan, dibuka hati dan dizinkan menunaikan fardhu haji.

Ikhwanil Muslimin !

Sesungguhnya mengerjakan haji di Makkah al-Mukarramah adalah antara amal ibadah yang sangat afdal untuk mendampingkan diri kepada Allah dan merupakan seafdal jihad tanpa mengangkat senjata dalam Islam. Pahala jihad yang besar ini akan diperoleh mereka yang mendapat “haji mabrur” atau haji yang diterima oleh Allah S.A.W kerana bersih niat dan amalannya. Sabda Rasulullah S.A.W   :

الحج مبرور ليس له جزاء إلا الجنة

Maksudnya: Haji yang mabrur tidak ada balasan baginya melainkan syurga.

Rasulullah S.A.W juga pernah bersabda yang bermaksud : “Sesiapa yang mengerjakan haji lalu tidak melakukan persetubuhan atau tidak menyebut kata-kata keji dan tidak melakukan perkara fasad atau maksiat nescaya kembali bersih dirinya daripada dosa seperti hari dia dilahirkan oleh ibunya.”

Untuk mendapat haji mabrur dan diterima Allah S.W.T, dinasihatkan supaya menyempurnakan beberapa perkara antaranya :

  1. Mengikhlaskan niat kepada Allah iaitu dikerjakan semata-mata kerana Allah.
  2. Mengikut peraturan-peraturan dan adab-adab yang ditetapkan oleh syarak dengan sempurna dalam setiap amalan haji. Oleh itu wajib mempelajari kaifiat (cara-cara) mengerjakan ibadah haji dan ibadah-ibadah yang lain dengan sempurna. Nafkah dan perbelanjaan haji hendaklah daripada harta yang halal dan bersih kerana Allah itu bersih Dia tidak menerima melainkan yang bersih.
  3. Segeralah bertaubat sebelum pergi mengerjakan haji dan kembalikan haq-haq orang yang diambil secara zalim kepada tuannya.
  4. Bersopan santun didalam semua hubungan dengan para hujjaj, bersabar, suka memberi pertolongan dan tabah hati dalam menghadapi sebarang ujian.
  5. Disamping menunaikan ibadah haji, ambillah kesempatan sebanyak mungkin untuk mengerjakan ibadah tambahan seperti sembahyang sunat, membaca al-Quran, berzikir, bersalawat, berdoa memohon ampun daripada Allah S.W.T ditempat-tempat mustajab didalam Masjidil Haram atau Masjid Nabawi serta pastikan sembahyang fardhu lima waktu dapat ditunaikan secara berjamaah didalam masjid.
  6. Ambillah kesempatan untuk menziarahi maqam Rasulullah S.A.W, maqam shuhada’, dan para sahabatnya. Saksikanlah secara langsung tempat asal agama Islam yang kita anuti. Ambillah pengajaran bagi mengukuhkan iman dan rasa kasih kepada baginda Rasulullah S.A.W serta cintakan tanah suci Makkah al-Mukarramah dan Madinah al-Munawwarah.

Setelah selesai mengerjakan ibadah haji dan umrah, hendaklah sentiasa menguatkan azam dan bertekad akan membuat perubahan pada diri dan keluarga agar dapat menghayati kehidupan secara Islam dan berjuang untuk Islam.

Kepada yang belum menunaikan ibadah haji dan umrah dinasihatkan bersegera merancang dari sekarang supaya tidak tergolong kedalam kalangan mereka yang cuai didalm usaha mengerjakan ibadah haji. Kepada muslimin dan muslimat yang akan menunaikan haji pada tahun ini diharapkan membuat persediaan yang cukup dan kami ucapkan selamat mengerjakan haji dan selamat pulang ke tanah air membawa seribu satu kenangan.

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ ۚ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّـهُ ۗ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ ٧

“(Masa untuk mengerjakan ibadat) Haji itu ialah beberapa bulan yang termaklum. Oleh yang demikian sesiapa yang telah mewajibkan dirinya (dengan niat mengerjakan) ibadat Haji itu, maka tidak boleh mencampuri isteri, dan tidak boleh membuat maksiat, dan tidak boleh bertengkar, dalam masa mengerjakan ibadat Haji. Dan apa jua kebaikan yang kamu kerjakan adalah diketahui oleh Allah; dan hendaklah kamu membawa bekal dengan cukupnya kerana sesungguhnya sebaik-baik bekal itu ialah memelihara diri (dari keaiban meminta sedekah); dan bertaqwalah kepadaKu wahai orang-orang yang berakal (yang dapat memikir dan memahaminya).” – al-Baqarah:197

 

Sumber : www.e-maik.my

Ya Allah ! Aku Ingin Pergi Haji

Salamullahi ‘alaykum….

Aku menyahut seruan-Mu Ya Allah Aku sahut seruan-Mu ! Aku sahut seruan-Mu wahai Tuhan yang sebenar !

itulah yang dituturkan oleh kekasih awal dan akhir, Nabi Muhammad S.A.W. ketika menyahut seruan haji yang pertama dan terakhir bagi baginda, Haji Wida’ (haji perpisahan).

Bulan Syawwal merupakan petanda bermulanya period ibadah haji sehingga berakhirnya pada bulan Zul-Hijjah. Raya haji kali ini ku rasakan bakal mencabar dan menguji sahsiah, ilmu dan soft skill…wallahul musta’an. Terpaksa memikul tanggungjawab untuk mengimarahkan surau di depan rumah, memastikan waktu antara Maghrib dan Isyak sentiasa diisi dengan aktiviti ilmiah. Memastikan diri mampu mengimamkan solat subuh sepanjang pemergian ayah aku ke Makkah, tak masuk lagi urusan pada hari raya Eid’ul Adha nanti. Terasa mencabar kenapa? Apa tidaknya, ayah dan ibu, abang & kak ipar, kakak & abang ipar serta mak sedara bakal mengerjakan salah satu jihad yang afdal. Mereka bakal bertolak ke Tanah Haram pada 15/10/2010 nanti dari KLIA ke Jeddah. Apa-apa pun doakan supaya mereka semua mendapat haji yang mabrur.

Rindu menggamit hati aku yang pernah menjejakkan kaki ke bumi Haramain (dua tanah suci) Makkah dan Madinah. Dengar je family diizinkan Allah untuk menunaikan haji tahun ni, hatiku terasa syahdunya suasana Haramain. Keindahan bumi yang menjunjung jasad yang mulia terbayang-bayang di mataku, seolah-olah aku betul-betul berada dan berpijak di bumi Haramain. Dapat berziarah dan berumrah sudah begitu ni’mat dan menginsafkan, apa lagi kalau dapat mengerjakan rukun Islam ke-5, HAJJ.

Dari kecil aku sudah dididik supaya mempunyai niat dan ‘azam untuk menunaikan haji pada usia yang muda….

aku dididik supaya menabung & melabur untuk mengerjakan haji….

ketika itu, duit yang aku simpan didalam bank 100% untuk haji….

seawal usia 8 tahun aku sudah memiliki akaun simpanan haji (akaun berkembar dengan ibu-bapa)…

Aku sentiasa menghitung hari dan waktu untuk menunaikan jihad ini, kalau ikutkan kos haji Malaysia sekarang aku masih memerlukan RM3k untuk diiktiraf sebagai mampu mengerjakan haji. Ya Allah ! percepatkanlah & permudahkanlah urusanku dengan Mu. Tahun 2012M/1433H menjadi target aku untuk mengerjakan haji. korang yang baca blog aku ni tolong la doa-doakan ye…

—————————————————————————

ibuku bercerita :

Dulu ketika masih dizaman persekolahan, ketika menghadapi peperiksaan SRP (sekarang PMR) ibu pernah menyatakan hasrat pada ayahnya….sekiranya dia berjaya dengan cemerlang dalam SRP maka dia ingin pergi Mekah. Keluarganya bukanlah keluarga yang kaya, datuk aku menasihatkan supaya jangan diniatkan begitu ditakuti sekiranya ibu aku cemerlang dalam SRP maka menjadi wajib untuk ditunaikan sedangkan mereka tiada wang untuk ke Mekah. Ibu aku patuh…namun dalam hatinya tetap berniat dan berazam supaya dapat pergi Mekah mengerjakan Haji. Dipendamnya niat dan azam itu bertahun-tahun lamanya.

Akhirnya…5 tahun kemudian, setelah diijab-kabul sebagai isteri kepada ayah aku, mereka berdua menunaikan ibadah haji dalam tahun pertama perkahwinan mereka, beberapa bulan selepas berkahwin. Hasil simpanan gaji selama 2 tahun sebagai pegawai bank ketika itu, ibuku sudah mampu mengerjakan haji. Kisahnya ini diceritakan pada anak-anaknya supaya bermotivasi tinggi menunaikan rukun Islam ke-5 itu.

————————————————————————-

Percayalah..tanpa niat dan ‘azam amatlah susah untuk anda mengerjakan haji. Jika ditakdirkan Allah, tak ada niat pun tetap akan pergi, namun niat dan ‘azam tetap memainkan peranan penting dalam menentukan tahap keimanan kita menghadapi dugaan sepanjang menjalankan manasik haji. Kalau kaya dan berharta sekalipun belum tentu menunaikan haji jika diri tidak pernah dimotivasi untuk menunaikan ibadah haji, lebih malang langsung tidak terlintas difikiran mereka untuk mengerjakan haji. Ingat ! Haji tetap RUKUN walaupun ianya menjadi wajib setelah berkemampuan.

Harta sudah menjadi satu jihad bagi yang kurang berkemampuan untuk menunaikan manasik haji, belum lagi menghadapi jihad sebenar, proses dan manasik haji itu sendiri.  Kita mesti muhasabah harta kita, ke mana kita belanjakan. Adakah perbelanjaan kita itu satu perkara yang mustahak sehingga tidak sempat menabung wang untuk haji? itu satu persoalan yang mesti direnungkan bersama. Adakah hitungan dan perkiraan kita menepati hitungan Allah? Kita beralasan belum mampu sedangkan dalam hitungan Allah kita mampu. Fikir-fikirkanlah…

kebetulan dah cakap pasal menabung untuk haji ni, aku nak share la satu movie yang menarik , Emak Ingin Naik Haji, sangat menarik , penuh motivasi bagi yang miskin, pengajaran bagi yang kaya harta. Konfirm korang takkan rugi & menyesal kalau download movie indonesia ni.

Bawah ni sikit sinopsis dan link untuk download movie ni.

Seorang anak pastinya ingin membahagiakan orang tuanya. Tapi seiring berjalannya waktu, ketika sang anak memiliki hidup dan mimpinya yang ingin diraihnya, membuat kebahagiaan orang tua sedikit tergeser. Hal inilah yang ingin diangkat oleh sutradara muda Aditya Gumay lewat film EMAK INGIN NAIK HAJI.

Kisah diawali dengan kehidupan Zein (Reza Rahadian) dan Emak (Aty Kanser) di pesisir pantai. Zein yang sibuk dengan hidup rumah tangganya, akhirnya harus menerima kenyataan pernikahannya gagal dan harus menjadi duda. Hidup berdua, setelah sang ayah dan kakaknya meninggal, membuat Zein sangat menyayangi emaknya. Untuk hidup sehari-harinya, Zein bekerja sebagai penjaja lukisan keliling. Emak sendiri bekerja sebagai pembantu di keluarga Bang Haji (Didi Petet).

Suatu hari, Zein menyadari ada satu mimpi emaknya yang belum terwujud, yakni menunaikan ibadah haji. Sadar bahwa bukan orang berada, Emak rela menabung bertahun-tahun untuk mewujudkan mimpinya. Zein yang melihat semangat sang emak untuk bekerja dan menabung meski usia emaknya sudah tidak muda lagi, membuat hatinya tergerak. Secara tak sengaja, ia melihat program undian berhadiah yang hadiahnya naik haji jika berbelanja suatu produk dengan kelipatan tertentu. Ia pun mengumpulkan kupon undian yang dibuang pengunjung. Selang beberapa hari kemudian, di sebuah koran ia melihat pengumuman undian tersebut. Antara percaya dan tidak, nomor undian milik Zein lah yang memenangkan hadiah utama untuk naik haji.

Bagaimana kisah selanjutnya???

DOWNLOAD LINK:

CD 1 EMAK INGIN NAIK HAJI

CD 2 EMAK INGIN NAIK HAJI

*** credit to Bro. Aiman Adzim for saving & giving me the link to donwload this movie.

Moga perkongsian kali bermanfaat di dunia dan akhirat. Kepada bakal haji tahun ni 1431H aku ucapkan :

Selamat menunaikan manasik Haji dan semoga mendapat Haji yang Mabrur (diterima oleh Allah)

Post Navigation

%d bloggers like this: