Saving Memoir

No more update after 1 December 2011 | moved to maktubat.wordpress.com

Menghayati Kelabunya Langit Petang

“Apapun yang ada di muka bumi, selalu mempunyai dua sisi berbeza.” Intonasi Latief melandai secara tepat, nada bicaranya mengalir lembut. Selembut maksud namanya.

“Hitam-putih,siang-malam,…” tambah Rizal.

“Ya, positif-negatif.” Sambung Latief melengkapkan kata-kata Rizal yang tergantung. Dia menarik nafas perlahan-lahan dan menghembusnya dalam satu hembusan. “Tapi hidup selalu memerlukan keseimbangan.” Usul Latief kemudian.

“Di antara hitam dan putih, saya pilih kelabu. Di antara siang dan malam, saya pilih petang.” Kata Rizal.

Nonsense! Tak ada option lain ke nak dipilih?” Tanya Latief dengan nada sinis diiringi tawa geli.

“Putih itu lambang kebenaran, hitam itu lambang keburukan. Saya tak tau kenapa mesti ada kelabu. Yang pasti, saya suka dengan kelabu.” Komentar Rizal seolah mengabaikan kata-kata protes dari seniornya.

Tawa geli Latief berhenti seketika saat Rizal melanjutkan percakapan. Dia menatap Rizal yang lebih dulu membelokkan pandangan ke arahnya. Sebuah tatapan tajam, petanda perbualan mereka itu akan menjadi semakin serius.

“Siang itu untuk bekerja, malam itu untuk istirahat. Tapi saya suka suasana petang, Bang.” Tuturnya tanpa ragu. “Tolong beri saya penjelasan, Bang. Kenapa mesti ada kelabu yang saya suka, dan kenapa harus ada petang yang membuat saya merasa tau banyak hal tentang kelmarin, hari ini, bahkan besok?”

Bagai WINAMP player yang baru saja ditekan button pause-nya, Latief membisu. Sekalipun muncul perlahan dan mengatur rapi mengikuti sebuah muqaddimah, pertanyaan Rizal membuatnya diam seribu bahasa, kaku bagai separuh mati tak tahu apa yang harus dijawabnya.


Di dataran perpustakaan yang diteduhi oleh pepohonan, angin bertiup makin kencang. Membunyikan suara bergaduh dari dahan dan daunan pohon yang bertumbuk tanpa aturan. Dedaunan kering tersapu oleh tiupan angin hingga semakin menjauhi Latief dan Rizal yang sedang duduk di tangga perpustakaan. Situasi yang serasi dengan suasana kacau di benak Latief saat berusaha mencari jawapan untuk pertanyaan Rizal. Latief mencuba sekuat tenaga meredakan ketegangan dalam dirinya. Dia menoleh ke kanan dan tampaklah bayangan pohon yang terpapar dari cahaya matahari petang.

“Hari ini panas sekali, ya?” Tanya Latief cuba mengusik keheningan. Kekakuan pun sirna seiring angguk Rizal yang tergesa-gesa merespon pertanyaan Latief. “Agaknya apa yang akan terjadi kalau hari yang panas begini, kemudian turun hujan secara mendadak? Lebat pula tu.” Kata lebat yang disisipkan Latief di hujung kata-katanya adalah petanda bahwa dia inginkan jawapan.

“Orang akan lari ke tempat teduh.” Jawab Rizal.

“Kalau hal yang sama terjadi setiap hari?” Soal Latief.

Rizal kembali membetulkan tatapan seriusnya kepada Latief, “Orang akan sakit.”

“Tepat! Kesimpulannya kita memerlukan waktu untuk adaptasi. Petang adalah momentum yang Allah beri untuk kita menyesuaikan tubuh kita yang akan didakap kedinginan malam setelah seharian disengat mentari.”

“Kelabu?” Spontan kata itu diusulkan Rizal untuk dijelaskan sekaligus oleh Latief.

Sebelum menjelaskan, Latief kembali menghela nafas, “Syaitan pernah berjanji untuk terus menggoda orang-orang baik supaya turut sama melakukan kejahatan. Di sisi yang lain, dengan kuasa-Nya, Allah juga memberi kesempatan bagi orang-orang yang tersesat untuk kembali ke jalan-Nya. Dalam zon kelabu itulah, orang “putih” merasa resah memikirkan berapa lama lagi dia akan kuat bertahan untuk tetap “putih”. Di zon yang sama, orang “hitam” juga gelisah memikirkan saat yang tepat untuk bertaubat.”

Senyum Rizal mengembang tiba-tiba. Dia seperti mendapat jawapan tepat atas pertanyaan yang selama ini mengganggu alam pemikirannya. Dia lantas melengkapi kata-kata Latief, “Di zon kelabu, orang “hitam” yang sempat bertaubat juga boleh memutuskan untuk kembali ke dunia “hitam’, Bang.”

Kata-kata itu disusuli gelak-tawa yang sinis.

*** Kisah ini diambil dari nota facebook  Tegar Maulana, aku sudah edit gaya bahasa penulis (tanpa izin) supaya memudahkan rakyat Malaysia memahaminya demi manfaat bersama.

For more exciting & motivating stories click Learn From Stories

Single Post Navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: