Saving Memoir

No more update after 1 December 2011 | moved to maktubat.wordpress.com

Archive for the tag “interaksi dengan alquran”

Berinteraksi Dengan Al Quran di Bulan Ramadan

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

Bulan Ramadan yang padanya diturunkan Al-Quran, menjadi petunjuk bagi sekalian manusia, dan menjadi keterangan-keterangan yang menjelaskan petunjuk dan (menjelaskan) perbezaan antara yang benar dengan yang salah….[Al-Baqarah:185]

Ramadan bulan dimana wahyu pertama diturunkan, pada bulan Ramadan kita amat digalakkan untuk memperbanyak bacaan Al Qur’an, kitab yang memberi hidayah dan petunjuk. Kalau boleh, kita tidak hanya membaca Al Qur’an, bahkan cuba memahaminya, mengamalkannya serta menyebarkan ajaran yang terkandung didalamnya. Alhamdulillah, aku sudah berjaya memulakan langkahku untuk menghafal Al Qur’an disamping cuba untuk mentadabbur maknanya. Walaupun aku sudah 22 tahun, tapi bagi aku tiada istilah terlambat untuk memulakan sesuatu yang baik, mungkin bagi mereka yang sudah pun menghafal 30 juz Al Qur’an apalah sangat  yang gempak kalau setakat baru nak mula menghafal. Namun bagi aku, tiada perkataan yang mampu menggambarkan keni’matan menghafal ayat-ayat Allah.  Jika anda yang membaca artikel ini masih belum menghafal Al Qur’an atau belum ada keinginan untuk berbuat demikian, diharapkan perkongsian ini mampu memupuk minat ke arah yang lebih baik. Jadikan Ramadan kali ini sebagai titik permulaan ke arah kehidupan yang lebih bermakna sebagai hamba Allah dengan menghafal kalam-Nya.

Rebutlah peluang Ramadan kali ini dengan meningkatkan interaksi kita dengan Al Qur’an, artikel kali ini adalah tulisan sahabatku  Khalifah Muhammad Ali, dialah sahabat yang memberikan inspirasi dan motivasi kepada aku untuk menghafal Al Qur’an, hanya Allah yang mampu membalas budi-baik beliau. Artikel tulisan beliau aku edit sikit (dengan izin) supaya sesuai dengan gaya bahasa Malaysia. الحمدلله ثم الحمد لله

Bagaimana cara berinteraksi dengan Al Qur’an?

Sejarah membuktikan bahwa kejayaan Islam pada masa lalu disebabkan Ummat Islam memiliki interaksi yang baik dengan Al Qur’an. Sejarah juga membuktikan bahwa keruntuhan kejayaan Islam disebabkan jauhnya Ummat Islam dari Al Qur’an. Menjadikan Al Qur’an sebagai pedoman akan membawa kepada kemuliaan, sedangkan meninggalkannya akan mengakibatkan kehinaan. Saat ini, kondisi Ummat Islam sedang jauh dari Al Qur’an. Hanya sedikit orang Islam yang mampu membaca Al Qur’an dengan betul. Hanya sedikit orang Islam yang memahami Al Qur’an. Yang mengamalkannnya? Pasti jumlahnya jauh lebih sedikit lagi. Bahkan, telah banyak orang Islam yang meninggalkan Al Qur’an. Jangankan untuk menghafalkannya dan memahaminya, membacanya saja mereka sudah tidak berminat lagi. Benarlah keluhan Nabi saw kepada Allah swt yang termaktub dalam Al Qur’an

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَـٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا

Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, Sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan, ditinggalkan”. [Al Furqan: 30]

Jauhnya Ummat Islam dari Al Qur’an mengakibatkan Ummat Islam terjerumus ke dalam lumpur kehinaan. Lihat saja di Malaysia, tidak ramai ummat Islam yang boleh dikategorikan sebagai mereka yang berjaya dan cemerlang dalam pencapaian mereka baik dari sudut pendidikan, kemasyarakatan, apatah lagi dalam ekonomi. Begitu juga dengan saudara kita di Indonesia, sebagai negara muslim terbesar di dunia, orang Islam digambarkan dengan imej miskin dan tertinggal. Kerana itu, jika ingin bangkit, maka tidak ada pilihan lain kecuali kembali kepada Al Qur’an.

Kembali kepada Al Qur’an bererti kita harus memperbaiki interaksi kita dengan Al Qur’an. Jadi, bagaimana cara berinteraksi dengan Al Qur’an? Berinteraksi dengan Al Qur’an tidaklah sulit. Kerana pada dasarnya berinteraksi dengan Al Qur’an adalah mudah, sebagaimana yang telah Allah janjikan dalam surah Al Qamar: 17, 22, 32.

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ

Dan Demi sesungguhnya! Kami telah mudahkan Al-Quran untuk menjadi peringatan dan pengajaran, maka adakah sesiapa yang mahu mengambil peringatan dan pelajaran (daripadanya)?

Cukuplah 5 (lima) perkara yang perlu dilakukan untuk berinteraksi dengan Al Qur’an, yaitu: membacanya, memahaminya, mengamalkannya, menghafalkannya, dan mendakwahkannya.

1. Membaca Al Qur’an

Membaca Al Qur’an adalah kunci untuk memahami Al Qur’an. Tanpa kemampuan membaca Al Qur’an dengan baik, mustahil bagi seseorang untuk dapat memahami Al Qur’an dengan baik. Ketidakmampuan membaca Al Qur’an dengan baik akan menyebabkan kurang sempurnanya ibadah solat seseorang. Oleh sebab itu, hukum membaca Al Qur’an dengan betul adalah wajib. Selain itu, membaca Al Qur’an dengan betul dan lancar merupakan salah satu ciri baiknya keimanan sesesorang.

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ أُولَـٰئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ ۗ وَمَن يَكْفُرْ بِهِ فَأُولَـٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Orang-orang yang telah Kami berikan Al Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. Dan barang siapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. [Al Baqarah: 121]

Bagi yang masih belum mampu membaca Al Qur’an, maka segeralah belajar membacanya dan memperelokkan bacaannya. Jangan sampai kita diejek sebagai “Ummatu Iqra’ laa taqra”, yaitu ummat yang wahyu pertamanya “bacalah”, tapi tidak boleh membaca kitabnya sendiri. Bagi yang sudah mampu membaca Al Qur’an dengan betul dan elok, maka bacalah Al Qur’an minimal 1 juz setiap harinya. Berdasarkan hadis:

Abdullah bin Amr r.a. berkata: Nabi saw. bersabda: Bacalah (khatamkan bacaan) Al-Qur’an dalam masa sebulan. Jawabku: Aku merasa kuat, sehingga Nabi saw. bersabda: Bacalah (khatamkan) dalam tujuh hari jangan kurang dari itu. (Bukhari & Muslim)

2. Memahami Al Qur’an

Orang yang pandai membaca Al Qur’an tapi tidak memahaminya seperti burung kakak tua yang pandai berkata-kata tapi tidak faham apa yang diucapkan oleh mulutnya sendiri. Memahami Al Qur’an dapat dilakukan dengan mengikuti pengajian tafsir Al Qur’an ataupun membaca kitab-kitab tafsir yang sudah banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu. Namun demikian cara ideal untuk memahami Al Qur’an adalah dengan cara mempelajari bahasa Arab. Bahkan banyak ulama yang mewajibkan belajar bahasa Arab. Berdasarkan kaedah usul fiqh,

مَا لا يتمُّ الواجب الاَّ به فهو واجب

“Perkara yang tanpanya kewajiban menjadi tidak sempurna, maka perkara itu menjadi wajib”.

Kerana pemahaman Al Qur’an tidak akan sempurna tanpa bahasa Arab, maka hukum belajar bahasa Arab menjadi wajib. Saudaraku kaum muslimin, tidak ada istilah terlambat untuk belajar bahasa Arab. Bagi yang belum berkesempatan belajar bahasa Arab, berdoalah kepada Allah SWT, semoga diberikan kesempatan untuk mempelajarinya suatu saat nanti, insya Allah.

3. Mengamalkan Al Qur’an

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللَّـهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

Patutkah mereka (bersikap demikian), tidak mahu memikirkan isi Al-Quran? kalaulah Al-Quran itu (datangnya) bukan dari sisi Allah, nescaya mereka akan dapati perselisihan Yang banyak di dalamnya. [ An-Nisa’ : 82]

Membaca dan memahami Al Qur’an saja tidaklah bermanfaat tanpa mengamalkannya.

—————-

Namanya Bairuha’. Begitu indah dan memikat hati. Sejuk, rimbun, luas, menghadap ke masjid Nabawi di Madinah. Dan yang menjadikannya lebih istimewa lagi adalah kerana Rasulullah s.a.w yang mulia pernah memasukinya kemudian meminum airnya yang sejuk. Bairuha’ adalah nama sebuah kebun kurma yang sangat dicintai Abu Thalhah, pemiliknya. Tapi tiba-tiba kebun yang begitu berprestij, lokasinya strategik dan mempunyai nilai sejarah yang tinggi itu menjadi tak bernilai sama sekali di mata Abu Thalhah ketika turun ayat berikut: “ Kalian sekali-kali tidak akan mencapai kebaikan, sebelum kalian menafkahkan dari sesuatu yang kalian cintai ” (Q.S. Ali Imran: 92) Sebaik mendengar ayat di atas, Abu Thalhah segera bergegas menuju Rasulullah kemudian dengan serta merta menyerahkan Bairuha’ beserta segala isinya kepada Rasulullah untuk dipergunakan sebagaimana apa yang diperintahkan Allah kepadanya. Rasulullah yang bijak memuji tindakan Abu Thalhah ini tetapi menyarankan agar Bairuha’ dibagi saja kepada kerabat Abu Thalhah yang lebih memerlukan. Maka dibagikanlah kebun itu kepada kerabat dan sepupu-sepupu Abu Thalhah yang jumlahnya sekitar 70 orang. Masing-masing mendapatkan 200 pohon kurma! Kisah ini diriwayatkan oleh sahabat Anas ra dan dicantumkan oleh Imam Nawawi dalam Bab ke-37 Riyadhus Shalihin yang ditulisnya. Cerita dan lokasi Bairuha’ telah dihuraikan dalam entri Cinta Bersemi di Maninah Al-Munawwarah

——————————

Kisah di atas memberikan gambaran bagaimana patuhnya para sahabat terhadap perintah-perintah Allah yang terdapat dalam Al Qur’an. Mereka mendengar dan mereka taat (سمعنا واطعنا). Inilah salah satu ciri orang beriman seperti digambarkan didalam ayat 285, surah Al Baqarah :

Rasul telah beriman kepada Al Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeza-bezakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat”. (Mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali”.

Sebaliknya salah satu ciri dari orang kafir adalah ketika mendengar Al Qur’an lalu mereka ingkar ( سمعنا وعصينا) [Al Baqarah: 93]

dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkat bukit (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): “Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah!” mereka menjawab: “Kami mendengar tetapi tidak mentaati”. dan telah diresapkan ke dalam hati mereka itu (kecintaan menyembah) anak lembu kerana kekafirannya. Katakanlah: “Amat jahat perbuatan yang telah diperintahkan imanmu kepadamu jika betul kamu beriman (kepada Taurat).

Respon yang luar biasa terhadap Al Qur’an yang telah ditunjukkan oleh para sahabat merupakan bukti kebenaran iman. Kerana, iman tidak hanya dilafazkan dengan lisan, tapi juga diyakini oleh hati dan DIAMALKAN dalam perbuatan. Dan sesungguhnya, sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak mengamalkan ayat-ayat Allah SWT. Berdasarkan hadis:

“Sebaik-baik kamu adalah yang belajar Al Qur’an dan YANG MENGAMALKANNYA” (HR Bukhari)

Sesungguhnya Nabi Muhammad SAW telah menunjukkan contoh teladan yang mulia, sehingga beliau digambarkan oleh isterinya Aisyah r.a sebagai, “Kaana khuluquhul Qur’an” (Al Qur’an yang berjalan).

4. Menghafal Al Qur’an

Banyak hadis Rasulullah saw yang mendorong untuk menghafal Al Qur’an, sehingga hati seorang individu muslim tidak kosong dari sesuatu bagian dari kitab Allah swt. Seperti dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas (r.a),

“Orang yang tidak mempunyai hafalan Al Qur’an sedikit pun adalah seperti rumah buruk yang akan runtuh.” (HR. Tirmidzi)

Berikut adalah Fadhail Hifzhul Qur’an (Keutamaan menghafal Qur’an) yang dijelaskan Allah dan Rasul-Nya, agar kita lebih ghairah dan bermotivasi untuk menghafal Al Qur’an.

Fadhail Dunia

1. Hifzhul Qur’an merupakan nikmat rabbani yang datang dari Allah. Bahkan Allah membolehkan seseorang memiliki rasa iri hati terhadap para ahlul Qur’an, “Tidak boleh seseorang berkeinginan kecuali dalam dua perkara, menginginkan seseorang yang diajarkan oleh Allah kepadanya Al Qur’an kemudian ia membacanya sepanjang malam dan siang, sehingga tetangganya mendengar bacaannya, kemudian ia berkata, ‘Andaikan aku diberi sebagaimana si fulan diberi, sehingga aku dapat berbuat sebagaimana si fulan berbuat’” (HR. Bukhari).

Bahkan ni’mat mampu menghafal Al Qur’an sama dengan ni’mat kenabian, bezanya dia tidak mendapat wahyu, “Barangsiapa yang membaca (hafal) Al Qur’an, maka sungguh dirinya telah menaiki darjat kenabian, hanya saja tidak diwahyukan kepadanya.” (HR. Hakim)

2. Al Qur’an menjanjikan kebaikan, berkah, dan kenikmatan bagi penghafalnya “Yang terbaik dikalangan kamu adalah yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya” (HR. Bukhari dan Muslim)

3. Seorang hafizh Al Qur’an adalah orang yang mendapat tasyrif nabawi (penghargaan khusus dari Nabi SAW). Di antara penghargaan yang pernah diberikan Nabi SAW kepada para sahabat penghafal Al Qur’an adalah perhatian yang khusus kepada para syuhada Uhud yang hafizh Al Qur’an. Nabi saw mendahulukan pemakamannya. “Adalah nabi mengumpulkan di antara dua orang syuhada Uhud kemudian beliau bersabda, “Manakah di antara keduanya yang lebih banyak hafal Al Qur’an, ketika ditunjuk kepada salah satunya, maka beliau mendahulukan pemakamannya di liang lahad.” (HR. Bukhari).

Pada kesempatan lain, Nabi SAW memberikan amanat pada para hafizh dengan mengangkatnya sebagai pemimpin delegasi. Dari Abu Hurairah ia berkata, “Telah mengutus Rasulullah SAW sebuah delegasi yang banyak jumlahnya, kemudian Rasul menguji hafalan mereka, kemudian satu per satu disuruh membaca apa yang sudah dihafal, maka sampailah pada sahabat yang paling muda usianya, beliau bertanya, “Surah apa yang kau hafal? Ia menjawab,”Aku hafal surah ini, surath ini, dan surah Al Baqarah.” Benarkah kamu hafal surah Al Baqarah?” Tanya Nabi lagi. Shahabi menjawab, “Benar.” Nabi bersabda, “Berangkatlah kamu dan kamulah pemimpin delegasi.” (HR. At-Turmudzi dan An-Nasa’i).

Kepada hafizh Al Qur’an, Rasul SAW menetapkan berhak menjadi imam solat berjama’ah. Rasulullah SAW bersabda, “Yang menjadi imam suatu kaum adalah yang paling banyak hafalannya.” (HR. Muslim)

4. Hafizh Qur’an adalah keluarga Allah yang berada di atas bumi. “Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia, para sahabat bertanya, “Siapakah mereka ya Rasulullah?” Rasul menjawab, “Para ahli Al Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan pilihan-pilihan-Nya.” (HR. Ahmad).

5. Menghormati seorang hafizh Al Qur’an bererti mengagungkan Allah. “Sesungguhnya termasuk mengagungkan Allah menghormati orang tua yang muslim, penghafal Al Qur’an yang tidak melampaui batas (di dalam mengamalkan dan memahaminya) dan tidak menjauhinya (enggan membaca dan mengamalkannya) dan Penguasa yang adil.” (HR. Abu Daud)

Fadhail Akhirat

1. Al Qur’an akan menjadi penolong (syafa’at) bagi penghafalnya. Dari Abi Umamah ra. ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Bacalah olehmu Al Qur’an, sesungguhnya ia akan menjadi pemberi syafa’at pada hari kiamat bagi para pembacanya (penghafalnya).” (HR. Muslim)

2. Hifzhul Qur’an akan meninggikan darjat manusia di syurga. Dari Abdillah bin Amr bin ‘Ash dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Akan dikatakan kepada shahib Al Qur’an, “Bacalah dan naiklah serta tartilkan sebagaimana engkau dulu mentartilkan Al Qur’an di dunia, sesungguhnya kedudukanmu di akhir ayat yang kau baca.” (HR. Abu Daud dan Turmudzi).

Para ulama menjelaskan erti shahib Al Qur’an adalah orang yang hafal semuanya atau sebagiannya, selalu membaca dan mentadabur serta mengamalkan isinya dan berakhlak sesuai dengan tuntunannya.

3. Para penghafal Al Qur’an bersama para malaikat yang mulia dan taat. “Dan perumpamaan orang yang membaca Al Qur’an (sedangkan ia hafal ayat-ayatnya) bersama para malaikat yang mulia dan taat.” (Muttafaqun’alaih)

4. Bagi para penghafal kehormatan berupa tajul karamah (mahkota kemuliaan). Mereka akan dipanggil, “Dimana orang-orang yang tidak terlena oleh menggembala kambing dari membaca kitabku?” Maka berdirilah mereka dan dipakaikan kepada salah seorang mereka mahkota kemuliaan, diberikan kepadanya kejayaan dengan tangan kanan dan kekekalan dengan tangan kirinya. (HR. At-Tabrani)

5. Kedua orang tua penghafal Al Qur’an mendapat kemuliaan. “Siapa yang membaca Al Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, “Mengapa kami dipakaikan jubah ini?” Dijawab,”Kerana kamu berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Qur’an.” (HR. Al-Hakim)

6. Penghafal Al Qur’an adalah orang yang paling banyak mendapat pahala. Untuk sampai pada tahap hafalan yang berkekalan tanpa ada yang lupa, seseorang perlu melakukan pengulangan yang banyak, baik ketika sedang atau selesai menghafal. Dan begitulah sepanjang hayatnya sampai bertemu dengan Allah. Allah telah menjanjikan pahala untuk setiap huruf Al Qur’an yang dibaca. “Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al Qur’an maka baginya satu hasanah, dan hasanah itu akan dilipatgandakan sepuluh kali. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf, namun Alif itu satu huruf, Lam satu huruf dan Mim satu huruf.” (HR. At-Turmudzi)

5. Mendakwahkan Al Qur’an

Jika seseorang telah pandai membaca Al Qur’an, mampu memahaminya, mengamalkannya, dan menghafalkannya, maka insya Allah Allah dia telah menjadi orang yang soleh secara peribadi. Namun kesolehan peribadi tentu saja belum cukup, harus diiringi dengan kesolehan secara sosial. Kerana itu, menjadi wajib baginya untuk mendakwahkan Al Qur’an. Kerana, pada dasarnya hukum berdakwah adalah wajib bagi setiap mukmin

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. [An Nahl: 125]

Selain itu, sesungguhnya orang yang hanya ingin soleh untuk dirinya sendiri maka dia termasuk orang yang rugi, Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasihat menasihati atas kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran (Al Ashr: 2-3)

Wallahua’lam

Khalifah Muhammad Ali

Mahasiswa Mahad Khadim Al Haramain Asy Syarifain (LIPIA), Banda Aceh

19 Mac 2010/3 Rabiul Akhir 1431 H. Jam 10.09 a.m

Post Navigation

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: