Saving Memoir

No more update after 1 December 2011 | moved to maktubat.wordpress.com

Archive for the tag “tgk hasan di tiro”

Mengenang Teungku Hasan di Tiro : Mujahid Agung Nusantara

Disamping kesedihan kita terhadap apa yang berlaku pada Mavi Marmara, kapal kemanusiaan untuk rakyat Gaza yang ditindas kejam oleh Israel Laknatullah. Hari ini kita dikejutkan pula dengan kematian seorang ulama’ dan juga pejuang Islam yang cukup hebat!

Siapa beliau?

Nama : Hasan Muhammad Di Tiro
Lahir : 25 September 1925, di Tanjong Bungong, Pidie
Ayah : Tgk. Muhammad Hasan
Ibu : Pocut Fatimah
Pendidikan : – Madrasah Blang Paseh, dibawah asuhan Tgk. Daud Beureueh
– Normal School di Bireuen
– Universitas Islam Indonesia, Fakultas Hukum
– Program Doktor Ilmu Hukum Int’l, University of Columbia, AS
Karier : – Staf PM. Syafrudin Prawiranegara (1949 – 1951)
– Perwakilan Indonesia di PBB (1951 – 1954)
– Menlu NII Aceh dan Wakil Tetap NII Aceh di PBB (1954-1963)
Isteri : Karim Di Tiro

Beliau ialah Teungku Hasan di Tiro, pengasas Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang sangat gigih dan tabah dalam usaha memerdekakan Aceh. Untuk apa? untuk menegakkan sebuah negara Islam merdeka yang menjalankan Syariah Islamiyyah. Aku pernah mendengar nama beliau sebelum ini, mungkin ketika memuncaknya konflik di Aceh beberapa tahun lalu. Setelah aku bermusafir ke Aceh pada 16 Mei 2010 yang lepas barulah aku betul-betul  “diperkenalkan” dengan perjuangan beliau. Namun, perkenalan ini tidak lama, hanya setelah 2 minggu aku meninggalkan bumi Aceh Darussalam beliau menghadap penciptanya, Allah ‘Azza WaJalla.

Beliau meninggal sekitar jam 1215 siang hari tadi waktu Aceh (1315, waktu malaysia) di Hospital Zainal Abidin, Banda Aceh pada usia 85 tahun pada 3 Jun 2010.  Semoga Allah memberkahinya serta mencucuri rahmat-Nya ke atas pejuang Islam & Bangsa yang hebat ini. Walaupun Aceh tidak mencapai kemerdekaannya namun sekurang-kurangnya Aceh dapat berehat daripada sengsara perang puluhan tahun lamanya. Aku belum sempat lagi membaca sepenuhnya sejarah hidup tokoh hebat ini. Oleh itu, aku copy satu artikel berkenaan beliau untuk kita mengenali tokoh ini secara kasar. Sebelum itu, hadiahkan Al-Fatihah untuk Allahyarham Teungku Muhammad Hasan di Tiro.

Artikel ini baru saja ditulis oleh Dr.Munawar A. Djalil, M.A. pada 2 Jun 2010. (sehari sebelum Tgk.Hasan diTiro meninggal)

DALAM catatan sejarah Aceh, Teungku Hasan Tiro adalah salah satu tokoh politik Aceh terakhir setelah Allahuyarham Teungku Muhammad Daud Beureueh. Sejak tahun 1985 dia hidup dan tinggal di perkampungan Aceh di Kota Nodsborg, 20 km di selatan Stockholm Swedia. Teungku Hasan Di Tiro bernama lengkap Hasan Bin Leube Muhammad dilahirkan pada 25 September 1925 di Kampung Tanjong Bungong, Lamlo, Kecamatan Kota Bakti Kabupaten Pidie.

Ayahnya bernama Leube (lebai) Muhammad dan Ibundanya bernama Pocut Fatimah Binti Mahyiddin Binti Teungku Syekh Muhammad Saman Binti Syeikh Teungku Abdullah. Secara silsilah keluarga, hubungan Teungku Hasan dan Teungku Chik Di Tiro Muhammad Saman hanya berdasarkan dari garis keturunan sebelah pihak perempuan saja, maksudnya Teungku Hasan Tiro masih sebagai cucu daripada Teungku Chik Di Tiro, walaupun dari keturunan ibundanya.

Teungku Chik Di Tiro berasal dari keluarga ulama Tiro dan juga  keluarga pejuang, sehingga darah ulama dan darah pejuang menjadi turun temurun kepada anak-anak bahkan hingga ke anak cucunya sekalipun. Sebenarnya agamalah yang sangat memainkan peranan penting dalam kehidupan keluarga Teungku Chik Di Tiro hingga dapat  menyebarkan semangat jihad bukan hanya pada keluarganya saja, akan tetapi sanggup membangun sebuah prinsip umum tentang pentingnya jihad untuk menegakkan kebenaran. Sehingga C. Snouck Hurgronje dalam bukunya, “The Acehnese”, menyatakan bahwa Teungku Chik Di Tiro Muhammad Saman adalah sebagai seorang pemimpin perang suci  (holy war) hingga akhir hayatnya, seorang pemimpin besar Aceh, dan bahkan seorang pemimpin ulama pembaharuan.

Bagaimanapun juga keluarga di Tiro disamping sebagai ulama juga sebagai pejuang Aceh. Mereka sangat berperan dalam perjuangan melawan Belanda. Dari Teungku Syik Muhammad Saman sampai anaknya yang terakhir Teungku Muaz (Syahid 3 Desember 1911) terus menerus berjuang di jalan Allah. Atas dasar semangat inilah sangat wajar kalau “Wali Nanggroe” Teungku Hasan Tiro menyebut dirinya sebagai turunan pejuang dari keluarga Tiro dengan mendeklarasikan Gerakan Aceh Merdeka 4 Desember 1976 sebagai kelanjutan perjuangan setelah vakum selama 65 tahun.

Syahdan, Teungku Hasan Tiro sebagaimana yang dikemukakan oleh banyak tokoh-tokoh politik dan sahabat karibnya bahwa Hasan Tiro adalah seorang yang mempunyai otak cemerlang karenanya setelah selesai pendidikan di Amerika tingkat S3 (doktor) dia menjadi pegawai tetap di Kementerian Penerangan Indonesia di PBB.

Menurut Cornelis Van Dijk, seorang pakar sejarah asal Rotterdam, Belanda, dan dia juga merupakan seorang peneliti di sebuah pustaka yang menyimpan seluruh dokumentasi kehidupan rakyat Indonesia masa penjajahan yaitu KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal Landen Volkenkunde) dan peneliti pada Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Carribean Studies, sejak 1968.

Tgk Hasan di Tiro ; mujahid yang digeruni kawan dan lawan

Dia berpendapat bahwa Teungku Hasan Tiro sebagai seorang yang mempunyai daya intelektual yang tinggi, berpendidikan yang baik, dan mempunyai kombinasi ilmu politik dan hukum yang jarang terdapat pada kebanyakan orang. Di samping kecemerlangan otaknya, Teungku Hasan Tiro juga punya sifat kemandirian yang tinggi. Sifat khusus yang dimiliki Teungku Hasan Tiro pernah disinggung oleh seorang kolumnis Richard C. Paddock dalam harian Los Anggeles Times (30 Juni 2003), dia menulis akan kekaguman terhadap Teungku Hasan Di Tiro dengan kekhususan sifat yang dimilikinya. Berjuang di hutan belantara Aceh dan meninggalkan kemewahan hidup yang sudah didapatkannya di New York, AS.

Dalam buku yang ditulis Teungku Hasan Tiro 1981 “The Price of Freedom: The Unfinished Diary”. Buku ini memaktubkan kisah hariannya ketika berada di Aceh dari 4 September 1976 hingga 29 Maret 1979. Buku ini penuh dengan semangat hidup yang tak pernah pudar dari Teungku Hasan Di Tiro. Dalam pengantar buku itu dia menulis: “Saya punya istri yang cantik dan seorang bocah kecil yang sangat tampan. Saya juga sedang memasuki tahap tersukses dalam bisnis. Saya punya kontrak bisnis dengan para pengusaha dunia dan telah masuk dalam lingkaran pemerintahan dunia, seperti AS, Eropa, Timur Tengah, Afrika dan Asia Tenggara kecuali Indonesia. Dari catatan itu seolah-olah beliau menggambarkan bahwa demi “tanoh endatu” dia rela mengorbankan itu semua.

Disamping itu buku setebal 226 halaman ini menulis beberapa catatan sejarah bahwa Indonesia merupakan satu wilayah di permukaan bumi ini yang panjangnya sama antara Moskow dan Lisabon, dan lebarnya sama antara Roma dan Oslo dengan penduduk lebih dari 185 juta jiwa, yang terdiri dari berbagai bangsa, bahasa, budaya yang sama banyaknya seperti terdapat di benua Eropa, yang luasnya sama dengan wilayah di peta dunia yang disebut Indonesia itu. Maka sangat bodoh, bila kita berbicara perkara “Nasionalisme Eropa”, demikian juga dengan “Nasionalisme Indonesia” yang keberadaannya yang tidak pernah mengerti tentang sejarah, budaya dan geopolitik dari dunia Melayu.

Namun yang menarik dalam beberapa catatan tentang Teungku Hasan Tiro adalah–Untuk “membebaskan Aceh”–dia rela meninggalkan keluarganya dan segala kemewahan hidup. Teungku Hasan Tiro juga mengakui dalam bukunya tersebut bahwa hal yang sangat berat dalam hidupnya adalah ketika harus meninggalkan keluarga yang sangat dicintainya. Dia meninggalkan bocah semata wayang yang saat itu baru berusia 6 tahun.

Teungku Hasan Tiro sempat mencatat lagi “saya akan merasa gagal jika tidak mampu mewujudkan hal ini, harta dan kekuasaan bukanlah tujuan hidup saya dan bukan pula tujuan perjuangan ini. Saya hanya ingin rakyat Aceh makmur sejahtera dan bisa mengatur dirinya sendiri.” (The Price of Freedom:The Unifinished of Diary (1981) h. 140).

Sujud syukur sebaik saja mendarat di Bandara Sultan Iskandar Muda, Aceh

Teungku Hasan Tiro telah pulang ke “tanoh endatu” untuk kedua kalinya setelah Oktober 2008 lalu. Kepulangan kali ini sebenarnya hanya untuk tujuan bersilaturrahmi dengan seluruh masyarakat Aceh karena selama puluhan tahun beliau mengasingkan diri di luar negeri dan sekaligus ingin melihat hasil perjuangan yang telah lama dirintisnya. Nampaknya perjuangan “Wali Nanggroe” selama 30 tahun telah berbuah hasil dengan lahirnya MoU Helsinki dan peraturan organik UUPA 2006. Namun yang sangat ironi cita-cita perjuangan “Wali” untuk memakmurkan rakyat belum sepenuhnya tercapai, kemakmuran itu baru dirasakan oleh “segelintir” orang saja yang punya andil dalam perjuangan dan kaum oportunis–kelompok ini kata endatu adalah “yang gabuk-gabuk cok si-hah yang bagah-bagah cok si-deupa”.

Kini sang “Deklarator GAM” sedang terbaring sakit di RSU-ZA Banda Aceh. Sebagai muslim mari sama-sama berdoa, semoga Allah Swt menyembuhkan penyakit saudara kita. Ya Jabir Kullu Maksur, Wahai penyembuh segala kesakitan, berikan kesehatan kembali kepada orang tua kami Teungku Hasan Muhammad Di Tiro. Amien.

Post Navigation

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: