Saving Memoir

No more update after 1 December 2011 | moved to maktubat.wordpress.com

Archive for the month “September, 2010”

Keseimbangan Kata Dalam Al-Quran

Abdurrazaq Nawfal, dalam Al-Ijaz Al-Adabiy li Al-Qur’an Al-Karim yang terdiri dari tiga jilid, mengemukakan sekian banyak contoh tentang keseimbangan dalam Al quran, yang dapat disimpulkan secara sangat singkat sebagai berikut.

A. Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan antonimnya. Beberapa contoh, di antaranya:

* Al-hayah (hidup) dan al-mawt (mati), masing-masing sebanyak 145 kali;
* Al-naf’ (manfaat) dan al-madharrah (mudarat), masing-masing sebanyak 50 kali;
* Al-har (panas) dan al-bard (dingin), masing-masing 4 kali;
* Al-shalihat (kebajikan) dan al-sayyi’at (keburukan), masing-masing 167 kali;
* Al-Thumaninah (kelapangan/ketenangan) dan al-dhiq (kesempitan/kekesalan), masing-masing 13 kali;
* Al-rahbah (cemas/takut) dan al-raghbah (harap/ingin), masing-masing 8 kali;
* Al-kufr (kekufuran) dan al-iman (iman) dalam bentuk definite, masing-masing 17 kali;
* Kufr (kekufuran) dan iman (iman) dalam bentuk indifinite, masing-masing 8 kali;
* Al-shayf (musim panas) dan al-syita’ (musim dingin), masing-masing 1 kali.

B. Keseimbangan jumlah bilangan kata dengan sinonimnya/makna yang dikandungnya.

* Al-harts dan al-zira’ah (membajak/bertani), masing-masing 14 kali;
* Al-‘ushb dan al-dhurur (membanggakan diri/angkuh), masing-masing 27 kali;
* Al-dhallun dan al-mawta (orang sesat/mati [jiwanya]), masing-masing 17 kali;
* Al-Qur’an, al-wahyu dan Al-Islam (Al-Quran, wahyu dan Islam), masing-masing 70 kali;
* Al-aql dan al-nur (akal dan cahaya), masing-masing 49 kali;
* Al-jahr dan al-‘alaniyah (nyata), masing-masing 16 kali.

C. Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan jumlah kata yang menunjuk kepada akibatnya.

* Al-infaq (infak) dengan al-ridha (kerelaan), masing-masing 73 kali;
* Al-bukhl (kekikiran) dengan al-hasarah (penyesalan), masing-masing 12 kali;
* Al-kafirun (orang-orang kafir) dengan al-nar/al-ahraq (neraka/ pembakaran), masing-masing 154 kali;
* Al-zakah (zakat/penyucian) dengan al-barakat (kebajikan yang banyak), masing-masing 32 kali;
* Al-fahisyah (kekejian) dengan al-ghadhb (murka), masing-masing 26 kali.

D. Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan kata penyebabnya.

* Al-israf (pemborosan) dengan al-sur’ah (ketergesa-gesaan), masing-masing 23 kali;
* Al-maw’izhah (nasihat/petuah) dengan al-lisan (lidah), masing-masing 25 kali;
* Al-asra (tawanan) dengan al-harb (perang), masing-masing 6 kali;
* Al-salam (kedamaian) dengan al-thayyibat (kebajikan), masing-masing 60 kali.

E. Di samping keseimbangan-keseimbangan tersebut, ditemukan juga keseimbangan khusus.

(1) Kata yawm (hari) dalam bentuk tunggal sejumlah 365 kali, sebanyak hari-hari dalam setahun. Sedangkan kata hari yang menunjuk kepada bentuk plural (ayyam) atau dua (yawmayni), jumlah keseluruhannya hanya tiga puluh, sama dengan jumlah hari dalam sebulan. Disisi lain, kata yang berarti “bulan” (syahr) hanya terdapat dua belas kali, sama dengan jumlah bulan dalam setahun.

(2) Al-Quran menjelaskan bahwa langit ada “tujuh.” Penjelasan ini diulanginya sebanyak tujuh kali pula, yakni dalam ayat-ayat Al-Baqarah 29, Al-Isra’ 44, Al-Mu’minun 86, Fushshilat 12, Al-Thalaq 12, Al-Mulk 3, dan Nuh 15. Selain itu, penjelasannya tentang terciptanya langit dan bumi dalam enam hari dinyatakan pula dalam tujuh ayat.

(3) Kata-kata yang menunjuk kepada utusan Tuhan, baik rasul (rasul), atau nabiyy (nabi), atau basyir (pembawa berita gembira), atau nadzir (pemberi peringatan), keseluruhannya berjumlah 518 kali. Jumlah ini seimbang dengan jumlah penyebutan nama-nama nabi, rasul dan pembawa berita tersebut, yakni 518 kali.

(4) Kata lautan (al bahar) disebutkan 32 kali sedangkan kata daratan (al bar) disebutkan 13 kali. Jika di jumlahkan perkataan yang berkaitan tentang “lautan” dan “daratan” adalah 45 perkataan. Seperti pengiraan berikut :

Lautan : 32/45 X 100% = 71.11111111%
Daratan : 13/45 X 100% = 28.88888888%

Kini telah kita ketahui peratusan bagi “Lautan” dan “Daratan” di dalam dunia ini sebagaimana yang di sebutkan di dalam kitab sici Al Quran.

(5) [Quran 3:59]
Sesungguhnya persamaan “Isa” di sisi Allah seperti persamaan “Adam”.
Kata “Isa” dan “Adam” sama-sama muncul 25 kali.

(6) [Quran 7:176]
“anjing” dengan “kaum yang mendustakan ayat-ayat Kami” Maka persamaannya ialah :
bahwa “kaum yang mendustakan ayat-ayat Kami” (al-qawmul-ladzi_na kadz-dabu_ bi a_ya_tina_) dipersamakan/ diibaratkan kelakuannya seperti seekor
“anjing” (kalb). jika kamu menghalaunya, ia menjulurkan lidahnya, atau jika kamu membiarkannya, ia menjulurkan lidahnya juga.”Anjing” (kalb) tertulis 5 kali sebagaimana kata “Kaum yang mendustakan ayat-ayat Kami” (al-qawmul-ladzi_na kadz-dabu_ bi a_ya_tina_) tertulis 5 kali juga

(7) [Quran 29:41]
Persamaan “orang-orang yang mengambil untuk mereka wali-wali selain daripada Allah” (alladzi_nat-takhadzu_ mindu_nil-laahi), ialah seperti persamaan “laba-laba” (al-‘ankabu_t). Laba-laba (al-‘ankabu_t) tertulis 2 kali, “Orang-orang yang mengambil untuk mereka wali-wali selain daripada Allah” (alladzi_nat-takhadzu_ mindu_nil-laahi) tertulis 2 kali juga.

(8) [Quran 62:5]
Persamaan “orang-orang yang dibebankan dengan Taurat”,kemudian mereka tidak memikulnya adalah seperti persamaan “seekor keledai” yang memikul buku-buku yang tebal. “Keledai” (al-hima_r) dan “orang-orang yang dibebankan
dg taurat” (al-ladzi_na humilut-tawra_t) sama-sama muncul di ayat ini, yaitu hitungannya sama-sama satu kali muncul.

F. Berkaitan dengan pertidaksamaan matematik

Dalam Quran, dijumpai hint tentang pertidaksamaan ketika ada ayat yang menyatakan “Adakah sama antara A dan B (hal yastawi_ A wa B?), sebagaimana ditemukan dalam beberapa ayat. Tentunya, kita akan berfikiran
bahwa tentu saja kemungkinan (probabilitas) ketidaksamaan jumlah antara A dan B adalah sangat besar, akan tetapi anehnya, jika kita temukan ayat yang menyatakan ketidaksamaan antara A dan B, diketahui bahwa perbedaan jumlah antara A dan B adalah TEPAT SATU.

Contoh:

[Quran 4:95]
Tidaklah sama antara “mu’min yang duduk [yang tidak ikut berperang] yang tidak mempunyai “uzur”” (al-qa_idu_n) dengan “orang-orang yang berjihad di
jalan Allah” (al-muja_hidu_n) …
Jumlah kemunculan (al-qa_idu_n) / (al-qa_idi_n) = 4
Jumlah kemunculan (al-muja_hidu_n) / (al-muja_hidi_n) = 3

[Quran 6:50]
.. Apakah sama “orang yang buta” (al-a’ma_) dengan “orang yang melihat” (al-bashi_r)? Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya)?

Jumlah kemunculan (al-a’ma_) = 8
Jumlah kemunculan (al-bashi_r) = 9

[Quran 13:16]
.. Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah “gelap gulita” (adz-dzuluma_t) dan “terang benderang” (an-nu_r) …

Jumlah kemunculan (adz-dzuluma_t) = 14
Jumlah kemunculan (an-nu_r) = 13

Ada sedikit kejanggalan terhadap fenomena ini di Quran 5:100, yang dijelaskan sebagai berikut:

[Quran 5:100]
.. :Tidak sama “yang buruk” (al-khabi_ts) dengan”yang baik” (at-thayyib), meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, …

Catat akhir ayat di atas, bahwa:
“banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, … ”

Ternyata, jumlah kata (al-khabi_ts) dengan (at-thayyib” adalah SAMA, yaitu 7 kali kemunculan. Penjelasan dari kejanggalan ayat ini ditemukan di Quran 8:37 yang menyatakan:

[Quran 8:37]
Supaya Allah memisahkan yang buruk daripada yang baik, dan “supaya Dia meletakkan yang buruk, sebahagiannya di atas sebahagian yang lain”, …
Di ayat ini, dikatakan bahwa Dia meletakkan “yang buruk” (al-khabi_ts) sebahagian di atas sebahagian yang lainnya, sehingga jumlahnya seakan-akan bertambah (seakan-akan sama, yakni sama-sama muncul 7 kali).

Advertisements

Tragedi yang Mengajar Erti Kehidupan

Pesanan pertama dan juga muqaddimah dari aku : taatlah pada kedua Ibu & Bapa, ingatlah pada jasa dan bakti mereka kepada kita yang tidak mampu diungkap dengan kata-kata, tak mampu ditulis dengan pena mahupun diluah dalam blog.  Itu saja sudah cukup untuk kita tidak menderhaka pada mereka dalam apa jua keadaan kita.

Hari ini 8 Syawwal 1431H dan juga 8 Syawwal pada tahun-tahun mendatang tetap akan ku kenang sebagai hari pertama “kelahiran semula” aku dan tahun ini 1431H genaplah sudah 1 tahun aku memulakan semula kehidupan yang makin mencabar dengan dugaan dan rintangan yang mungkin bertambah.

Subhanallah ! Alhamdulillah ! Allahu Akbar !

Tragedi  7 Syawwal 1430H bersamaan 27 September 2009M masih segar diingatanku. Aku masih mengingati dengan jelas turutan atau sequence berlakunya tragedy tersebut dari intro – klimaks – ending.  Sungguh besar anugerah Allah padaku pada tarikh tersebut, anugerah yang merobah struktur asas keimanan dan ketaqwaan hambaNya ini. Anugerah yang mencetuskan gelombang tsunami pada oasis qalbu sekaligus melenyapkan mahligai kelalaian dan mencetuskan pembinaan istana syukur, kesyukuran tak terhingga atas segala ni’mat Allah dari sekecil-kecil hingga sebesar-besarnya.

Tragedi 7 Syawwal ?

Kereta Proton Savvy yang dinaiki oleh aku ketika berlakunya kemalangan

Itulah hari aku terlibat dalam kemalangan jalan raya di jalan utama Raub – Bentong pada jam 4.30 a.m. Alhamdulillah accident tu tidaklah sampai mengorbankan mereka yang didalamnya walaupun secara logiknya sepatutnya mengorbankan orang didalam kereta tersebut jika dilihat pada keadaan fisikal kereta itu. Itulah kuasa Allah, taqdir dan iradah(kemahuan) Nya.  Alhamdulillah!

Accident itu menyebabkan aku mengalami kecederaan pada tulang belakang, apa yang disebut sebagai Multilevel Compression pada tulang belakang, juga retak pada L1. Ruas tulang yang terlibat adalah T11, T12 & L1. Ringkas cerita, aku terpaksa menjalani pembedahan untuk memasukkan 2 batang rod titanium & 6 biji screw titanium untuk menyokong dan membantu pemulihan kecederaan tulang belakang.

gambar X-ray tulang belakang selepas operation

Ni’matnya Ujian

Ujian, musibah dan dugaan yang dihadapi dengan penuh kesabaran akan dapat dirasai kenikmatannya. Pada sangkaan kita musibah itu musibah walhal jika kita bersabar dan menghargainya pasti musibah itu bukan musibah tapi satu rahmat dari-Nya sebagai kesedaran dari kelalaian terhadap-Nya. Benarlah kata Allah didalam surah Al- Baqarah: 216 ;

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

dan boleh jadi kamu benci kepada sesuatu padahal ia baik bagi kamu, dan boleh jadi kamu suka kepada sesuatu padahal ia buruk bagi kamu. dan (ingatlah), Allah jualah yang mengetahui (semuanya itu), sedang kamu tidak mengetahuinya.

Indahnya ujian dan musibah itu jika sabar menjadi bentengnya. Sebagaimana yang dinukilkan oleh Dr. Aidh Al-Qarni dalam buku tulisannya Hadaa’iq DZatu Bahjah dimana beliau menulis seperti berikut yang bermaksud :

Saat tak ada lagi sahabat karib yang menghibur, kala tak ada lagi teman yang menemani, tidak juga sahabat yang simpati, maka kesabaran menggantikan posisi mereka semua. Kesabaran mampu berbicara atas nama semua. Kesabaran mampu memenuhi kewajiban sahabat dan kerabat. Kesabaran yang indah tidak ada keluhan didalamnya.

….Sabar yang baik adalah kemampuan menanggung musibah dengan diam, menerima terjahan masalah dengan tenang dan menerima hentaman dengan redha.

Tragedi 7 Syawwal itu mengajar erti kesabaran yang benar pada diri ini. Memang keretakan tulang belakang itu tidaklah begitu sakit, tapi kesan sampingan yang dialami aku selepas menjalani pembedahan begitu menguji kesabaran. Semuanya berlaku dengan kehendak Allah dan aku tidak ingin menyalahkan sesiapapun, kecualilah side effect itu menjejaskan secara total masa depanku (mahu taknya aku saman je..hehe). Side effect itu menyebabkan aku mengalami hyper-sensitive skin pada sebelah kaki kiri. Kena angin pun pedih, kena air rasa macam kulit disiat, apatah lagi bila disentuh….letak je tangan atas kawasan tu pun dah terasa pedihnya belum betul-betul sentuh lagi. Tapak kaki berdenyut-denyut, mencucuk-cucuk rasa seperti kulit kaki disiat dan dikelar bertubi-tubi. Ketika itu tiadalah ucapan yang keluar melainkan pujian & doa pada Allah.

picture by soulflamer of devian art

Allah….Allah…Allah….

Apa sahaja doa dan munajat yang terlintas dalam benak fikiranku terus dituturkan keluar. Tiada lagi sekutu atau syirik bagi Allah, bahkan ungkapan kalimah Allah pada ketika itu begitu terasa dan menusuk qalbu. Pastinya susah untuk mengikhlaskan hati pada tahap 100% pada Allah ketika kita berada dalam keadaan sihat walafiat, ucapan Allah ketika sakit itu begitu berharga bagi mereka yang merasainya. Kenikmatan berdoa, bermunajat dan memuja-muji Allah begitu terasa dikala musibah. Keindahannya tidak dapat dirasai dan digambarkan bagi orang yang senang dan sihat. Saat itulah lafaz Allah dilafazkan dengan begitu ikhlas dan mendalam.

Terlantar di hospital selama 1 bulan memberikan 1001 pengajaran dan ibrah yang begitu bermakna dalam kehidupan aku. Kematian dirasa begitu dekat apabila pesakit sebelah meninggal dunia, dihari yang lain pula pesakit di depan katil aku pula yang meninggal, lusanya pula pesakit satu wad meninggal dunia.

Kehidupan didalam wad juga memberikan kesedaran padaku bahawa begitu ramai saudara seagama yang tidak menunaikan tuntutan asas dalam Islam, SOLAT. Kesemua pesakit dalam wad adalah Muslim namun tidak sampai 10% yang menunaikan solat. Jumlah 10% itu terdiri dari kalangan mereka yang berusia lanjut yang sedar mereka akan meninggalkan dunia ini, itu suasana yang berlaku di Hospital Kota Bharu, Kelantan, negeri yang terkenal dengan penduduknya kuat berpegang pada ajaran Islam. Aku sempat dimasukkan ke dalam wad di Hospital Kuala Lipis, Pahang, lain pula kisahnya. Pakcik tua yang berumur sekitar 70-an yang sakit kaki, begitu gigih memanjat kerusi untuk menukar channel television sedangkan solat diabaikan. Astaghfirullah….hanya itu mampu aku lafazkan melihat gelagat pakcik tua yang masih belum menerima cahaya hidayah dari Allah.

Ini juga satu peringatan buat doktor dan setiap Muslim supaya menjalankan misi dakwah mereka kepada pesakit. Doktor Muslim harus dapat membantu pesakit yang jahil untuk menunaikan solat ketika sakit, itulah pentingnya  doktor Muslim mempunyai ilmu asas Islam yang kukuh. Kebanyakan pesakit beralasan tidak tahu cara bersolat ketika sakit, jahil akan perkara paling ASAS dalam agama, Solat adalah tiang agama. Sebagaimana disebut dalam satu hadis (walaupun statusnya dhoif)

لصَّلاةُ عِمادُ الدِّينِ ، مَنْ أقَامَها فَقدْ أقَامَ الدِّينَ ، وَمنْ هَدمَها فَقَد هَدَمَ الدِّينَ

Solat itu tiang agama, siapa yang mendirikannya maka dia telah mendirikan agama, dan siapa yang mengabaikannya maka dia telah memusnahkan agama.

Cukuplah sedikit perkongsian ini sebagai iktibar kepada kita semua. Jika ingin dikisahkan semua pengajaran yang aku dapat, rasanya mustahil untuk ditulis dengan ringkas di sini. Insya Allah, jika diberikan peluang dan masa, ibrah dari tragedy itu mampu dikongsikan dengan lebih detail. Mungkin bagi sesetengah orang, accident ini tidaklah begitu tragis dan teruk. Namun tidak semua orang mengambil manfaat dari musibah yang dialami mereka. Bagi sesetengah orang, accident yang hampir meragut nyawa dan menyebabkan kecacatan kekal sekalipun belum tentu mampu memberikan impak positif kearah menghampirkan diri pada Allah, meningkatkan keimanan dan ketaqwaan. Sedang bagi mereka yang kadang-kadang hanya terjatuh tangga sudah cukup mengingatkan dia pada Allah.

Dale Carnegie didalam Public Speaking & Influencing Men in Business, menulis bahawa ahli psikologi ada mengatakan :

We learn in two ways : one, by the Law of Exercise, in which a series of similar incidents leads to a change of our behavioral patterns; and two, by the Law of Effect, in which a single event may be so startling as to cause a change in our conduct.

Bagi aku Law of Effect itu lebih baik daripada ditimpa musibah berulang-kali baru nak sedar macam Law of Exercise. Namun semua itu bergantung pada kesedaran dan ikhtiar seseorang untuk lebih hampir pada Allah.  Hadapilah musibah itu dengan penuh sabar sebagaimana sabarnya rasul ulul ‘azmi [ al-Ahqaf:35]

Bersabarlah dengan kesabaran yang elok dan baik [al-Maarij:5] dan ingatlah kata-kata Nabi Yaaqub (a.s) saat memujuk hatinya supaya bersabar atas kehilangan Nabi Yusuf (a.s) :

فَصَبْرٌ جَمِيلٌ ۖ وَاللَّـهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَىٰ مَا تَصِفُونَ

“Bersabarlah Aku Dengan sebaik-baiknya, dan Allah jualah Yang dipohonkan pertolonganNya, mengenai apa Yang kamu katakan itu.” [ Yusuf:18]

**** sila baca perkongsian terdahulu  dalam entri yang lepas Zikir Menguatkan Tulang Belakang

Post Navigation

%d bloggers like this: